Akurat

Ini Penyebab Bitcoin Terjun 22 Persen ke USD68.700, Terendah Sejak 2018

Esha Tri Wahyuni | 17 Februari 2026, 19:58 WIB

AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah parkir di kisaran USD68.700, turun hampir 22% sejak awal tahun 2026. Koreksi tajam ini membuat kinerja kuartal pertama (Q1) berpotensi menjadi yang terburuk sejak 2018. 

Setelah sempat dibuka di sekitar USD87.700 pada awal tahun, Bitcoin kehilangan hampir USD20.000 hanya dalam beberapa pekan. Tekanan tersebut tak hanya memukul BTC, tetapi juga memperlemah pasar kripto secara luas.

Secara historis, pelemahan di awal tahun bukan hal baru bagi Bitcoin. Namun, besarnya koreksi kali ini memicu pertanyaan besar di kalangan investor, apakah penurunan harga Bitcoin sudah mendekati dasar atau justru masih berlanjut?

Kuartal Pertama Bitcoin Terburuk dalam 8 Tahun?

Dikutip dari beberapa sumber, Selasa (17/2/2026) data historis menunjukkan, Bitcoin mencatat kinerja negatif pada kuartal pertama dalam 7 dari 13 tahun terakhir.

Namun, penurunan 22% membuat kuartal I-2026 berisiko menjadi performa terburuk sejak fase bear market 2018, ketika BTC anjlok hampir 50% dalam beberapa bulan pertama tahun tersebut.

Baca Juga: Bitcoin Dekati Level Support Kritis USD66.270, Bakal Ada Koreksi Lanjutan?

Januari dan Februari sama-sama ditutup di zona merah. Pola dua bulan negatif berturut-turut di awal tahun tergolong jarang terjadi dan menambah tekanan psikologis pasar.

Untuk membalikkan sentimen secara signifikan, Bitcoin perlu kembali ke area USD80.000. Namun, dengan momentum teknikal saat ini, level tersebut masih terlihat cukup jauh.

Meski demikian, sejarah juga mencatat bahwa kuartal pertama yang lemah tidak selalu menentukan performa setahun penuh. Dalam delapan dari tiga belas tahun terakhir, kuartal II justru mencatat kinerja berlawanan dari kuartal I. Artinya, outlook jangka menengah masih terbuka.

Reli 9 Persen dan Lonjakan Leverage: Sinyal Bahaya?

Di tengah tekanan, Bitcoin sempat reli sekitar 9% pada periode 12–15 Februari. Secara kasat mata, lonjakan ini terlihat sebagai upaya rebound. Namun, data derivatif menunjukkan risiko yang meningkat.

Open interest futures BTC melonjak dari sekitar USD19,6 miliar menjadi USD21,47 miliar selama reli berlangsung. Kenaikan hampir USD1,9 miliar ini mengindikasikan peningkatan posisi leverage yang agresif.

Funding rate juga bergerak sangat positif, menandakan banyak trader memburu posisi long. Kondisi seperti ini sering kali meningkatkan risiko likuidasi massal jika harga kembali berbalik turun.

Secara teknikal, struktur grafik masih menyerupai pola bear flag, yang merupakan pola kelanjutan tren turun. Selain itu, muncul hidden bearish divergence pada grafik 12 jam, di mana harga mencetak lower high sementara RSI membentuk higher high. Pola ini sering menjadi sinyal distribusi diam-diam oleh pelaku pasar besar.

Di sisi on-chain, indikator Net Unrealized Profit/Loss (NUPL) melonjak sekitar 90% dalam beberapa hari. Lonjakan profit serupa sebelumnya diikuti koreksi sekitar 14%. Jika aksi ambil untung kembali terjadi, tekanan jual dapat meningkat.

Level Kunci Bitcoin: Support USD66.000, Target Turun USD58.800

Dari sisi teknikal, area USD66.270 menjadi support penting jangka pendek. Jika terjadi breakdown di bawah level ini, pola bear flag berpotensi terkonfirmasi.

Target penurunan berikutnya berada di kisaran USD58.800, sejalan dengan retracement Fibonacci 0,618 atau sekitar 14% lebih rendah dari harga saat ini. Jika tekanan berlanjut, area USD55.600 dapat menjadi target lanjutan.

Sebaliknya, untuk memperbaiki struktur jangka pendek, Bitcoin perlu menembus kembali USD70.840. Breakout kuat di atas USD79.290 akan membatalkan skenario bearish dan membuka peluang dominasi pembeli kembali terbentuk.

Dominasi Bitcoin & Akumulasi Korporasi: Sinyal Campuran

Di tengah tekanan harga, dominasi Bitcoin tetap tinggi di kisaran 58,5%. Artinya, arus modal masih lebih memilih BTC dibanding altcoin, mencerminkan fase defensif pasar.

Sementara itu, perusahaan publik secara kolektif memegang lebih dari 1,13 juta BTC berdasarkan data BitcoinTreasuries. Salah satu holder terbesar adalah Strategy yang menguasai sekitar 3,27% dari total suplai Bitcoin.

Akumulasi korporasi ini menunjukkan fondasi institusional tetap kuat dalam jangka panjang, meski volatilitas jangka pendek masih tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.