Permata Bank Raup Laba Rp3,6 Triliun di 2025, NPL Terjaga 2,1 Persen

AKURAT.CO PT Bank Permata Tbk menutup tahun buku 2025 dengan kinerja solid di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan industri perbankan domestik. Bank mencatat laba setelah pajak sebesar Rp3,6 triliun, ditopang pertumbuhan pendapatan dan kualitas aset yang tetap terjaga.
Total pendapatan tumbuh 3,8% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp12,6 triliun. Kenaikan ini terutama didorong lonjakan pendapatan nonbunga sebesar 34,1% menjadi Rp2,6 triliun, mencerminkan diversifikasi sumber pendapatan di luar bunga kredit.
Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, mengatakan kinerja tersebut menunjukkan fundamental perseroan tetap resilien.
Baca Juga: Permata Bank Kaji Paylater, Tetap Utamakan Kualitas Kredit
“Di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan Indonesia sepanjang 2025, Permata Bank terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap disiplin dan prudent. Kinerja kami mencerminkan fundamental yang resilien, terlihat dari pertumbuhan pendapatan serta kualitas aset yang terjaga,” ujar Meliza dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit tumbuh 5,5% YoY menjadi Rp163,3 triliun. Segmen korporasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 11,2% YoY menjadi Rp99,6 triliun.
Kualitas kredit tetap stabil dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross di level 2,1%, sementara Loan at Risk (LAR) turun menjadi 4,3% dari sebelumnya 5,5%. Rasio pencadangan juga terjaga kuat, dengan NPL coverage mencapai 356%.
Dari sisi likuiditas, Permata Bank mencatat Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 84,5%, menunjukkan ruang ekspansi kredit yang masih memadai. Bahkan, rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) rata-rata mencapai 296,5% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 126,8%, jauh di atas batas minimum regulasi 100%.
Total aset tumbuh 3,6% YoY menjadi Rp268,3 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga naik 3,9% menjadi Rp192,8 triliun, ditopang pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 20,1%. Rasio CASA meningkat signifikan menjadi 63,9% dari 55,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Permodalan bank juga berada di level sangat kuat. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat 34,6% dan Common Equity Tier 1 (CET-1) sebesar 26,6%, menjadikan Permata sebagai salah satu bank dengan permodalan terkuat di kelompok bank umum besar nasional.
Baca Juga: Wisata Jepang Makin Diminati, Permata Bank Gelar JAL Travel Fair
“Kami meyakini pertumbuhan berkelanjutan tidak semata ditentukan oleh skala, melainkan relevansi. Melalui penguatan kapabilitas digital dan inovasi produk, kami membangun bank yang bertumbuh secara bertanggung jawab dan menciptakan nilai jangka panjang,” tambah Meliza.
Di lini syariah, Unit Usaha Syariah (UUS) mencatat laba operasional sebelum provisi sebesar Rp785,3 miliar atau tumbuh 8,1% YoY. Rasio CASA UUS bahkan mencapai 73,6%, di atas rata-rata industri perbankan syariah nasional.
Permata Bank juga memperluas portofolio pembiayaan berkelanjutan yang tumbuh 33,3% menjadi Rp30,1 triliun, setara 18,4% dari total pembiayaan. Pembiayaan tersebut mencakup proyek energi terbarukan dan properti bersertifikasi hijau.
Dengan kombinasi likuiditas longgar, modal kuat, kualitas aset stabil, serta ekspansi kredit yang terukur, Permata Bank memiliki ruang manuver yang cukup untuk menghadapi 2026, baik melalui pertumbuhan organik maupun peluang anorganik.
Di tengah ketidakpastian global, fondasi fundamental menjadi pembeda utama. Dan hingga akhir 2025, Permata Bank menunjukkan bahwa pertumbuhan bukan sekadar ekspansi, melainkan juga soal disiplin risiko dan daya tahan neraca.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









