Tarif Trump 19 Persen, Misbakhun: Peluang Emas Tapi Juga Tantangan Berat
Hefriday | 17 Juli 2025, 19:48 WIB

AKURAT.CO Tarif Trump 19% yang baru saja disepakati menarik perhatian banyak pemangku kepentingan nasional.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun misalnya, menilai kesepakatan ini merupakan momentum penting bagi penguatan hubungan bilateral, namun sekaligus menjadi ujian strategis dalam menjaga ketahanan industri nasional di tengah derasnya arus impor.
Kesepakatan dagang ini mencakup pemberlakuan tarif 0% bagi sejumlah produk pangan Amerika Serikat yang masuk ke pasar Indonesia, sementara produk ekspor Indonesia ke AS tetap dikenakan tarif hingga 19%.
Menurut Misbakhun, ketidakseimbangan ini harus segera direspons melalui kebijakan mitigasi yang konkret dan menyeluruh.
Dalam proposal yang diajukan, Indonesia berkomitmen mengimpor berbagai komoditas asal AS, termasuk migas senilai USD15 miliar, produk pertanian senilai USD4,5 miliar, serta pembelian 50 unit pesawat Boeing 777 seharga USD3,5 miliar. Total komitmen tersebut menyentuh angka fantastis sekitar USD23 miliar.
"Kesepakatan ini adalah peluang emas, tapi juga tantangan berat. Tanpa kebijakan yang cermat, industri nasional bisa tertinggal di rumah sendiri," ungkap Misbakhun di Jakarta, Kamis (17/7/2025).
Dirinya juga mengingatkan bahwa sektor ekspor Indonesia menghadapi tekanan berat akibat kebijakan tarif dan persaingan harga. Produk unggulan seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan barang elektronik berisiko kehilangan daya saing jika tidak diiringi penyesuaian strategi ekspor yang agresif.
Meski demikian, Misbakhun menyoroti sisi positif dari kesepakatan ini. Bagi sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku dari AS, tarif nol persen berpotensi menurunkan biaya produksi secara signifikan. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing produk lokal di pasar global.
Namun, ia menegaskan bahwa peluang tersebut hanya bisa dimanfaatkan jika ada transformasi menyeluruh di sektor industri nasional. Pemerintah, menurutnya, perlu membentuk klaster industri berbasis keunggulan daerah. Misalnya, Jawa Barat untuk industri elektronik, Sumatera untuk agroindustri, dan Jawa Tengah untuk industri furnitur.
“Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai seperti logistik terpadu, pasokan listrik stabil, dan konektivitas digital, industri kita tidak akan mampu bersaing di pasar global,” ujarnya.
Peningkatan kualitas SDM juga menjadi perhatian utama. Misbakhun menilai bahwa tenaga kerja Indonesia harus segera dipacu untuk menguasai teknologi otomasi, digitalisasi, serta standar mutu internasional.
Misbakhun juga mendorong pemerintah untuk mempercepat pelatihan berbasis vokasi dan sertifikasi kompetensi melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan platform digital.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya digitalisasi UMKM sebagai langkah memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi. Pemerintah diminta untuk mendorong adopsi teknologi seperti Internet of Things (IoT), big data analytics, dan cloud computing agar UMKM dapat terintegrasi ke dalam ekosistem e-commerce global.
Diversifikasi produk ekspor juga menjadi perhatian. Misbakhun menyarankan agar Indonesia lebih fokus pada produk bernilai tambah tinggi seperti komponen otomotif, panel elektronik, busana premium, hingga furnitur kustom.
Sertifikasi standar internasional harus difasilitasi agar produk nasional dapat masuk ke segmen pasar kelas atas, khususnya di Eropa, Asia Timur, dan Timur Tengah.
“Langkah ini harus diimbangi dengan perlindungan serius terhadap sektor industri nasional, khususnya UMKM dan manufaktur yang sangat rentan tergeser oleh produk impor,” tegas Misbakhun.
Dukungan Perbankan
Untuk mewujudkan seluruh strategi ini, dukungan dari sektor perbankan dinilai sangat krusial. Misbakhun menyoroti perlambatan penyaluran kredit yang turun dari 9,16% (y-o-y) pada Maret 2025 menjadi 8,43% pada Mei 2025.
Dirinya juga meminta perbankan untuk lebih proaktif dalam membiayai sektor-sektor strategis yang berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Patriotisme zaman sekarang bukan hanya dalam bentuk seruan, tapi juga lewat dukungan konkret kepada sektor produktif,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 4ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 7Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 8Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag








