Akurat

Waspada Kredit Macet! Ini 7 Strategi Penting Agar Arus Kas Usaha Kecil Tetap Aman

Eko Krisyanto | 8 Januari 2026, 20:05 WIB
Waspada Kredit Macet! Ini 7 Strategi Penting Agar Arus Kas Usaha Kecil Tetap Aman

AKURAT.CO Bagi pelaku usaha kecil dan menengah, menjaga kestabilan arus kas menjadi kunci agar bisnis tetap berjalan sehat.

Salah satu ancaman terbesar terhadap arus kas adalah kredit macet, yakni kondisi ketika pelanggan gagal memenuhi kewajiban pembayaran sesuai kesepakatan.

Meski penjualan secara kredit kerap digunakan untuk menarik pelanggan dan meningkatkan omzet, risiko gagal bayar dapat menimbulkan tekanan serius terhadap keuangan usaha.

Bahkan satu atau dua pelanggan yang menunggak pembayaran dapat mengganggu operasional, mulai dari keterlambatan pembayaran pemasok hingga terganggunya pembayaran gaji karyawan.

Tak sedikit usaha kecil yang akhirnya gagal berkembang akibat kredit macet, meski memiliki potensi besar. Karena itu, pengelolaan risiko kredit menjadi keharusan, bukan sekadar pilihan.

Kredit macet tidak selalu disebabkan niat buruk pelanggan. Faktor ekonomi, perubahan pasar, hingga kesalahan pengelolaan keuangan kerap menjadi pemicunya.

Oleh sebab itu, pelaku usaha perlu bersikap proaktif dengan membangun sistem manajemen kredit yang sehat sejak awal.

Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan pelaku usaha kecil untuk memitigasi risiko kredit macet:

Baca Juga: OKX Catat Pertumbuhan Aset Pengguna dalam Laporan Proof of Reserves Terbaru

1. Analisis kelayakan kredit sejak awal

Sebelum memberikan fasilitas kredit, pelaku usaha perlu menilai kelayakan pelanggan, mulai dari riwayat pembayaran, kondisi keuangan, hingga rekam jejak kerja sama sebelumnya.

Analisis sederhana melalui wawancara, referensi, atau catatan transaksi sudah cukup membantu mengukur risiko.

2. Tetapkan batas dan syarat kredit yang jelas

Setiap pelanggan perlu memiliki batas kredit dan jangka waktu pembayaran yang disesuaikan dengan profil risikonya.

Pelanggan baru sebaiknya diberi batas lebih kecil, sementara pelanggan lama dengan reputasi baik dapat memperoleh kelonggaran. Seluruh ketentuan sebaiknya dituangkan dalam perjanjian tertulis untuk menghindari sengketa.

3. Pantau pembayaran secara rutin

Kelalaian memantau jatuh tempo sering menjadi awal kredit macet.

Pelaku usaha disarankan menggunakan sistem pencatatan dan pengingat, baik melalui aplikasi akuntansi, kalender digital, maupun laporan piutang berkala, agar potensi masalah terdeteksi lebih dini.

4. Bangun komunikasi aktif dengan pelanggan

Komunikasi yang terbuka dan profesional dapat mencegah kredit macet membesar.

Jika terjadi keterlambatan, pelaku usaha perlu segera menghubungi pelanggan, mencari tahu penyebabnya, dan menawarkan solusi seperti pembayaran bertahap, tanpa pendekatan konfrontatif.

5. Diversifikasi pelanggan dan pendapatan

Ketergantungan pada segelintir pelanggan meningkatkan risiko keuangan. Diversifikasi basis pelanggan serta keseimbangan antara penjualan kredit dan tunai dapat menjaga arus kas tetap stabil.

6. Manfaatkan asuransi atau penjamin kredit

Pelaku usaha juga dapat mempertimbangkan asuransi kredit atau layanan penjaminan pembiayaan untuk melindungi bisnis dari risiko gagal bayar.

Baca Juga: Bibit.id Tutup 2025 dengan Pertumbuhan Investor dan Rekor MURI

Fasilitas ini tersedia melalui berbagai lembaga keuangan dan dapat menjadi solusi mitigasi risiko yang legal dan efisien.

7. Siapkan dana cadangan

Risiko kredit tidak selalu dapat dihindari sepenuhnya. Karena itu, pelaku usaha perlu menyisihkan sebagian laba sebagai dana cadangan untuk menutup potensi piutang bermasalah.

Idealnya, dana cadangan dialokasikan secara rutin sekitar 3–5 persen dari total penjualan kredit.

Dengan perencanaan yang matang dan pengelolaan risiko yang tepat, kredit macet dapat dikendalikan tanpa menghambat pertumbuhan bisnis.

Langkah preventif ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha kecil dan menengah di tengah dinamika ekonomi.

Laporan: Bunga Adinda/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.