Pergi dari Hubungan Toxic, Mengapa Terasa Sangat Sulit?

AKURAT.CO Hubungan toxic atau toxic relationship adalah hubungan yang ditandai dengan dinamika yang merusak kesehatan mental, emosional, dan bahkan fisik seseorang.
Saat sudah dihadapkan dengan situasi ini, sangat dianjurkan untuk segera “keluar.”
Seorang ahli hubungan, Kelly Campbell, Ph.D. menekankan pentingnya memahami bahwa hubungan toxic tidak hanya merugikan secara fisik, namun juga meninggalkan luka psikologis jangka panjang yang berdampak pada kesehatan mental dan hubungan yang selanjutnya.
Meski terlihat jelas sisi tidak baiknya, mengapa masih sangat banyak yang tetap bertahan dalam situasi ini?
Simak lebih lanjut untuk tanda-tanda hubungan yang toxic dan alasan mengapa susah meninggalkannya.
Baca Juga: 7 Potret Memesona Clara Tan, Jebolan Asia's Next Top Model yang Pernah Terjebak Toxic Relationship
Ciri-ciri Hubungan yang Toxic
Tanda-tanda toxic relationship sering kali tidak terlihat, mengenali ciri-ciri hubungan toxic sangat penting agar bisa mengambil langkah yang tepat untuk kesejahteraan diri.
Berikut adalah beberapa tanda hubungan toxic yang perlu diwaspadai:
Tidak Bisa Menjadi Diri Sendiri
Dalam hubungan yang sehat, Anda harus merasa bebas untuk mengekspresikan diri tanpa ada rasa takut dihakimi atau dikritik. Namun, apabila merasa harus berpura-pura atau ada yang harus ditutupi secara berlebihan demi menyenangkan pasangan, ini bisa menjadi tanda hubungan yang tidak baik.
Perasaan tertekan untuk selalu memenuhi ekspektasi pasangan, jelas bisa mengikis identitas serta harga diri Anda.
Mengalami Kekerasan
Kekerasan baik fisik maupun verbal sangat tidak bisa diterima dari sisi mana pun. Tanda-tanda kekerasan meliputi penghinaan, ancaman, pemukulan, ataupun perilaku kasar lainnya.
Mengalami kekerasan dalam hubungan bisa berdampak serius pada kesehatan mental serta fisik.
Mengontrol Pasangan Secara Berlebihan
Rasa cemburu dan kurang percaya menimbulkan pasangan selalu ingin tahu keberadaan dan kegiatan apa yang sedang dilakukan pasangan secara berlebihan. Sering kali mereka merasa kesal atau jengkel ketika pasangannya tidak memberikan apa yang diinginkan, dan mengirim pesan spam hingga pasangannya memberi respon.
Seiring waktu, perilaku ini berubah menjadi dominan dan berusaha mengontrol perilaku pasangan sesuai keinginannya. Dalam beberapa kasus, upaya mengontrol ini menimbulkan penyalahgunaan dan kerugian bagi korban.
Komunikasi yang Buruk
Komunikasi yang baik dan efektif adalah elemen yang penting dalam hubungan yang sehat.
Jika Anda dan pasangan sering mengalami komunikasi yang buruk, misalnya sarkasme, penghinaan dalam komunikasi, tidak mau mendengarkan satu sama lain, dan banyak miskomunikasi lainnya, bisa jadi Anda berada dalam hubungan yang tidak sehat.
Tidak Memiliki Rasa Hormat Kepada Pasangan
Tidak menghormati pasangan, seperti sering terlambat dengan sengaja, melupakan agenda penting, menyepelekan perasaan pasangan, dan perilaku lain yang menunjukkan ketidakpedulian bisa menjadi penyebab toxic relationship.
Hal ini menjadi tanda seseorang tidka menghargai waktu, komitmen, dan perasaaan pasangannya dalam sebuah hubungan.
Tindakan-tindakan seperti ini dapat mengindikasikan kurangnya rasa hormat dan menghargai terhadap pasangan.
Baca Juga: Dipukul hingga Diiris Pisau, 5 Fakta Mengejutkan Toxic Relationship yang Dialami Andien
Mengapa Sulit Keluar dari Tocix Relationship?
Berbagai faktor menjadi alasan bagi seseorang tetap bertahan dan enggan meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Beberapa faktor utama yang membuat hubungan toxic sulit untuk ditinggalkan:
Ketergantungan Emosional
Hubungan toxic sering membuat seseorang merasa bahwa kebahagiaan mereka tergantung pada pasangannya. Ketika seseorang telah menghabiskan banyak waktu dan perasaan dalam hubungan, mereka cenderung merasa sulit untuk melepaskan diri.
Ketergantungan ini menimbulkan rasa takut akan kesepian, dan membuat mereka memilih untuk tetap bertahan dalam hubungan yang dinilai tidak baik ini.
Gaslighting
Istilah gaslighting adalah bentuk manipulasi dalam suatu hubungan yang membuat korbannya merasa bersalah dan meragukan diri sendiri.
Pelaku toxic sering menggunakan teknik gaslighting ini untuk membuat pasangannya meragukan dirinya sendiri atau insecure.
Akibatnya, korban merasa bersalah, bingung, dan tidak yakin apakah mereka benar-benar sedang disakiti atau tidak.
Denial atau Penyangkalan
Masih berkaitan dengan gaslighting, korban dibuat menjadi merasa bersalah, dan menyangkal adanya hal yang tidak normal dalam hubungannya.
Tak jarang juga korban bepikiran bahwa pasangannya hanya tersulut emosi dan beranggapan pasangannya berubah.
“Dia lagi kebawa emosi aja, biasanya enggak kayak gitu kok. Besok juga udah baikan,” “Dia pasti berubah kok,” “Dia ngga se-jahat yang kalian lihat, dia aslinya baik banget kok.”
Ketergantuangan Finansial dan Situasional
Dalam beberapa kasus, korban toxic relationship tidak mampu keluar karena alasan ekonomi, tempat tinggal, atau tanggung jawab keluarga.
Ketergantungan finansial membuat korban merasa tidak memiliki pilihan lain, terlebih jika korban merasa kebutuhan hidupnya dicukupi oleh pelaku. Terlebih jika mereka tidak memiliki akses pada dukungan sosial atau lembaga perlindungan.
Kesulitan meninggalkan hubungan toxic adalah fenomena yang kompleks, berakar kuat pada mekanisme psikologis seperti trauma bonding, manipulasi, dan harga diri yang rendah.
Bukan kurangnya kemauan, melainkan jeratan psikologis yang sangat nyata yang membuat korban terus kembali.
Langkah pertama menuju kebebasan adalah pengakuan dan pencarian bantuan profesional.
Jaga batasan Anda, bangun kembali harga diri Anda, dan mulailah perjalanan Anda menuju hubungan yang sehat dan layak Anda dapatkan.
Nasywa Mutiara Pratista (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









