Harga Bitcoin Melemah, Apakah Harganya Bisa Tembus US$100.000 sebelum Akhir Tahun?

AKURAT.CO Pergerakan harga Bitcoin kembali mencuri perhatian pasar kripto menjelang penutupan tahun 2025. Setelah mengalami koreksi mingguan cukup dalam, banyak investor mulai bertanya-tanya: apakah Bitcoin masih punya peluang menembus level psikologis US$100.000 sebelum pergantian tahun, atau justru harus bersabar lebih lama?
Tekanan jual yang meningkat, likuidasi besar-besaran, hingga sentimen global membuat arah pergerakan BTC terlihat tidak sesederhana beberapa bulan lalu. Meski begitu, sejumlah indikator teknikal dan fundamental menunjukkan bahwa peluang pemulihan belum sepenuhnya tertutup.
Tekanan Jual Bitcoin Meningkat, Apa yang Terjadi di Pasar?
Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin tercatat melemah sekitar 6,48%. Koreksi ini memuncak pada 15 Desember 2025, ketika pasar diguncang aksi jual agresif yang memicu likuidasi posisi long senilai sekitar US$200 juta hanya dalam satu jam.
Situasi tersebut membuat harga BTC menembus level support penting di US$87.000 dan sempat menyentuh area US$85.000. Setelah tekanan mereda, Bitcoin mulai bergerak stabil dan kini diperdagangkan di kisaran US$86.000.
Menariknya, meski harga sempat tertekan cukup dalam, volume jual tidak menunjukkan lonjakan ekstrem. Kondisi ini memberi sinyal bahwa penurunan harga lebih menyerupai koreksi sehat, bukan awal dari perubahan tren besar.
Bearish Masih Dominan, tapi Ada Tanda Stabilisasi
Secara teknikal, tekanan dari kubu bearish memang masih terasa. Namun, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda penyeimbangan. Harga yang mampu bertahan di area US$86.000 menjadi indikasi bahwa sebagian pelaku pasar memilih menunggu, alih-alih terus melepas asetnya.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan Bitcoin cenderung sensitif terhadap sentimen jangka pendek, terutama yang berkaitan dengan arus dana institusional dan kebijakan makro global.
Arus Dana ETF Tertekan, Korporasi Justru Terus Akumulasi
Dari sisi fundamental, dinamika pasar terlihat cukup kontras. Investor institusional tercatat melakukan penarikan dana dari spot Bitcoin ETF, mencerminkan sikap lebih berhati-hati terhadap kondisi pasar saat ini.
Namun di sisi lain, akumulasi Bitcoin oleh korporasi masih terus berlangsung. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelaku pasar jangka panjang tetap memandang Bitcoin sebagai aset strategis, terlepas dari volatilitas jangka pendek.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai perbedaan ini sebagai gambaran psikologi pasar saat ini.
“Penarikan dana dari ETF mencerminkan sikap hati-hati investor institusional terhadap kondisi makro saat ini. Namun, berlanjutnya akumulasi oleh korporasi menandakan bahwa kepercayaan terhadap fundamental Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang masih cukup kuat,” ujarnya melalui hasil riset yang diterima AKURAT.CO, Kamis, 18 Desember 2025.
Level Teknikal Penentu Arah Bitcoin Selanjutnya
Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin sangat ditentukan oleh beberapa level teknikal kunci. Area US$88.000 hingga US$89.000 saat ini menjadi zona krusial yang diawasi pelaku pasar.
Jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan lanjutan terbuka lebar dengan target berikutnya di kisaran US$90.000 hingga US$95.000. Penembusan di atas US$95.000 bahkan dinilai bisa memulihkan sentimen bullish dan membuka jalan menuju uji ulang level US$100.000 sebelum akhir tahun.
Sebaliknya, risiko penurunan masih membayangi jika tekanan jual kembali meningkat. Support kuat berada di area US$85.000. Apabila level ini gagal dipertahankan, Bitcoin berpotensi turun lebih dalam ke US$83.000, bahkan hingga US$80.500.
Fyqieh menegaskan bahwa fase ini sangat menentukan arah pasar ke depan.
“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas US$86.000, peluang pemulihan masih terbuka. Namun, kegagalan mempertahankan level tersebut bisa memicu fase konsolidasi lebih panjang dan menunda potensi reli hingga awal 2026,” jelasnya.
Sentimen Global Jadi Tantangan Tambahan
Selain faktor teknikal dan arus dana, pasar kripto juga dibayangi sentimen global. Salah satu yang menjadi sorotan adalah rencana kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan.
Secara historis, kebijakan pengetatan moneter Jepang kerap memicu volatilitas di aset berisiko, termasuk Bitcoin. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya likuiditas dari yen carry trade yang selama ini menjadi salah satu sumber dana global.
Di sisi lain, level US$100.000 kini dipandang sebagai resistance psikologis yang sangat kuat. Beberapa analis global menilai area ini berpotensi menjadi zona ambil untung bagi investor yang sebelumnya membeli di harga tinggi, sehingga bisa menahan laju kenaikan dalam jangka pendek.
CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, bahkan menyebut bahwa tekanan jual di area tersebut cukup signifikan dan tidak mudah ditembus tanpa katalis besar.
Proyeksi Harga Bitcoin Jelang Tutup Tahun 2025
Melihat kombinasi faktor teknikal, fundamental, dan sentimen global, proyeksi harga Bitcoin saat ini berada pada fase netral ke bullish. Selama BTC mampu bertahan di atas US$86.000, skenario pemulihan masih relevan.
Penembusan di atas US$92.000 berpotensi menggeser outlook pasar kembali ke arah bullish, meski jalan menuju US$100.000 diperkirakan tidak akan mudah dan membutuhkan dorongan volume serta sentimen positif yang kuat.
“Pasar masih membutuhkan katalis yang kuat untuk menembus resistance besar. Selama belum ada dorongan volume dan sentimen yang signifikan, pergerakan Bitcoin cenderung bergerak sideways dengan volatilitas tinggi,” tutup Fyqieh.
Kesimpulan: BTC Masih Punya Peluang, tapi Tantangan Tak Kecil
Harga Bitcoin memang tengah melemah menjelang akhir tahun, namun peluang untuk kembali menguat belum sepenuhnya tertutup. Level teknikal krusial, dinamika arus dana, serta sentimen global akan menjadi penentu apakah BTC mampu mendekati, atau bahkan menembus, US$100.000 dalam waktu dekat.
Bagi investor dan trader, fase ini menuntut kewaspadaan sekaligus kesabaran dalam membaca arah pasar. Jika kamu tertarik mengikuti perkembangan harga Bitcoin dan analisis pasar kripto terbaru, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Aduh, Bitcoin Berpotensi Terjun Bebas ke USD10.000 di 2026
Baca Juga: Bitcoin Konsolidasi di USD90.000, Pasar Cermati Sinyal The Fed
FAQ
1. Kenapa harga Bitcoin melemah menjelang akhir tahun 2025?
Harga Bitcoin melemah karena meningkatnya tekanan jual dalam jangka pendek, termasuk likuidasi posisi long bernilai besar dan sikap hati-hati investor terhadap kondisi makroekonomi global. Faktor seperti arus keluar dana dari spot Bitcoin ETF juga ikut menekan pergerakan harga.
2. Apakah penurunan harga Bitcoin saat ini menandakan tren bearish baru?
Tidak sepenuhnya. Rendahnya volume jual menunjukkan bahwa penurunan ini lebih mengarah ke koreksi sehat dibandingkan perubahan tren besar. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level support kunci, peluang pemulihan masih terbuka.
3. Berapa level support dan resistance penting Bitcoin saat ini?
Level support utama Bitcoin berada di area US$85.000. Jika level ini jebol, harga berpotensi turun ke US$83.000 hingga US$80.500. Sementara itu, resistance krusial berada di kisaran US$88.000–US$89.000, lalu US$95.000 sebagai penghalang menuju US$100.000.
4. Masih mungkinkah Bitcoin menembus US$100.000 sebelum akhir tahun?
Peluangnya masih ada, namun cukup menantang. Bitcoin perlu menembus dan bertahan di atas area US$95.000 untuk membuka jalan menuju US$100.000. Tanpa katalis besar dan dorongan volume yang kuat, pergerakan harga cenderung bergerak sideways dengan volatilitas tinggi.
5. Kenapa arus dana Bitcoin ETF justru menurun?
Penarikan dana dari Bitcoin ETF mencerminkan sikap defensif investor institusional terhadap ketidakpastian makro global. Banyak investor memilih mengamankan keuntungan atau menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi global.
6. Mengapa korporasi masih terus mengakumulasi Bitcoin?
Korporasi umumnya memiliki pandangan jangka panjang. Mereka melihat Bitcoin sebagai aset lindung nilai dan bagian dari strategi diversifikasi, sehingga tetap melakukan akumulasi meski harga mengalami koreksi jangka pendek.
7. Seberapa besar pengaruh kebijakan Bank of Japan terhadap harga Bitcoin?
Rencana kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan dapat memicu volatilitas di aset berisiko, termasuk Bitcoin. Pengetatan moneter berpotensi mengurangi likuiditas global, terutama dari yen carry trade, yang selama ini mendukung pasar kripto.
8. Apa arti fase netral ke bullish dalam proyeksi harga Bitcoin?
Fase netral ke bullish berarti pasar belum sepenuhnya menguat, tetapi peluang kenaikan masih lebih besar dibandingkan risiko kejatuhan tajam. Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan Bitcoin bertahan di atas level support dan menembus resistance utama.
9. Apakah saat ini waktu yang tepat untuk membeli Bitcoin?
Keputusan membeli Bitcoin sangat bergantung pada profil risiko dan strategi masing-masing investor. Dalam kondisi pasar yang volatil, banyak pelaku pasar memilih menunggu konfirmasi arah harga atau melakukan pembelian bertahap.
10. Faktor apa yang bisa menjadi katalis kenaikan harga Bitcoin ke depan?
Katalis potensial meliputi peningkatan arus dana institusional, sentimen positif dari pasar global, stabilisasi kebijakan moneter, serta peningkatan volume perdagangan yang mendukung tren bullish.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








