Akurat

Jadi Penentu Buat Pemilih Muda, Belum Ada Capres yang Tawarkan Program Konkret Lapangan Kerja

Silvia Nur Fajri | 7 Februari 2024, 15:44 WIB
Jadi Penentu Buat Pemilih Muda, Belum Ada Capres yang Tawarkan Program Konkret Lapangan Kerja

AKURAT.CO Ekonom menyayangkan belum ada capres yang menawarkan program konkret terkait pembukaan lapangan kerja baru. Padahal faktor tersebut dininail jadi penentu untuk para pemilih muda termasuk juga swing atau undecided voters.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyoroti pentingnya program lapangan kerja bagi usia muda di Indonesia.

Menurut Bhima, masalah utama saat ini adalah tingkat pengangguran usia muda di Indonesia yang merupakan yang tertinggi di ASEAN, mencapai 13%. Hal ini menunjukkan bahwa banyak anak muda mengalami pengangguran meskipun telah lulus dari perguruan tinggi.

Baca Juga: Capres Simak, Begini Cara Entaskan Kemiskinan dan Ciptakan Lapangan Kerja yang Diinginkan Masyarakat

"Ya sebenarnya program lapangan kerja bagi usia muda cukup penting. Masalah utama sekarang adalah tingkat pengangguran usia muda di Indonesia adalah tertinggi di ASEAN atau sebesar 13 persen. Artinya banyak anak muda menganggur. Lulusan perguruan tinggi juga tidak menjamin mendapat pekerjaan dengan mudah," kata Bhima kepada Akurat.co, Rabu (7/2/2024).

Bhima juga menggarisbawahi bahwa isu lapangan kerja menjadi salah satu pertimbangan penting bagi anak muda dalam memilih pemimpin yang tepat. 

Sayangnya kebanyakan program yang ditawarka ketiga capres hanya berupa jargon tanpa adanya gebrakan konkret. Meskipun pemerintah menetapkan target lapangan kerja yang ambisius, seperti 19 hingga 20 juta lapangan kerja, namun belum ada langkah nyata yang diambil.

"Memang isu soal masalah lapangan kerja itu menjadi salah satu pertimbangan untuk bisa memilih pemimpin yang tepat begitu ya dari perspektif anak muda. Sayangnya itu (program) hanya jargon gitu ya target 17 jutam 119 juta, ada yang 20 juta lapangan kerja, masih target yang sifatnya sangat makro, tapi belum ada gebrakan," imbuhnya.

Bhima menggaris bawahi bahwa program yang ditawarkan ketiga capres terkait ketenagakerjaan hanya melanjutkan kebijakan pemerintah yang ada sekarang. Padahal seharusnya ada program yang lebih spesifik yang ditawarkan.

Menurut Bhima, dibutuhkan program-program spesifik yang dapat memberikan solusi nyata terhadap masalah lapangan kerja. Salah satunya adalah melalui pemanfaatan tenaga kerja di sektor pembangkit energi terbarukan, seperti pembangunan sekolah vokasi khusus untuk menghasilkan tenaga kerja yang berkualifikasi di bidang energi terbarukan.

Selain itu, Bhima juga menyoroti pentingnya revisi Undang-Undang Cipta Kerja. "Kemudian juga kalau ingin merevisi undang undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang disampaikan ya oleh Anies dan Ganjar, belum konkret," tegasnya. 

Dicontohkan, program yang diusung oleh pihak tertentu seperti calon presiden Prabowo Subianto, masih bertentangan dengan upaya membuka lapangan kerja.

Hal ini membuat banyak pemilih muda merasa skeptis dan menilai program tersebut lebih banyak berkutat pada gimik dan hiburan yang tidak menjawab esensi dari kebutuhan lapangan kerja yang diinginkan oleh pemilih muda.

"Program membuka lapangan kerja Prabowo masih sangat kontradiksi dari apa yang disampaikan karena itu banyak pemilih muda yang skeptis dan selain itu terlalu banyak gimmick, slapstick terlalu banyak pertunjuk yang tidak menjawab esensi dari kebutuhan dari pemilih muda. Mintanya lapangan kerja dijawab dengan joget," contohnya.

Sebelumnya Pengamat Kebijakan Publik dan Direktur Kasimo Institute, Edward Wirawan mengatakan besarnya daftar pemilih tetap (DPT) pemilih muda berkait kelindan dengan bonus demografi dan masalah pengangguran.

Mengacu data KPU, dari total 204,8 juta DPT, generasi mudah yang diwakili gen Z (46,8 juta pemilih) dan Y (68,8 juta pemilih) atau millenial mewakili 56,45% dari total DPT setara 115,6 juta pemilih. Jumlah tersebut juga bisa berkurang dengan adanya swing atau undecided voters.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2023 sendiri menunjukan sekitar 65% dari 7,86 juta jiwa angka pengangguran adalah gen Z dan milenial. Maka isu ketenagakerjaan dan pemilih muda menjadi komoditas paling seksi dalam narasi kampanye.

Berbanding lurus dengan itu, Center For Strategic and International Studies (CSIS) dalam survei September 2022 silam merilis poin kesejahteraan masyarakat dan lapangan kerja paling menonjol bagi pemilih muda. Isu ketenagakerjaan bagi pemilih muda menjadi prioritas di atas isu lainnya seperti demokrasi dan isu hukum.

"Secara konsep, bonus demografi seharusnya memberi keuntungan bagi kemajuan ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja. Tetapi yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, setidaknya sampai saat ini. Masalah pengangguran (terutama di kalangan gen Z dan milenial) dan kemiskinan akan berimplikasi pada persoalan sosial," ucap Edward.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.