Akurat

Rupiah Ditutup Turun 15 Poin ke Rp15.645

M. Rahman | 27 Februari 2024, 18:00 WIB
Rupiah Ditutup Turun 15 Poin ke Rp15.645

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 15 poin ke level Rp15.645 pada perdagangan Selasa (27/2/2024) saat pasar masih menanti data PCE AS.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, beberapa komentar dari pejabat Federal Reserve memperkuat gagasan ini, karena mereka memberi isyarat bahwa bank tersebut tidak terburu-buru untuk mulai melonggarkan kebijakannya karena inflasi yang tinggi.

Baca Juga: Pasar Nanti Data PCE AS, Rupiah Susut 32 Poin ke Rp15.630

"Dolar tetap mendekati level tertinggi tiga bulan karena gagasan ini," ujar Ibrahim dikutip Selasa (27/2/2024).

Ditambahkan, fokus sat ini data indeks harga PCE yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed akan dirilis pada hari Kamis ini, dan diperkirakan akan menunjukkan inflasi yang masih stagnan, sehingga memberikan sedikit dorongan bagi The Fed untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga.

"Sebelumnya, pembacaan kedua data PDB kuartal keempat diperkirakan akan menunjukkan sedikit perlambatan pada perekonomian AS, namun tidak sampai pada titik di mana The Fed akan terdorong untuk melakukan pelonggaran kebijakan," imbuh Ibrahim.

Selain itu, Inflasi indeks harga konsumen sedikit lebih tinggi dari perkiraan untuk bulan Januari. Meskipun angka tersebut masih menunjukkan penurunan inflasi, hal ini memperhitungkan meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga secepatnya pada bulan April.

BoJ diperkirakan akan mengakhiri pengendalian kurva imbal hasil dan kebijakan suku bunga negatifnya pada tahun ini, karena inflasi yang tinggi berpotensi memberi bank sentral lebih banyak dorongan untuk melakukan hal tersebut secepatnya.

Namun memburuknya kondisi perekonomian di Jepang berpotensi menunda rencana BoJ, terutama karena perekonomian secara tak terduga jatuh ke dalam resesi pada kuartal keempat.

Sentimen Internal Rupiah 

Dari internal, pelaku pasar terus mengamati perkembangan utang pemerintah yang terus melonjak. Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang pemerintah pada Januari 2024 mencapai Rp8.253,09 triliun atau setara dengan 38,75% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Besaran utang pada awal 2024 kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Posisi utang pada awal tahun tersebut kembali meningkat jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2023 yang sebesar Rp8.114,69 triliun.

Rasio utang yang tercatat pada Januari 2024 masih di bawah batas aman 60% PDB sesuai UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara serta lebih baik dari yang telah ditetapkan melalui Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah 2024-2027 di kisaran 40%.

Jika dirinci, mayoritas utang pemerintah pada Januari 2024 tercatat berasal dari utang dalam negeri dengan proporsi 71,60%. Sementara berdasarkan instrumen, komposisi utang pemerintah sebagian besar berupa SBN yang mencapai 88,19%.

Lebih lanjut, per akhir Januari 2024, lembaga keuangan memegang sekitar 45,9% kepemilikan SBN domestik, terdiri atas perbankan 27,4% dan perusahaan asuransi dan dana pensiun 18,5%. Kepemilikan SBN domestik oleh BI tercatat sekitar 18,7% yang digunakan sebagai instrumen pengelolaan moneter.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa