Akurat

Aduh, Bitcoin Berpotensi Terjun Bebas ke USD10.000 di 2026

Hefriday | 17 Desember 2025, 17:52 WIB
Aduh, Bitcoin Berpotensi Terjun Bebas ke USD10.000 di 2026

AKURAT.CO Pasar kripto global kembali diliputi sentimen negatif setelah muncul peringatan keras mengenai potensi keruntuhan besar yang bisa terjadi pada 2026. 

Nilai pasar kripto yang saat ini diperkirakan mencapai sekitar USD3 triliun disebut berisiko menyusut tajam jika tekanan ekonomi global dan kebijakan moneter terus berlanjut.

Peringatan tersebut datang dari sejumlah analis senior yang menilai harga Bitcoin (BTC) berpotensi mengalami koreksi ekstrem hingga menyentuh level USD10.000. Proyeksi ini memicu kekhawatiran luas di kalangan investor, termasuk mereka yang selama ini dikenal optimistis terhadap masa depan aset digital.
 
Dikutip dari BeinCryptp, Rabu (17/12/2025), Laporan Forbes pada Rabu (17/12/2025) menyebutkan, kecemasan pasar meningkat seiring pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto lain yang melemah sejak mencapai puncaknya pada Oktober 2025. 
 
 
Kondisi ini memicu perdebatan apakah pasar kripto tengah memasuki fase koreksi sehat atau justru awal dari penurunan yang lebih dalam. Sejak mencetak rekor di kisaran USD126.000 per koin, harga Bitcoin tercatat telah turun lebih dari 30% ke area sedikit di atas USD85.000. 
 
Penurunan tajam ini mengingatkan pelaku pasar pada pola menjelang krisis finansial global 2008, ketika aset berisiko mulai melemah di tengah perubahan arah kebijakan bank sentral.
 
Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar juga dibayangi kebijakan The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang mengelola likuiditas sistem keuangan bernilai puluhan triliun dolar AS. 
 
Pengetatan atau perubahan arah kebijakan moneter dinilai berpotensi memberi tekanan besar pada aset spekulatif, termasuk kripto.
 
Ahli Strategi Komoditas Senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, secara terbuka menyampaikan kekhawatirannya terhadap prospek Bitcoin. Menurut dia, reli harga Bitcoin di atas USD100.000 justru bisa menjadi pemicu siklus penurunan yang membawa harga kembali ke kisaran USD10.000 pada 2026.
 
McGlone menilai pembalikan siklus penciptaan kekayaan dari aset berisiko tinggi berpotensi mendorong resesi berikutnya. 
 
Dirinya menyoroti karakteristik sebagian besar aset digital yang dinilai sangat spekulatif dan tidak memiliki fundamental yang jelas, sehingga rentan terhadap tekanan ekonomi makro.
 
Jika skenario terburuk itu terjadi, kejatuhan harga Bitcoin hingga hampir 90% dari level puncaknya dapat berdampak sistemik pada pasar kripto secara keseluruhan. Dengan valuasi saat ini sekitar USD3 triliun, pasar kripto berisiko menyusut drastis hingga hanya menyisakan ratusan miliar dolar AS.
 
Lebih lanjut, McGlone menyinggung fenomena yang ia sebut sebagai deflasi pascainflasi. Menurutnya, penurunan harga Bitcoin sejak Oktober 2025 terjadi bersamaan dengan perubahan sikap The Fed, termasuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September lalu, yang justru diikuti pelemahan harga aset digital.
 
Dirinya juga membandingkan kondisi pasar kripto saat ini dengan pasar saham Amerika Serikat pada 2007. Saat itu, saham sempat mencetak rekor di tengah upaya The Fed memangkas suku bunga, sebelum akhirnya anjlok tajam dan memicu krisis keuangan global 2008.
 
Kekhawatiran serupa turut disampaikan analis lain. Analis Pasar Senior Trade Nation, David Morrison, menilai pasar kripto menunjukkan tanda kelelahan. Menurutnya, kenaikan kecil harga Bitcoin belakangan ini belum cukup untuk menutup kerugian yang terjadi sebelumnya.
 
Meski Bitcoin sempat bangkit dari level terendah multi-bulan di sekitar USD80.000 di November 2025, Morrison menilai momentumnya kian terbatas. Ia memperingatkan adanya risiko harga kembali menembus level terendah tersebut dalam waktu dekat.
 
Secara historis, pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto lain sangat sensitif terhadap likuiditas global dan arah kebijakan moneter The Fed. Saat likuiditas melimpah dan suku bunga rendah, aset berisiko cenderung menguat. Namun ketika kebijakan diperketat, kripto sering menjadi salah satu aset pertama yang dilepas investor.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa