Akurat

Bitcoin Turun ke USD66.450 Usai Notulensi FOMC, Investor Simak Strategi Ini

Esha Tri Wahyuni | 21 Februari 2026, 18:05 WIB
Bitcoin Turun ke USD66.450 Usai Notulensi FOMC, Investor Simak Strategi Ini

AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) kembali terkoreksi setelah rilis notulensi Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru memicu ketidakpastian arah suku bunga The Fed. Berdasarkan data perdagangan Kamis (19/2/2026), harga Bitcoin turun 1,25% ke level USD66.450 atau sekitar Rp1,11 miliar. 

Koreksi ini terjadi di tengah menguatnya Indeks Dolar AS (DXY) dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga global dalam waktu dekat. Sentimen pasar kripto pun merosot ke zona “Extreme Fear”, menandakan investor cenderung defensif.
 
Lantas, bagaimana dampak notulensi FOMC terhadap harga BTC dan apa strategi yang relevan bagi investor kripto saat ini?

Notulensi FOMC Tekan Harga Bitcoin dan Aset Berisiko

Rilis notulensi FOMC menunjukkan mayoritas pejabat bank sentral AS sepakat mempertahankan suku bunga di level saat ini. Namun, pasar merespons negatif adanya perbedaan pandangan terkait langkah lanjutan The Fed.
 

Sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap tinggi. Sementara lainnya memberi sinyal pemangkasan jika tekanan harga mereda.

Sikap “higher for longer” yang masih membayangi kebijakan moneter AS membuat likuiditas global mengetat. Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke level 97,7, yang secara historis kerap memberi tekanan pada aset berisiko seperti saham dan kripto.

Data FedWatch Tool CME Group menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin sebelum Juni kini berada di bawah 50%. Artinya, pasar mulai pesimistis terhadap pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.

Kapitalisasi Pasar Kripto Menyusut, Sentimen Masuk Extreme Fear

Tekanan makroekonomi global berdampak langsung pada total kapitalisasi pasar kripto yang ikut menyusut. Aksi jual meningkat seiring investor global melakukan penyesuaian portofolio terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.

Level sentimen “Extreme Fear” mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar jangka pendek. Namun, dalam siklus pasar kripto, fase ini kerap menjadi titik akumulasi bagi investor jangka panjang.

Indodax: Koreksi Bitcoin Masih dalam Fase Konsolidasi Sehat

Menanggapi kondisi tersebut, Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai koreksi harga Bitcoin saat ini masih dalam rentang konsolidasi yang sehat.

“Koreksi harga pasca rilis FOMC adalah reaksi pasar yang wajar dan bersifat sementara. Investor global sedang menyesuaikan timeline pemangkasan suku bunga The Fed,” ujar Antony dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Ia menambahkan, meskipun harga Bitcoin berada di bawah US$67.000, pergerakan tersebut belum keluar dari pola konsolidasi. “Area USD64.000 menjadi level support kuat. Secara historis, fase seperti ini justru sering menjadi fondasi sebelum pasar kembali menguat,” jelasnya.

Dampak Kebijakan BI Rate terhadap Investor Kripto Domestik

Antony juga menyoroti peran kebijakan suku bunga domestik. Saat ini, BI Rate berada di kisaran 4,75%–5,5%. Keputusan Bank Indonesia selanjutnya dinilai akan memengaruhi arah likuiditas investor dalam negeri.

“Langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah memberi kepastian bagi perekonomian domestik. Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global, investor kripto tidak perlu panik,” tegasnya.

Dirinya menekankan bahwa dalam perspektif jangka panjang, Bitcoin tetap dipandang sebagai aset lindung nilai (hedge) terhadap ketidakpastian makro.

Strategi Investasi Bitcoin Saat Volatilitas Tinggi

Di tengah tekanan global, disiplin manajemen risiko menjadi kunci. Indodax mengimbau investor untuk tetap rasional, melakukan riset mandiri (Do Your Own Research), dan tidak mengambil keputusan berbasis emosi.

Strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai relevan untuk memitigasi volatilitas. Pendekatan ini memungkinkan investor membeli Bitcoin secara berkala tanpa terpengaruh fluktuasi harga jangka pendek.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.