Akurat

Mitigasi Dampak Konflik Iran-Israel, Pengamat Sarankan Pemerintah Fokus ke 3 Hal

Silvia Nur Fajri | 19 April 2024, 13:51 WIB
Mitigasi Dampak Konflik Iran-Israel, Pengamat Sarankan Pemerintah Fokus ke 3 Hal

AKURAT.CO Pada Hari Sabtu malam, 13 April 2024, Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel. Kejadian ini menambah rumit kondisi global ketika konflik Rusia-Ukraina juga belum mendapatkan jalan tengah perdamaian.

Konflik antarnegara yang semakin memanas akan memberikan derita secara ekomoni dan menambah panjang daftar scaring effect pasca pandemi yang dalam tahap pemulihan. 

"Dampak secara global akan memberikan pengaruh trickle down effect terhadap ekonomi nasional," ujar Analis Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani dalam keterangan tertulis, Jumat (19/4/2024).

Baca Juga: Dampak Konflik Iran-Israel, Menko Airlangga: Indonesia Punya Resiliensi

Dalam konteks ekonomi nasional, Ajib menilai pemerintah perlu fokus dalam 3 (tiga) hal utama untuk penguatan ekonomi dalam negeri. 

"Yaitu hilirisasi, orientasi ekspor dan substitusi impor, serta peningkatan kualitas investasi yang bisa lebih menyerap tenaga kerja," tutur Ajib.

Dengan beberapa indikator yang ada, ekonomi nasional disebut masih cenderung bagus dan bertahan positif dalam ketidakpastian global, sepanjang pemerintah konsisten mendorong program-program yang pro dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Namun perlu dicermati dengan baik dan dimitigasi resiko yang membawa dampak secara langsung, karena bersamaan dengan konflik politik global ini, rupiah juga terus mengalami penurunan nilai mencapai Rp16.000 per dolar. 

Bahkan Menteri BUMN, Erick Thohir, memprediksi dolar akan cenderung lama bertengger di atas Rp16.000 dan menginstruksikan BUMN untuk membeli dolar.

Kepanikan kementerian BUMN ini diredam oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang menyatakan bahwa Indonesia masih mempunyai cadangan devisa yang cukup kuat, lebih dari USD144 miliar. "Menjaga psikologi pasar seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi," tambahnya.

Kondisi konflik geopolitik dan ketidakstabilan ekonomi global, menimbulkan paling tidak 2 (dua) hal yang harus dimitigasi. "Pertama, terganggunya rantai pasok ekonomi, yang akan mengakibatkan kenaikan harga atas komoditas impor, termasuk bahan baku, minyak, maupun ongkos logistik," jelas Ajib.

Hal ini akan memicu kenaikan HPP (Harga Pokok Penjualan) sehingga akan mengeskalasi inflasi. "kedua, kebijakan ekonomi Amerika imbas kondisi geopolitik yang ada, yaitu cenderung akan menahan tingkat suku bunga The Fed," ucapnya. 

Sebelumnya pasar mempunyai ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan. Selanjutnya perlu kita lihat indikator-indikator ekonomi makro Indonesia, untuk mengukur ketahanan dalam mengahadapi ketidakpastian global ini. 

Menurut Ajib, paling tidak ada 4 (empat) hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, tren pertumbuhan ekonomi. Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang cukup agresif pasca pandemi, bahkan di atas 5%. Tahun 2023 mencapai angka 5,05% dan diproyeksikan akan mencapai kisaran 5,2% secara agregat di akhir tahun 2024. 

Kedua, Inflasi. Dengan selisih ekspor-impor yang masih positif, potensi eskalasi inflasi akibat bahan baku impor, diprediksi masih akan dalam rentang daya tahan inflasi, dan sampai akhir tahun 2024 tidak melebihi 3,5%.

Ketiga, potensi ekonomi Indonesia dalam hal Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita. Menurutnya, pada tahun 2023, Indonesia mencatat PDB sebesar Rp20.892,4 triliun, yang menempatkannya sebagai negara peringkat 16 di dunia. Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 280 juta orang, menjadikannya negara peringkat 4 di dunia berdasarkan jumlah penduduk.

Dengan demikian, PDB per kapita Indonesia mencapai Rp75 juta atau setara dengan USD4.919. Ajib menekankan bahwa meskipun Indonesia masih berada di peringkat 16 dalam hal PDB secara keseluruhan, namun dengan jumlah penduduk yang merupakan peringkat 4 di dunia, potensi ekonominya masih sangat besar.

Keempat, keseimbangan primer keuangan negara. kondisi neraca keuangan negara masih dalam keseimbangan primer yang positif, artinya total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran hutang, masih positif.

Hanya, yang perlu dicermati adalah, ketika pemerintah membuat proyeksi nilai tukar rupiah dalam kisaran Rp15.000, maka pembayaran hutang luar negeri akan mengalami kenaikan, ketika rupiah terus melemah dibandingkan dolar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.