Akurat

Redam Dampak Ekonomi, BI Waspadai Ketidakpastian Global

Silvia Nur Fajri | 22 Mei 2024, 15:21 WIB
Redam Dampak Ekonomi, BI Waspadai Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) terus mengamati tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna memitigasi dampak negatif yang bisa memengaruhi perekonomian Indonesia.

Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, risiko terkait arah penurunan dan dinamika ketegangan geopolitik global perlu terus dicermati. 

"Ke depan, risiko terkait arah penurunan dan dinamika ketegangan geopolitik global tetap perlu dicermati," ungkap Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Mei 2024 di Jakarta, Rabu (22/5/2024).

Baca Juga: DPR Sebut Stabilitas Transisi Pemerintahan Kunci Atasi Gejolak Ekonomi Global

Kemudian, risiko-risiko tersebut dapat kembali meningkatkan ketidakpastian global, yang pada akhirnya bisa menekan mata uang negara berkembang, menambah tekanan inflasi, dan menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia. 

"Kondisi ini memerlukan respons kebijakan yang kuat untuk memitigasi dampak negatif dari rambatan ketidakpastian global tersebut terhadap perekonomian di negara-negara berkembang termasuk Indonesia," tambah Perry.

Selain itu, Ia juga menyebutkan bahwa ketidakpastian di pasar keuangan global masih tinggi sementara ekonomi Amerika Serikat terus menunjukkan kekuatan.

Pertumbuhan ekonomi AS telah cepat berkat permintaan dalam negeri yang meningkat dan peningkatan ekspor. Meskipun inflasi AS pada bulan April 2024 tetap tinggi, namun pertumbuhannya melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya, Maret 2024.

"Perkembangan inflasi tersebut meningkatkan kemungkinan penurunan Fed Funds Rate pada akhir 2024," ujarnya.

Lebih lanjut, Perry menambahkan bahwa kondisi global saat ini berdampak positif pada tertahannya penguatan dolar AS dan menurunnya yield US Treasury dibandingkan pertengahan April 2024, meskipun masih berada pada level tinggi. "Aliran modal ke negara berkembang kembali terjadi dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukarnya," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah selalu menyiapkan skenario untuk meredam dampak gejolak geopolitik global terhadap perekonomian Indonesia, terutama di sektor riil. 

"Skenario, pemerintah selalu siapkan. Namun sekarang kita masih menunggu perkembangan (konflik Iran-Israel)," kata Airlangga belum lama ini.

Serta, Airlangga menambahkan bahwa potensi eskalasi antara Iran dan Israel belum terlihat signifikan, dan pemerintah Indonesia terus mencermati perkembangan tersebut. Menurutnya, tingkat kepercayaan investor terhadap ketahanan ekonomi Indonesia masih tinggi. "Perekonomian nasional juga diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5 persen pada tahun ini," jelas Airlangga. 

Ia juga menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh di atas perkembangan ekonomi global yang diperkirakan tumbuh 3,2% pada 2024. "Ekonomi global diperkirakan flatten atau tetap, sedangkan Indonesia 5,1 persen di 2025. Negara berkembang pun rata-rata tumbuh 4,2 persen," ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.