Akurat

Ramai Dibicarakan, Transaksi Kripto di Indonesia Justru Turun 25,9 Persen: Ini Penyebab dan Respons Industri

Naufal Lanten | 5 Februari 2026, 20:40 WIB
Ramai Dibicarakan, Transaksi Kripto di Indonesia Justru Turun 25,9 Persen: Ini Penyebab dan Respons Industri
 
AKURAT.CO Percakapan soal aset kripto, Web3, dan blockchain makin sering muncul di media sosial Indonesia sepanjang 2025. Dari diskusi soal peluang investasi hingga inovasi teknologi, atensi publik terlihat melonjak tajam. Namun di balik ramainya obrolan tersebut, nilai transaksi kripto nasional justru mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Fenomena kontras ini terungkap dalam laporan Indonesia’s Crypto Outlook 2026 dari Dataxet Sonar. Riset tersebut menunjukkan bahwa minat publik terhadap industri aset digital masih kuat, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam aktivitas perdagangan di dalam negeri. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa transaksi kripto menurun meski pembicaraan publik meningkat? Dan bagaimana respons pelaku industri menghadapi situasi ini?


Percakapan Kripto Melejit Sepanjang 2025

Berdasarkan temuan Dataxet Sonar, volume percakapan tentang kripto di media sosial Indonesia naik sekitar 29,8 persen pada 2025 dibandingkan 2024. Total engagement—yang mencerminkan interaksi seperti komentar, likes, dan share—mencapai 217,7 juta.

Topik terkait teknologi pendukungnya juga ramai diperbincangkan:

  • Blockchain mencatat sekitar 3,2 juta engagement

  • Web3 meraih sekitar 1,5 juta engagement

Head of Insights Dataxet Sonar, Prasetyo Katon, menyebut tren ini sebagai sinyal bahwa ketertarikan publik terhadap aset digital masih terjaga.

“Sepanjang 2025, percakapan kripto di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Ini menggambarkan tingginya perhatian publik terhadap perkembangan kripto, Web3, dan blockchain,” ujar Prasetyo melalui catatan Tokocrypto yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 5 Februari 2026.

Lonjakan diskusi ini menunjukkan bahwa kripto tetap menjadi topik panas, baik sebagai instrumen investasi maupun inovasi teknologi finansial.


Nilai Transaksi Kripto Justru Menyusut

Di sisi lain, data transaksi menunjukkan arah yang berbeda. Sepanjang 2025, nilai perdagangan aset kripto di Indonesia tercatat sebesar Rp482,23 triliun. Angka ini turun 25,9 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp650,61 triliun.

Penurunan tersebut terjadi meskipun jumlah investor kripto nasional terus bertambah hingga menyentuh 20,19 juta orang. Artinya, basis pengguna makin besar, tetapi aktivitas transaksinya tidak tumbuh sebanding.

Kondisi ini mengindikasikan adanya jarak antara antusiasme publik dan realisasi transaksi di pasar domestik—sebuah tantangan besar bagi industri kripto Indonesia.


Biaya Transaksi Dinilai Jadi Salah Satu Faktor

Salah satu penyebab yang dinilai berkontribusi terhadap melemahnya nilai transaksi adalah struktur biaya perdagangan yang belum sepenuhnya efisien. Biaya yang relatif lebih tinggi di dalam negeri berpotensi membuat sebagian pengguna memilih platform luar negeri.

Situasi ini bukan hanya berdampak pada volume perdagangan lokal, tetapi juga memunculkan risiko capital outflow atau arus modal keluar dari Indonesia. Jika semakin banyak transaksi dilakukan di luar negeri, likuiditas di pasar domestik bisa tergerus dan daya saing industri nasional ikut melemah.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa masih ada ruang besar untuk memperkuat ekosistem kripto dalam negeri—baik dari sisi regulasi, biaya, maupun pengalaman pengguna.


CFX Siap Turunkan Biaya Bursa Mulai 1 Maret 2026

Menanggapi tantangan tersebut, CFX sebagai bursa berjangka aset kripto mengumumkan rencana penyesuaian biaya transaksi bagi para anggotanya, yakni Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD).

CFX berencana menurunkan biaya transaksi bursa dari 0,04 persen menjadi 0,02 persen, yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Maret 2026. Langkah ini diharapkan mampu:

  • memperkuat likuiditas pasar domestik,

  • mendorong peningkatan volume perdagangan,

  • serta membuat ekosistem kripto lokal lebih kompetitif dibandingkan platform luar negeri.


Respons Industri: Tekan Capital Outflow, Jaga Daya Saing

Pelaku industri menyambut rencana tersebut dengan optimistis. CEO TokoCrypto, Calvin Kizana, menilai penurunan biaya transaksi sebagai strategi penting untuk mempertahankan pengguna di dalam negeri.

“Ketika biaya transaksi dan pengalaman perdagangan di dalam negeri belum cukup kompetitif, pengguna bisa memilih bertransaksi di exchange luar negeri. Ini berpotensi menyebabkan capital outflow dan mengurangi likuiditas di pasar domestik,” ujar Calvin.

Menurutnya, kebijakan keringanan biaya dari bursa memberi ruang bagi anggota PAKD untuk menawarkan tarif yang lebih efisien kepada pengguna akhir.

“Penurunan fee oleh CFX merupakan sinyal positif. Dengan biaya transaksi yang lebih rendah di level bursa, PAKD punya ruang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat likuiditas, dan mendorong transaksi tetap terjadi di Indonesia,” katanya.

Calvin juga menambahkan bahwa ramainya percakapan publik seharusnya bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan transaksi jika ekosistem industri makin kompetitif.

“Minat masyarakat terhadap kripto terlihat jelas dari percakapan yang meningkat. Tantangannya adalah memastikan industri dalam negeri mampu mengonversi minat itu menjadi aktivitas transaksi yang sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.


Ramai di Media Sosial, Sepi di Transaksi?

Fenomena naiknya atensi publik tapi turunnya nilai transaksi menjadi pengingat bahwa popularitas saja tidak cukup. Industri kripto membutuhkan kombinasi biaya yang efisien, likuiditas kuat, serta ekosistem yang mampu bersaing dengan platform global.

Rencana penurunan biaya transaksi oleh CFX, ditambah peran aktif PAKD dalam melayani pengguna, diharapkan bisa menjadi katalis untuk mengembalikan pertumbuhan transaksi di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kawasan.

Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan industri kripto nasional dan kebijakan terbaru seputar aset digital, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

 Baca Juga: Indodax: Fundamental Kripto Masih Kuat di Tengah Gejolak Global

Baca Juga: Investor Kripto Kehilangan Rp208 Miliar Akibat Address Poisoning, Begini Modusnya

FAQ

1. Mengapa transaksi kripto di Indonesia turun pada 2025?

Nilai transaksi kripto turun karena sejumlah faktor, salah satunya struktur biaya perdagangan yang dinilai belum cukup efisien. Kondisi ini membuat sebagian pengguna memilih bertransaksi di platform luar negeri.


2. Berapa penurunan nilai transaksi kripto di Indonesia?

Sepanjang 2025, nilai transaksi kripto tercatat Rp482,23 triliun, turun 25,9 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp650,61 triliun.


3. Apakah minat masyarakat terhadap kripto ikut menurun?

Tidak. Riset Dataxet Sonar menunjukkan percakapan tentang kripto di media sosial justru meningkat sekitar 29,8 persen pada 2025, dengan total engagement mencapai 217,7 juta.


4. Apa itu capital outflow dalam konteks kripto?

Capital outflow adalah arus modal keluar dari dalam negeri, misalnya ketika investor Indonesia melakukan transaksi di bursa kripto luar negeri sehingga dana tidak berputar di pasar domestik.


5. Apa langkah yang dilakukan industri untuk mengatasi penurunan transaksi?

CFX berencana menurunkan biaya transaksi bursa dari 0,04 persen menjadi 0,02 persen mulai 1 Maret 2026 untuk meningkatkan likuiditas dan daya saing pasar lokal.


6. Siapa yang dimaksud dengan PAKD?

PAKD adalah Pedagang Aset Keuangan Digital, yaitu pihak yang menjadi anggota bursa dan melayani transaksi kripto bagi masyarakat.


7. Mengapa penurunan biaya transaksi dianggap penting?

Biaya yang lebih rendah memberi ruang bagi platform domestik untuk menawarkan tarif lebih kompetitif kepada pengguna, sehingga dapat menekan risiko capital outflow dan menjaga likuiditas pasar.


8. Apakah penurunan biaya transaksi bisa mendorong kembali volume perdagangan kripto?

Pelaku industri menilai langkah ini berpotensi membantu mengonversi tingginya minat publik menjadi aktivitas transaksi yang lebih aktif dan berkelanjutan di Indonesia.


9. Apa peran percakapan di media sosial dalam industri kripto?

Percakapan publik mencerminkan minat masyarakat terhadap kripto, Web3, dan blockchain, tetapi belum tentu langsung berdampak pada peningkatan transaksi jika faktor pendukung lainnya belum optimal.


10. Kapan kebijakan penurunan biaya transaksi CFX mulai berlaku?

Rencana penyesuaian biaya transaksi bursa dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Maret 2026.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.