Laba Tumbuh 14 Persen, Danamon Siapkan Strategi Paylater
AKURAT.CO PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membuka peluang masuk ke bisnis Paylater sebagai bagian dari strategi memperkuat penetrasi segmen ritel. Namun, ekspansi tersebut tidak dilakukan secara agresif, melainkan melalui pendekatan terukur dan berbasis kajian risiko.
Wakil Direktur Utama Danamon, Honggo Widjojo Kangmasto, menyatakan bahwa Paylater pada dasarnya merupakan bagian dari kredit konsumsi yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, terutama di tengah meningkatnya transaksi digital masyarakat. Meski demikian, perseroan masih mematangkan model bisnis yang paling sesuai.
“Minat tentu selalu ada karena Paylater bagian dari kredit konsumsi. Tapi sampai sekarang kami masih mencari bentuk yang tepat untuk bisnis ini,” ujar Honggo secara virtual, Kamis (19/2/2026).
Dirinya menjelaskan, salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah penyaluran melalui entitas dalam grup, yakni Home Credit Indonesia. Selain itu, Danamon juga membuka peluang kolaborasi dengan ekosistem digital yang terhubung dengan jaringan strategis induk usaha.
Sebagai bagian dari grup MUFG Group, Danamon memiliki akses terhadap ekosistem investasi di sejumlah startup di Indonesia. Sinergi tersebut dinilai dapat mempercepat penetrasi pasar sekaligus memitigasi risiko kredit melalui pendekatan berbasis data dan integrasi digital.
Namun demikian, manajemen menegaskan keputusan final ekspansi Paylater masih menunggu hasil kajian komprehensif. Evaluasi mencakup potensi risiko kredit, kesiapan infrastruktur digital, hingga dinamika regulasi yang terus berkembang.
“Ke depan, bank tetap berfokus memperkuat posisi sebagai bank konvensional dengan kapabilitas digital, sembari terus mengeksplorasi peluang bisnis baru yang dapat memperluas basis nasabah ritel tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian,” kata Honggo.
Langkah penjajakan ini dilakukan di tengah kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025. Danamon membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp4 triliun, tumbuh 14% secara tahunan (year on year/yoy).
Dari sisi intermediasi, total kredit dan trade finance konsolidasian mencapai Rp212,7 triliun per 31 Desember 2025, naik 9% (yoy). Pertumbuhan kredit tercatat merata di seluruh lini bisnis, mulai dari enterprise banking, financial institutions, consumer banking, hingga pembiayaan melalui Adira Finance.
Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 16% (yoy) menjadi Rp176,9 triliun, ditopang peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA). Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) membaik menjadi 1,7%, turun 20 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, rasio Loan at Risk (LAR) juga menunjukkan perbaikan signifikan menjadi 8,3%, turun 230 basis poin secara tahunan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









