Akurat

Koreksi Bitcoin Picu Divergensi Strategi Antar Investor

Demi Ermansyah | 3 Februari 2026, 16:30 WIB
Koreksi Bitcoin Picu Divergensi Strategi Antar Investor

AKURAT.CO Koreksi tajam Bitcoin dalam beberapa hari terakhir tidak hanya mencerminkan tekanan pasar global, tetapi juga memperlihatkan perbedaan strategi yang kontras di antara pelaku pasar kripto.

Data on-chain yang dikutip pelaku industri menunjukkan bahwa saat investor ritel cenderung melakukan aksi jual karena kepanikan, kelompok pemegang besar atau “Mega-Whales” dengan kepemilikan lebih dari 1.000 Bitcoin justru melakukan akumulasi secara bertahap.

Vice President Indodax, Antony Kusuma mengatakan fenomena ini menjadi anomali menarik di tengah sentimen pasar yang didominasi ketakutan.

Baca Juga: Bitcoin Jebol USD88.000, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Global

“Saat ritel menjual karena panik, investor besar justru menyerap pasokan dari pasar. Ini menunjukkan perbedaan horizon dan strategi investasi,” ujarnya di Jakarta, Selasa.

Harga Bitcoin sebelumnya sempat turun ke kisaran USD74.000 sebelum rebound ke sekitar USD77.000. Pergerakan ini dipicu kombinasi faktor global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS.

Antony menjelaskan, sifat pasar kripto yang beroperasi 24/7 membuat Bitcoin menjadi salah satu aset paling responsif terhadap sentimen global. Setiap gejolak makro dapat langsung tercermin pada volatilitas harga.

Risk-off sentiment, katanya, tidak hanya menekan kripto. Aset tradisional seperti emas dan perak juga mengalami tekanan jual, menandakan investor global cenderung meningkatkan likuiditas di tengah ketidakpastian.

Meski volatilitas tinggi, Antony menilai struktur pasar kripto saat ini lebih matang dibanding beberapa tahun lalu. Keterlibatan institusi besar melalui ETF serta penguatan infrastruktur pasar dinilai meningkatkan ketahanan ekosistem.

Baca Juga: Investor Kripto Kehilangan Rp208 Miliar Akibat Address Poisoning, Begini Modusnya

“Fundamental industri saat ini jauh lebih siap menghadapi tekanan dibanding 2022,” ujarnya.

Namun ia mengingatkan, volatilitas tetap membawa risiko tinggi, terutama bagi investor yang tidak memiliki perencanaan matang.

Ia menyarankan investor Indonesia untuk tetap tenang, meninjau ulang profil risiko, serta tidak membuat keputusan berbasis emosi sesaat. Disiplin terhadap strategi jangka panjang dan diversifikasi dinilai penting untuk menjaga stabilitas portofolio.

Selain itu, pemahaman terhadap dinamika pasar dan faktor makro global juga menjadi kunci. Untuk itu, Indodax menyediakan kanal edukasi melalui INDODAX Academy dan pembaruan informasi pasar lewat INDODAX News.

“Kami ingin pengguna memiliki pemahaman yang memadai agar dapat mengambil keputusan secara rasional di tengah dinamika ekonomi digital global,” kata Antony.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.