Rupiah Kembali Turun 27 Poin ke Rp15.719 Jelang Rilis Data PCE AS Nanti Malam

AKURAT.CO Rupiah kembali ditutup melemah 27 poin ke level Rp15.719 pada perdagangan Kamis, 29 Februari 2024 jelang rilis data indeks harga PCE ukuran inflasi pilihan The Fed nanti malam.
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.
Dari eksternal, fokus saat ini tertuju pada data PCE AS. Angka tersebut diperkirakan akan menegaskan kembali bahwa inflasi AS masih stabil di bulan Januari, terutama menyusul angka inflasi konsumen yang lebih tinggi dari perkiraan pada bulan tersebut.
Baca Juga: Rupiah Anjlok 46 Poin ke Rp15.892 Usai Rilis Indeks Consumer Confident AS yang Melemah
Angka tersebut juga muncul setelah pejabat Fed John Williams dan Raphael Bostic mengatakan bank sentral perlu melakukan lebih banyak upaya untuk mencapai inflasi guna memenuhi target bank sebesar 2%.
"Komentar mereka, yang muncul setelah serangkaian peringatan serupa dari pejabat lain, menambah keraguan atas ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada awal tahun 2024," ujar Ibrahim dikutip Kamis (29/2/2024).
Selain itu, anggota BoJ Hajime Takata mengatakan pada hari Kamis bahwa bank sentral harus mempertimbangkan jalan keluar dari kebijakan ultra-longgarnya. Takata menyerukan diakhirinya pengendalian kurva imbal hasil dan suku bunga negatif BoJ, dengan alasan kemajuan dalam mencapai target inflasi bank sentral sebesar 2%.
Komentar Takata memicu spekulasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga secepatnya pada bulan April – sebuah gagasan yang sudah ada setelah data inflasi indeks harga konsumen yang lebih kuat dari perkiraan dirilis awal pekan ini.
Namun data perekonomian lainnya untuk bulan Januari khususnya penjualan ritel dan produksi industri masih memberikan gambaran yang moderat mengenai perekonomian Jepang, yang secara tak terduga telah jatuh ke dalam resesi pada kuartal keempat. Kelemahan ekonomi berpotensi menunda tindakan awal BoJ.
Sentimen Internal Rupiah
Dari internal, inflasi pada Februari 2024 diperkirakan meningkat, baik secara tahunan maupun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Inflasi Februari 2024 diperkirakan akan mencapai 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) atau 2,62% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat 0,04% mtm atau 2,57% yoy.
Inflasi pada periode tersebut akan didorong oleh inflasi pada komponen inti dan harga bergejolak (volatile food). Inflasi inti diperkirakan akan mencapai 1,7% yoy, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,68% yoy.
Sementara itu, inflasi harga bergejolak akan dipengaruhi oleh kenaikan harga pangan kebutuhan pokok, diantaranya harga beras yang naik 3,8% mtm, cabai merah 11,3% mtm, telur 1,7% mtm, daging ayam 0,7% mtm, dan minyak goreng 0,6% mtm.
Sedangkan sebagian komoditas pangan terutama beras masih dipengaruhi oleh fenomena El Nino, yang mengurangi pasokan pangan dalam negeri selama periode akhir menjelang musim panen. Selain itu, menurutnya kebijakan impor juga agak terhambat oleh beberapa negara produsen beras lainnya yang menerapkan pembatasan ekspor makanan. Cuaca ekstrem pun mengganggu jalur distribusi pangan.
Di sisi lain, Inflasi inti yang cenderung stabil hingga Februari 2024 mengindikasikan ekspektasi inflasi terjangkar dengan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini. Namun, inflasi umum pada akhir 2024 diperkirakan akan berkisar 3,0-3,5% yoy.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










