Mengenal Roaching, Pola Hubungan Abu-abu yang Kian Marak di Kalangan Gen Z

AKURAT.CO Fenomena roaching kian sering diperbincangkan dalam dinamika hubungan asmara anak muda, khususnya di kalangan Generasi Z yang lekat dengan budaya digital.
Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang diam-diam menjalin kedekatan dengan banyak orang sekaligus tanpa kejelasan status, lalu menyangkalnya ketika ketahuan.
Praktik tersebut disebut roaching karena menyerupai kecoak yang jarang terlihat, tetapi muncul dalam jumlah banyak ketika satu ekor ditemukan.
Dalam konteks hubungan romantis, roaching bukan sekadar bentuk ketidaksetiaan, melainkan pola komunikasi yang tidak jujur.
Pelaku biasanya membangun kedekatan emosional intens dengan satu orang, sambil tetap membuka peluang dengan pihak lain.
Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian bagi pasangan yang mengharapkan eksklusivitas, terlebih di tengah kemudahan berinteraksi melalui media sosial dan aplikasi pesan instan.
Generasi Z dinilai paling rentan mengalami roaching akibat gaya komunikasi yang serba cepat dan jejaring pergaulan yang luas.
Interaksi tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui pesan pribadi, obrolan daring, hingga unggahan di media sosial yang dapat menciptakan kedekatan instan.
Perbedaan persepsi kerap muncul, ketika satu pihak menganggap hubungan tersebut istimewa, sementara pihak lain menganggapnya sekadar interaksi biasa.
Baca Juga: India Terbuka: Meski Jari Berdarah, Jonatan Christie Sukses Revans dan Segel Perempat Final
Dari sisi psikologis, roaching berpotensi menimbulkan tekanan emosional bagi korban.
Kekecewaan, menurunnya kepercayaan diri, hingga keraguan membangun hubungan baru menjadi dampak yang kerap dirasakan.
Ketidakjelasan status juga memicu overthinking berkepanjangan, terutama ketika korban berharap pada masa depan hubungan yang sebenarnya tidak pernah diniatkan pelaku.
Dalam sejumlah kasus, perilaku ini bahkan dapat mengarah pada manipulasi emosional.
Pengamat hubungan menyebutkan, roaching dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, tingginya kebutuhan akan validasi di era media sosial.
Arus interaksi yang terus mengalir membuat sebagian orang merasa perlu memiliki banyak “cadangan” relasi demi menjaga rasa berharga.
Kedua, ketakutan terhadap komitmen yang masih jamak dialami anak muda, sehingga mendorong hubungan tanpa batas yang jelas.
Meski demikian, roaching bukan fenomena yang tak dapat dicegah. Komunikasi terbuka mengenai ekspektasi hubungan menjadi langkah penting.
Generasi Z yang terbiasa dengan interaksi cepat perlu menyediakan ruang diskusi jujur terkait batasan kedekatan, eksklusivitas, dan tujuan hubungan.
Kejelasan sejak awal dinilai mampu meminimalkan risiko salah paham sekaligus mencegah terjebak dalam hubungan yang tidak seimbang.
Laporan: Novi Karyanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








