Akurat

Tren Penurunan Harga Bitoin, Analis Wall Street: Tak Terkait Fundamental

Yosi Winosa | 10 Januari 2026, 17:46 WIB
Tren Penurunan Harga Bitoin, Analis Wall Street: Tak Terkait Fundamental

AKURAT.CO Penurunan harga Bitcoin (BTC) dalam beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran investor, terutama di tengah meningkatnya volatilitas pasar aset kripto global.

Namun, analis Wall Street menilai pelemahan Bitcoin bukan disebabkan oleh masalah fundamental, melainkan lebih karena faktor teknis seperti struktur pasar dan tekanan penjualan dari produk Exchange Traded Fund (ETF).

Dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (10/1/2026) berdasarkan data terbaru, harga Bitcoin saat ini berada di kisaran Rp1,54 miliar per koin, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.678 triliun dan volume perdagangan harian menembus Rp760,96 triliun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa minat terhadap Bitcoin masih sangat besar, meskipun pergerakan harganya cenderung fluktuatif.

Baca Juga: Harga Bitcoin Tertekan di Awal Tahun, Ini Proyeksi BTC 2026 di Tengah Volatilitas Global

Analis menilai koreksi harga ini bersifat sementara dan justru mencerminkan fase pendewasaan pasar kripto, seiring meningkatnya partisipasi investor institusional dan ritel melalui ETF Bitcoin.

Analisis Wall Street: Penurunan Bitcoin Bersifat Sementara

Analis Ekuitas Fintech dari William Blair, Andrew Jeffery, menyatakan bahwa penurunan harga kripto yang terjadi belakangan tidak perlu disikapi secara berlebihan. Jeffery juga menegaskan Bitcoin masih memiliki peran strategis dalam ekosistem kripto jangka panjang.

Menurutnya, koreksi harga Bitcoin sejalan dengan pelemahan pasar keuangan global secara umum. Namun, hal tersebut tidak mengubah prospek jangka panjang BTC sebagai aset digital dengan nilai strategis.

Jeffery bahkan menyebut Bitcoin sebagai aset yang masih “belum matang”, mengingat kapitalisasi pasarnya yang saat ini berada di kisaran US$1,9 triliun, relatif kecil jika dibandingkan dengan aset global lainnya.

Konsentrasi Pasokan Jadi Sumber Volatilitas BTC

Salah satu faktor utama yang menekan harga Bitcoin adalah tingginya konsentrasi kepemilikan. Jeffery mencatat sekitar sepertiga dari total suplai Bitcoin berada di sekitar 2 juta dompet, sehingga membuat pergerakan harga lebih sensitif terhadap aksi jual.

Selain itu, investor ritel baru yang masuk melalui ETF Bitcoin cenderung lebih reaktif. Ketika harga mengalami koreksi, kelompok investor ini umumnya menjadi pihak pertama yang melepas aset, sehingga memperbesar volatilitas pasar.

Bitcoin vs Emas: Siapa Lebih Unggul?

Jeffery menilai Bitcoin memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan emas, mulai dari biaya penyimpanan yang lebih rendah, suplai yang terbatas, hingga kemudahan transfer lintas negara.

Saat ini, kapitalisasi pasar emas diperkirakan masih sekitar 15 kali lebih besar dibandingkan Bitcoin. Meski begitu, Jeffery optimistis kesenjangan tersebut akan terus menyempit seiring meningkatnya adopsi aset kripto secara global.

Dirinya juga menyoroti fakta bahwa Bitcoin merupakan salah satu aset dengan kinerja terbaik dalam satu dekade terakhir, yang memperkuat argumen bahwa BTC masih memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan.

Stablecoin Lebih Efektif dari Bitcoin

Meski optimistis terhadap Bitcoin, Jeffery menilai BTC bukanlah alat pembayaran yang ideal. Menurutnya, peran tersebut lebih cocok diisi oleh stablecoin yang memiliki nilai lebih stabil.

Dalam hal ini, Jeffery menaruh perhatian besar pada US Dollar Coin (USDC) yang diterbitkan oleh Circle. Stablecoin ini dinilai memiliki prospek cerah seiring meningkatnya kebutuhan transaksi digital berbasis dolar AS.

Selain Circle, Coinbase juga disebut sebagai pemain kunci dalam infrastruktur kripto di Amerika Serikat. Posisi Coinbase sebagai pusat ekosistem kripto dinilai memberikan keunggulan kompetitif yang kuat.

Koreksi BTC Bukan Sinyal Bahaya

Penurunan harga Bitcoin saat ini dinilai lebih mencerminkan dinamika pasar dan tekanan jangka pendek, bukan pelemahan fundamental. Wall Street justru melihat fase ini sebagai bagian dari proses pendewasaan industri kripto.

Dengan adopsi institusional yang terus meningkat, serta dukungan infrastruktur dari pemain besar seperti Circle dan Coinbase, prospek aset kripto dinilai masih solid untuk jangka menengah hingga panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa