Kuartal II-2024, Kemenkeu Waspadai 5 Tantangan Ekonomi Global

AKURAT.CO Tekanan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari gejolak global di kuartal II tahun ini belum usai. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami tekanan yang signifikan pada kuartal kedua tahun ini.
Menurutnya, setidaknya ada 5 faktor penyebab tekanan ini, meliputi potensi eskalasi konflik Timur Tengah yang masih tinggi, kebijakan suku bunga acuan bank sentral yang cenderung tinggi dalam jangka waktu yang panjang, stagnasi pertumbuhan ekonomi global, aktivitas manufaktur global yang belum pulih sepenuhnya serta harga komoditas yang masih volatile usai rantai pasok terdisrupsi.
"Tekanan tersebut mulai dari harga komoditas yang akan terus bergejolak, tekanan inflasi tinggi, hingga kebijakan suku bunga acuan bank sentral di level yang tinggi dalam waktu lama atau higher for longer," ungkap Sri Mulyani dalam slide APBN KiTA, dikutip Sabtu (27/4/2024).
Baca Juga: Menkeu Ungkap Anggaran Pembangunan IKN Tembus Rp72,1 T dalam 3 Tahun Terakhir
Ditambahkan, tekanan ini juga terutama dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) yang kemungkinan akan tetap tinggi. Hal ini disebabkan oleh tingkat inflasi yang masih tinggi di AS.
Lalu, situasi ekonomi global yang melemah serta tekanan dari harga komoditas, inflasi, dan suku bunga kemungkinan akan berdampak besar terhadap sektor manufaktur secara global.
Namun, Indonesia masih dianggap berada dalam kondisi yang relatif baik dan ekspansif menurut Sri Mulyani.
"Pertumbuhan ekonomi global akan stagnan. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2024 berdasarkan proyeksi IMF adalah 3,2 persen alias tak berubah dari kondisi pertumbuhan 2023 yang juga sama 3,2 persen," imbuhnya.
Meskipun demikian, Sri Mulyani menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih stabil dengan proyeksi sekitar 5%. IMF memprediksi bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami peningkatan sedikit pada tahun 2025, mencapai 5,1%.
Stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tekanan yang ada dikatakan disebabkan oleh aktivitas manufaktur yang masih cukup kuat, yang tercermin dari indeks PMI Manufaktur yang masih di atas angka 50 pada bulan Maret 2024, menunjukkan ekspansi.
Meskipun demikian, Sri Mulyani mengingatkan bahwa penting untuk tetap waspada, terutama terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Meskipun Bank Indonesia telah meningkatkan suku bunga acuan pada April 2024, rupiah masih terus melemah terhadap dolar AS.
Mengenai hal ini, Sri Mulyani menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat yang kemungkinan tidak akan terjadi dalam tahun ini.
Situasi ini menyebabkan pergerakan yield US Treasury terus meningkat dan dolar AS menguat, yang pada gilirannya akan menyebabkan pelemahan mata uang negara-negara lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










