Akurat

Bitcoin Anjlok 25 Persen dalam Sebulan, Musim Crypto Winter?

Esha Tri Wahyuni | 16 Februari 2026, 19:03 WIB
Bitcoin Anjlok 25 Persen dalam Sebulan, Musim Crypto Winter?

AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah anjlok tajam dari rekor tertinggi di atas USD126.000 pada Oktober 2026.

Penurunan harga Bitcoin hingga hampir 50% dari puncaknya memicu kekhawatiran pasar akan potensi crypto winter 2026, istilah yang merujuk pada periode lesu berkepanjangan di pasar kripto seperti saat kejatuhan FTX pada 2022. 

Dalam sebulan terakhir saja, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 25%, mengguncang kepercayaan investor yang sebelumnya melihat aset ini sebagai emas digital dan lindung nilai di tengah kebijakan pro-kripto Amerika Serikat.
 
Koreksi tajam ini terjadi di tengah ekspektasi tinggi bahwa pemerintahan AS yang ramah terhadap industri kripto akan menjadi katalis kenaikan lanjutan. Namun, volatilitas justru kembali mendominasi pasar.

Tekanan Jual Bitcoin: Bukan dari Investor ETF?

Meski sentimen memburuk, data menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Dikutip dari beberapa sumber, Senin (16/2/2026), arus dana di ETF berbasis Bitcoin tidak sepenuhnya mencerminkan aksi panik massal.
 
 
BlackRock melalui produk iShares Bitcoin Trust (IBIT) tercatat mengalami net outflow sekitar USD2,8 miliar dalam tiga bulan terakhir. Angka tersebut memang signifikan, tetapi secara tahunan ETF ini masih mencatat net inflow hampir USD21 miliar.
 
Chief Investment Officer Bitwise Asset Management, Matt Hougan, menilai aksi jual besar bukan berasal dari investor ETF jangka panjang. "Bukan investor ETF yang mendorong aksi jual besar-besaran ini," ujar Hougan.
 
Menurutnya, tekanan jual kemungkinan datang dari investor kripto lama yang mulai mengurangi eksposur, serta hedge fund yang memanfaatkan ETF sebagai instrumen trading jangka pendek.

Akhir Era Spekulasi di Pasar Kripto?

Pandangan berbeda disampaikan CEO Galaxy, Mike Novogratz. Ia menyebut pasar kripto berpotensi memasuki fase baru, di mana pola keuntungan tidak lagi bersifat eksponensial seperti sebelumnya.
 
"Ke depan, imbal hasil kripto akan lebih mirip dengan investasi jangka panjang konvensional. Masyarakat ritel biasanya masuk ke kripto karena ingin untung delapan hingga 10 kali lipat, bukan untuk mengejar kenaikan tahunan 11%," ungkap Novogratz dalam forum finansial di New York.
 
Pernyataan ini mengindikasikan pergeseran karakter pasar yaitu dari euforia spekulatif menuju fase konsolidasi yang lebih rasional.

Dilema Emas Digital: Bitcoin vs Emas

Narasi Bitcoin sebagai emas digital kembali diuji. Saat harga Bitcoin merosot hampir 50%, aset safe haven tradisional justru menguat.
 
CEO GraniteShares, Will Rhind, menyoroti anomali tersebut. "Sangat berat menjadi investor Bitcoin saat ini. Seharusnya ini tidak terjadi; ketika Bitcoin turun hampir 50%, emas tidak seharusnya mencapai titik tertinggi sepanjang masa," katanya.
 
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah Bitcoin benar-benar berfungsi sebagai lindung nilai, atau masih sebatas aset berisiko tinggi dengan volatilitas ekstrem?

Siklus Volatilitas dan Peran Investor Institusi

Secara historis, Bitcoin telah melewati berbagai siklus bull dan bear market. Namun, siklus 2025–2026 dinilai berbeda karena keterlibatan institusi besar melalui instrumen ETF spot.
 
Masuknya manajer aset global seperti BlackRock dan Fidelity mengubah profil risiko Bitcoin. Volatilitas memang tetap tinggi, tetapi kehadiran dana institusional dinilai menciptakan semacam “lantai” harga yang lebih stabil dibandingkan siklus sebelumnya, termasuk saat krisis yang dipicu runtuhnya FTX pada 2022.
 
Kini pasar terbelah antara trader spekulatif yang mengejar keuntungan cepat dan investor institusional yang menempatkan kripto sebagai bagian dari diversifikasi portofolio jangka panjang.
 
Memahami siklus ini menjadi krusial bagi investor, terutama generasi muda yang aktif di aset digital. Koreksi harga tidak selalu identik dengan kehancuran fundamental. Namun, disiplin manajemen risiko tetap menjadi kunci di tengah volatilitas yang belum sepenuhnya reda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.