Gaslighting dalam Hubungan Anak Muda: Kenali, Sadari, dan Berani Melindungi Diri
AKURAT.CO Dalam dunia percintaan anak muda zaman sekarang, istilah gaslighting semakin sering berseliweran di TikTok, Instagram, hingga X (Twitter).
Banyak yang memakainya untuk menjelaskan hubungan toxic, tapi tidak semua benar-benar memahami apa sebenarnya gaslighting dan bagaimana dampaknya.
Bagi generasi Z yang tumbuh di era digital—serba cepat, penuh distraksi, dan dipenuhi standar hubungan ideal—kemampuan mengenali gaslighting jadi bekal penting agar tidak terjebak dalam relasi yang tidak sehat.
Apa Itu Gaslighting?
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis ketika seseorang membuat pasangannya meragukan pikiran, perasaan, atau ingatannya sendiri.
Pelaku biasanya memutarbalikkan fakta, menyangkal kejadian, atau menuduh korban berlebihan—hingga korban merasa dirinya yang salah.
Istilah ini berasal dari film Gaslight (1944), di mana seorang suami perlahan membuat istrinya merasa “gila” demi mengontrolnya.
Kini, konsep tersebut digunakan untuk menggambarkan praktik manipulasi emosional dalam hubungan modern, termasuk pacaran.
Tanda-Tanda Kamu Mengalami Gaslighting
Gaslighting tidak selalu muncul dalam bentuk besar dan dramatis. Sering kali ia hadir pelan-pelan dan terlihat seperti hal sepele. Beberapa cirinya:
-
Kamu selalu disalahkan—bahkan untuk hal yang jelas bukan tanggung jawabmu.
-
Dia menyangkal kejadian nyata, misalnya berkata, “Itu nggak pernah terjadi,” padahal kamu mengingatnya jelas.
-
Kamu mulai meragukan diri sendiri, merasa terlalu sensitif, lebay, atau selalu salah.
-
Fakta dipelintir agar pelaku terlihat sebagai pihak paling benar.
-
Kamu dijauhkan dari support system, seperti teman atau keluarga, sehingga hanya bergantung padanya.
Jika tanda-tanda ini terjadi berulang, itu red flag besar.
Kenapa Gaslighting Banyak Terjadi pada Gen Z?
Gen Z hidup di tengah budaya validasi digital—like, komentar, dan respons cepat jadi bentuk perhatian baru.
Dalam hubungan, standar cinta sering tercipta dari media sosial: harus dramatis, cemburu, atau penuh pengorbanan untuk dianggap “romantis”.
Ditambah komunikasi digital yang mudah dimanipulasi—chat dihapus, pesan disangkal, atau pelaku bilang, “Kamu salah paham”—membuat gaslighting semakin halus dan sulit dikenali.
Dampak Emosional Gaslighting
Gaslighting bukan sekadar drama hubungan. Dampaknya bisa serius:
-
stres dan kecemasan berkepanjangan
-
kehilangan rasa percaya diri
-
depresi atau perasaan tidak berharga
-
trauma hubungan dan sulit mempercayai orang lain lagi
Yang lebih mengkhawatirkan, korban sering menyalahkan dirinya sendiri dan tidak menyadari sedang disakiti.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
1. Percaya pada intuisimu
Kalau kamu merasa ada yang janggal, kemungkinan besar memang ada.
2. Catat kejadian atau simpan bukti
Ini membantu melihat pola manipulasi yang selama ini kamu normalisasi.
3. Bicarakan dengan orang yang kamu percaya
Sudut pandang eksternal bisa membuka mata.
4. Tetapkan batas dan berani pergi
Cinta yang sehat tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
Gaslighting bukan sekadar istilah viral—ini adalah bentuk kekerasan emosional yang nyata dan berdampak panjang.
Generasi muda perlu lebih peka, bukan hanya soal mencari pasangan yang cocok, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan harga diri.
Cinta tidak seharusnya membuatmu bingung, ragu, atau merasa kecil. Jika hubungan membuatmu kehilangan diri sendiri, mungkin saatnya melangkah pergi.
Laporan: Bunga Adinda/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










