Reli SKR Kehilangan Tenaga, Harga Terkoreksi 25% dalam Sehari

AKURAT.CO Reli tajam token Seeker (SKR) mulai kehilangan tenaga. Setelah sempat melonjak hingga 200% pasca peluncuran awal pekan ini, harga SKR kini memasuki fase koreksi dengan penurunan hampir 25% dalam 24 jam terakhir.
Perubahan arah harga ini tidak terjadi tanpa sebab. Data on-chain dan teknikal menunjukkan adanya pergeseran pelaku pasar, dari smart money yang sebelumnya menopang harga, menuju akumulasi whale di tengah meningkatnya suplai token ke exchange.
VWAP Jebol, Smart Money Pilih Keluar
Dikutip dari BeinCrypto, Minggu (25/1/2026) sinyal pelemahan pertama muncul pada 24 Januari, saat harga Seeker pada grafik satu jam turun menembus Volume Weighted Average Price (VWAP). Secara teknikal, VWAP menjadi acuan penting untuk membaca apakah pasar masih dikuasai pembeli atau mulai memasuki fase distribusi.
Baca Juga: 6 Tren Utama di Industri Kripto di Tahun 2026 Menurut PwC
Ketika harga bergerak di bawah VWAP, tekanan jual dinilai lebih dominan dibanding akumulasi sehat. Kondisi inilah yang memicu langkah tegas smart money untuk mengurangi eksposur.
Data menunjukkan, dalam 24 jam terakhir, wallet smart money memangkas kepemilikan SKR hingga 56,48%, atau setara sekitar 8,5 juta SKR. Aksi ini menandakan keluarnya pelaku berpengalaman setelah struktur jangka pendek gagal dipertahankan.
“Smart money biasanya bergerak lebih awal. Ketika mereka keluar setelah VWAP gagal dipertahankan, itu sinyal bahwa rasio risiko dan potensi keuntungan jangka pendek sudah tidak lagi menarik,” tulis analis on-chain.
Whale Masuk Saat Harga Terkoreksi
Menariknya, di tengah keluarnya smart money, whale justru melakukan akumulasi. Fenomena ini terlihat dari divergensi antara harga dan Money Flow Index (MFI).
Pada periode 23–24 Januari, harga SKR masih bergerak turun, namun MFI justru naik. Pola ini secara teknikal mengindikasikan adanya akumulasi diam-diam di fase koreksi.
Baca Juga: Kontribusi Pajak Kripto Tembus Rp719 Miliar, OJK Ungkap Tantangan Industri
Sejalan dengan sinyal tersebut, kepemilikan whale tercatat naik 40,78% dalam 24 jam, sehingga totalnya mencapai 56,49 juta SKR. Artinya, sekitar 16,3 juta SKR diserap whale saat harga melemah.
“Berbeda dengan smart money yang fokus pada momentum jangka pendek, whale cenderung masuk saat harga terkoreksi, dengan horizon investasi yang lebih panjang,” jelas laporan data Nansen.
Namun, akumulasi whale belum cukup untuk mengangkat harga kembali ke tren naik.
Lonjakan Saldo Exchange Tekan Harga
Risiko utama Seeker saat ini datang dari sisi suplai. Dalam 24 jam terakhir, saldo SKR di exchange melonjak 10,94% menjadi 453,67 juta token, atau bertambah sekitar 44,8 juta SKR.
Lonjakan ini mengindikasikan meningkatnya potensi aksi jual, baik dari smart money yang keluar maupun dari investor ritel yang melakukan profit-taking.
Tekanan tersebut juga tercermin pada indikator On-Balance Volume (OBV) di grafik empat jam. Meski harga sempat bertahan di level tinggi, OBV justru menunjukkan tren menurun menunjukan tanda bahwa reli sebelumnya tidak didukung permintaan yang kuat.
“Ketika harga bertahan tetapi OBV turun, itu menunjukkan reli digerakkan oleh permintaan yang menipis, bukan akumulasi solid,” tulis analis teknikal.
Level Kunci dan Risiko Lanjutan
Secara teknikal, level USD0,028 menjadi area krusial. Penutupan harga yang jelas di bawah level ini, disertai breakdown OBV, berpotensi membuka ruang koreksi lanjutan menuju USD0,0120.
Sebaliknya, untuk membangun kembali kepercayaan pasar, Seeker perlu merebut kembali area USD0,043. Setelah itu, USD0,053 menjadi zona resistance utama yang sulit ditembus tanpa dukungan volume signifikan.
Kesimpulannya, struktur pasar Seeker saat ini mencerminkan ketidakseimbangan. Smart money telah menyingkir, whale mulai mengakumulasi, sementara exchange dipenuhi suplai. Selama kondisi ini belum berubah, harga SKR masih berada dalam fase rentan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










