Akurat

Pertama dalam Hampir Dua Windu, Bitcoin Tak Ikuti Pola Halving 4 Tahunan

Yosi Winosa | 3 Januari 2026, 17:25 WIB
Pertama dalam Hampir Dua Windu, Bitcoin Tak Ikuti Pola Halving 4 Tahunan

AKURAT.CO Bitcoin (BTC) menutup akhir tahun 2025 dengan pergerakan yang tidak biasa. Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir, aset kripto terbesar di dunia ini tidak mengikuti pola siklus empat tahunan yang selama ini menjadi rujukan utama investor. 

Alih-alih menguat pasca pemotongan hadiah penambangan (halving), harga Bitcoin justru mencatatkan penurunan yang cukup signifikan. Dikutip dari beberapa sumber, Sabtu (3/1/2026) berdasarkan data pasar, harga Bitcoin berada di kisaran Rp1,5 miliar per koin dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp29.775 triliun. 
 
Volume perdagangan tercatat masih tinggi, menandakan aktivitas pasar yang tetap ramai meski harga belum menunjukkan pemulihan kuat. Suplai Bitcoin yang beredar mendekati 20 juta koin, semakin mendekati batas maksimal yang telah ditetapkan dalam protokolnya.

Penyimpangan ini menjadi sorotan karena selama lebih dari satu dekade, Bitcoin dikenal konsisten mengikuti ritme pasca-halving. Biasanya, tahun setelah pemotongan hadiah penambangan diwarnai kenaikan harga, disusul reli yang lebih besar pada tahun berikutnya sebelum mencapai puncak siklus. Namun, tahun 2025 justru mencatatkan anomali dari pola historis tersebut.
 

Meski demikian, para pelaku pasar menilai perubahan ini tidak serta-merta mencerminkan pelemahan fundamental. Sebaliknya, kondisi tersebut dipandang sebagai tanda bahwa pasar Bitcoin mulai memasuki fase yang lebih matang. Pergerakan harga kini dinilai tidak lagi semata-mata digerakkan oleh euforia halving, melainkan lebih sensitif terhadap dinamika ekonomi global.

Masuknya investor institusional dalam beberapa tahun terakhir turut mengubah karakter pasar. Kehadiran produk seperti ETF spot Bitcoin serta likuiditas yang semakin dalam membuat pergerakan harga BTC kian terhubung dengan faktor makro, seperti kebijakan moneter global, inflasi, dan arah suku bunga bank sentral utama dunia.

Menjelang 2026, data on-chain mulai menunjukkan sinyal menarik. Pemegang besar Bitcoin atau yang kerap disebut whale dilaporkan kembali aktif mengakumulasi aset. Dompet dengan kepemilikan di atas 1.000 BTC tercatat meningkatkan saldo mereka dalam tren 30 hari terakhir, setelah sebelumnya relatif pasif.

Pergerakan whale ini kerap menjadi perhatian karena dalam siklus-siklus sebelumnya, akumulasi oleh pemegang besar sering terjadi menjelang fase penguatan harga. Aksi ini mengindikasikan adanya keyakinan jangka menengah hingga panjang terhadap prospek Bitcoin pada level harga saat ini.

Selain itu, saldo Bitcoin di bursa kripto terus mengalami penurunan. Fenomena ini biasanya diartikan sebagai berkurangnya niat jual dalam jangka pendek, karena koin yang ditarik dari bursa cenderung disimpan di dompet pribadi. Penurunan pasokan yang tersedia di pasar berpotensi menciptakan tekanan ke atas harga apabila permintaan kembali meningkat.

Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini bergerak dalam kisaran yang relatif sempit. Selama lebih dari satu bulan, harga tercatat bergerak sideways tanpa arah yang jelas. Zona resistensi utama berada di sekitar level psikologis USD100.000, sementara area dukungan kuat terbentuk di kisaran USD84.000.

Level USD100.000 dinilai krusial karena sebelumnya menjadi bagian dari area tertinggi sepanjang masa Bitcoin. Zona ini berpotensi memicu tekanan jual apabila harga kembali mendekat. Namun, jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, hal itu bisa menjadi sinyal kebangkitan tren naik yang lebih kuat.

Sebaliknya, selama harga masih tertahan di antara dua level kunci tersebut, pasar diperkirakan akan terus bergerak menunggu katalis baru. 
 
Faktor global, mulai dari kebijakan perdagangan internasional hingga arah suku bunga Amerika Serikat, diyakini akan memainkan peran besar dalam menentukan arah Bitcoin selanjutnya.

Dengan dinamika tersebut, tahun 2026 dipandang sebagai periode penting bagi Bitcoin untuk membuktikan perannya sebagai aset global yang matang. Meski siklus klasiknya tampak mulai bergeser, minat investor besar dan struktur pasar yang semakin dalam menjadi penopang utama optimisme jangka panjang terhadap aset kripto ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa