Akurat

Tarif Trump 19 Persen Cukup Fair, Kemenangan Buat Rakyat

M. Rahman | 17 Juli 2025, 11:59 WIB
Tarif Trump 19 Persen Cukup Fair, Kemenangan Buat Rakyat

AKURAT.CO Negosiasi pemerintah Indonesia yang berhasil menurunkan tarif Trump dari 32% ke 19% dengan sejumlah syarat dinilai cukup fair.

Kepala Ekonom BCA, David Sumual mengatakan dengan tarif terendah se-Asia sejauh ini (masih berprosesnya negosiasi AS dengan negara lain), komoditas ekspor andalan RI tetap bisa kompetitif di pasar AS.

Pada Januari-Mei 2025, Indonesia membukukan surplus perdagangan dengan AS senilai USD7,08 miliar. Capaian ini terutama didorong oleh ekspor non migas sektor padat karya termasuk mesin, peralatan elekteik, alas kaki, TPT, perikanan dan lainnya.

"Kalau tarifnya seperti kemarin 32 persen, daya saing produk ekspor kita akan turun. Karena di kategori ini dan kawasan ini banyak kompetitor Indonesia, dan ini adalah sektor yang penting karena menyerap banyak tenaga kerja," ujarnya saat dihubungi Akurat.co, Rabu (17/7/2025).

Baca Juga: Upaya Terakhir Diplomasi Tarif Trump

David juga mengapresiasi kesepakatan IEU-CEPA karena di tengah perang tarif saat ini, capaian ini menjadi semacam contingency plan untuk tetap menguatkan daya saing produk ekspor RI secara keseluruhan.

Senada, Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede  melihat pnetapan tarif impor sebesar 19% oleh Amerika Serikat terhadap produk-produk ekspor Indonesia dapat dianggap sebagai keputusan yang cukup adil, terutama bila melihat dari kondisi negosiasi yang semula ditetapkan sebesar 32%.

"Penurunan tarif ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu melakukan negosiasi efektif dalam mengurangi tekanan yang lebih besar pada ekspor nasional," ujar Josua.

Meskipun tarif 19% tersebut memang masih lebih tinggi dibandingkan dengan situasi sebelum Trade War 2.0, pengurangan sebesar 13 poin persentase paling tidak mengurangi potensi dampak negatif yang jauh lebih besar terhadap ekspor Indonesia, khususnya produk manufaktur utama seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan produk kelapa sawit.

Josua juga mebilai kesediaan Indonesia untuk menghapuskan tarif impor bagi produk-produk asal AS sebesar 0% tidak serta merta merugikan posisi Indonesia.

Kebijakan ini bisa menjadi peluang strategis bagi Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang, khususnya jika dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan impor barang modal, peralatan investasi, serta teknologi ICT yang selama ini menjadi kelemahan struktural industri nasional.

"Akses terhadap barang-barang berteknologi tinggi dari AS dengan biaya lebih rendah dapat mempercepat transformasi digital, peningkatan produktivitas industri, serta memperkuat daya saing Indonesia di pasar global," tekan Josua.

Kesepakatan tarif sebesar 19% juga mencerminkan langkah pragmatis pemerintah Indonesia dalam situasi geopolitik dan ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Di tengah kecenderungan proteksionisme global, kesepakatan ini memperkuat citra Indonesia sebagai mitra dagang yang kooperatif dan terbuka terhadap solusi saling menguntungkan.

Langkah ini sekaligus menjaga keseimbangan hubungan luar negeri Indonesia dengan negara-negara besar lainnya seperti China, Eropa (IEU-CEPA), dan kelompok BRICS, menguatkan posisi diplomasi ekonomi Indonesia sebagai negara yang konsisten menjalankan prinsip politik bebas-aktif.

Dalam konteks tersebut, walaupun tarif sebesar 19% tampak tinggi jika dibandingkan masa sebelum Trade War 2.0, kesepakatan ini tetap dapat dikatakan fair dan good deal karena berhasil menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek untuk mengurangi tekanan ekspor.

Juga manfaat strategis jangka panjang yang diperoleh dari kemudahan akses teknologi, investasi, serta peluang kolaborasi ekonomi lebih luas dengan AS.  "Ini memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan di masa depan," ujarnya.

Seperti diketahui, Trump rela menurunkan tarif dagang hingga ke 19% untuk Indonesia usai meminta sejumlah syarat, termasuk RI harus mengimpor energi AS senilai USD15 miliar, mengimpor produk pertanian AS senilai USD4,5 miliar, mengimpor 50 pesawat Boeing dan membebaskan atau nol persen tarif bagi produk pertanian AS.

Kemenangan Rakyat

Usai tercapainya kesepakatan ini, Presiden Prabowo menegaskan bahwa RI-AS telah memulai era baru perdagangan yang saling mengunrungkan kedua negara.

"Saya melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan Presiden Donald Trump. Bersama-sama, kami sepakat dan menyimpulkan untuk membawa hubungan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat ke era baru yang saling menguntungkan antara kedua negara besar kita. Presiden Trump menyampaikan salam hangatnya kepada rakyat Indonesia," ujar Prabowo.

Prabowo menambahkan, negosiasi yang cukup alot berhasil ia capai lantaran mengedepankan kepentingan rakyat, mengacu pada jutaan pekerja yang bisa terancam PHK jika tarif 32% Trump diberlakukan. Celios melaporkan 1,2 juta pekerja di sektor tekstil terancam kehilangan pekerjaan dengan adanya tarif tinggi tersebut

"Saya tetap nego, saya katakan beliau ini seorang negosiator yang cukup keras juga. Semua sudah kita hitung, semua kita berunding, kita juga memikirkan yang penting bagi saya adalah rakyat saya," tegas Prabowo.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa