Apa Dampak Suku Bunga Tinggi The Fed ke RI?

AKURAT.CO Federal Reserve (The Fed) dan para investor global awalnya mengira bahwa 2024 akan menjadi tahun dengan banyak pemotongan suku bunga. Namun, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan membuat ekspektasi tersebut cepat memudar.
Baru-baru ini Gubernur The Fed (Bank Sentral AS) Jerome Powell menyatakan bahwa akan ada hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada 2024, dengan lebih banyak lagi diperkirakan pada 2025. Secara tidak langsung hal tersebut menegaskan komitmen para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi menekan inflasi.
Oleh karena itu, para trader kini memperkirakan hanya satu atau dua penurunan suku bunga tahun ini, jauh dari enam penurunan yang diperkirakan pada awal tahun dan tiga penurunan yang diproyeksikan oleh pejabat Fed pada bulan Maret lalu. Sehingga beberapa investor dan ekonom bahkan berpendapat bahwa penurunan suku bunga mungkin tidak akan terjadi sama sekali tahun ini.
Baca Juga: Malam Ini Gubernur The Fed Rapat, Bakal Kirim Sinyal Dovish?
Penundaan pelonggaran kebijakan moneter dan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama memiliki dampak besar bagi perekonomian AS dan dunia.
Lalu apa yang membuat inflasi tetap tinggi? Dilansir Bloomberg, saat inflasi mencapai puncaknya di atas 7% di tahun 2022, hal tersebut mengakibatkan meroketnya harga barang dan jasa secara luas.
Namun, dengan inflasi utama kembali di bawah 3%, kenaikan harga kini didorong oleh kelangkaan perumahan yang berlanjut. Harga komoditas dan premi asuransi mobil juga berkontribusi pada inflasi yang tetap di atas target 2% Fed.
Beberapa pihak menyalahkan Powell atas pemotongan suku bunga yang terlalu cepat, yang memicu optimisme di pasar keuangan dan meningkatkan aktivitas ekonomi. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai faktor-faktor tersebut.
1. Perumahan
Sektor ini menyumbang sekitar sepertiga dari indeks harga konsumen dan terbukti menjadi kategori yang paling sulit diatasi. Meski beberapa pengukuran menunjukkan penurunan pertumbuhan sewa, hal ini belum tercermin dalam IHK.
2. Harga Energi
Harga energi, khususnya minyak, naik di kuartal pertama setelah mengalami penurunan hampir sepanjang tahun lalu. Setiap eskalasi dalam konflik di Timur Tengah dapat mendorong harga lebih tinggi lagi, berdampak pada harga bensin dan listrik.
3. Biaya Asuransi
Biaya asuransi penyewa dan pemilik rumah meningkat dengan cepat, sementara asuransi mobil naik 20,3% pada tahun ini hingga Mei, karena teknologi mobil yang semakin canggih dan mahal untuk diperbaiki.
Powell memicu spekulasi pasar terhadap penurunan suku bunga dengan mengatakan pada Desember bahwa penurunan suku bunga "jelas" menjadi topik diskusi di The Fed. Efek komentar tersebut setara dengan penurunan suku bunga sebesar 0,14 poin persentase dan menambah sekitar setengah poin persentase pada IHK tahun ini, menurut Anna Wong, kepala ekonom AS di Bloomberg Economics.
Impilikasi Higher for Longer
Suku bunga acuan The Fed mempengaruhi biaya pinjaman di seluruh spektrum suku bunga. Sinyal Powell bahwa The Fed mungkin mempertahankan suku bunga pada level saat ini (5,25 persen hingga 5,5%) lebih lama berarti pinjaman untuk rumah dan mobil akan terus mahal dibandingkan sebelum The Fed mulai menaikkan suku bunga pada tahun 2022.
Rata-rata suku bunga KPR di AS telah bertahan di atas 7% selama dua bulan terakhir. Biaya pembiayaan yang tinggi ini menghambat momentum di pasar perumahan karena calon pembeli menunda pembelian hingga biaya pembiayaan mereda.
Selain itu, inventaris tetap rendah karena banyak pemilik rumah tidak ingin melepaskan hipotek murah yang mereka dapatkan ketika suku bunga acuan mendekati nol, sehingga menjaga harga jual tetap tinggi.
Bagaimana kebijakan The Fed mampu mempengaruhi seluruh dunia? Terlepas dari sikap The Fed, beberapa bank sentral dunia melanjutkan penurunan suku bunga. Minggu lalu, Bank of Canada memimpin G7 dalam menurunkan biaya pinjaman, diikuti oleh Bank Sentral Eropa.
Jika bank-bank tersebut, bersama dengan Bank of England dan Reserve Bank of Australia, melanjutkan siklus pelonggaran mereka, hal ini berisiko menurunkan nilai mata uang mereka, menaikkan harga impor, dan merusak kemajuan dalam menurunkan inflasi. Namun, tidak melonggarkan kebijakan berisiko menghambat pertumbuhan.
Bank Indonesia, misalnya, harus menaikkan suku bunga pada Oktober dan April setelah pelemahan mata uang yang berkepanjangan. Sebab bank sentral harus melakukan intervensi di pasar mata uang karena rupiah melemah di bawah Rp16.000 untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam sekarang memperkirakan penurunan suku bunga yang lebih sedikit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










