Akurat

Cuaca Ekstrem Akan Melanda di Tahun 2026, Peluang Besar Asuransi Parametrik untuk Petani Indonesia

Idham Nur Indrajaya | 26 November 2025, 15:06 WIB
Cuaca Ekstrem Akan Melanda di Tahun 2026, Peluang Besar Asuransi Parametrik untuk Petani Indonesia

AKURAT.CO Perubahan iklim kembali menjadi sorotan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan tahun 2026 akan menjadi periode yang penuh dinamika, ditandai meningkatnya fenomena cuaca ekstrem, kemarau basah, serta potensi hujan di atas normal. Kondisi tersebut dipicu oleh meningkatnya gas rumah kaca, salah satunya akibat deforestasi yang mempercepat pelepasan karbon dioksida ke atmosfer.

Di tengah ancaman tersebut, industri asuransi—terutama produk berbasis parametrik—diperkirakan memasuki fase pertumbuhan baru. Salah satu yang mulai mencuri perhatian adalah Zurich Syariah, yang mengembangkan produk asuransi indeks cuaca untuk memitigasi risiko ekonomi sektor pertanian yang rentan terhadap cuaca ekstrem.

Artikel ini mengulas bagaimana perubahan iklim tahun 2026 membuka peluang baru bagi industri asuransi, strategi Zurich Syariah dalam merespons risiko iklim, hingga pandangan para ahli mengenai masa depan industri proteksi di Indonesia.


2026: Tahun Transisi Iklim yang Penuh Ketidakpastian

BMKG mengingatkan bahwa 2026 bisa menjadi salah satu tahun terpenting dalam perubahan pola iklim Indonesia. Ketika hutan terus berkurang dan suhu permukaan meningkat, kondisi atmosfer menjadi makin tidak stabil. Kombinasi El Niño, Indian Ocean Dipole (IOD), dan pemanasan global disebut akan menciptakan pola cuaca yang sulit diprediksi.

Indonesia tak hanya berpotensi mengalami curah hujan tinggi. Pola kemarau basah—yakni musim kemarau yang tetap diguyur hujan di atas normal—diprediksi kembali muncul di pertengahan 2026. Sektor pertanian, perkebunan, hingga energi disebut perlu menyesuaikan diri dengan cepat agar tidak tertinggal menghadapi risiko yang lebih besar.


Risiko yang Meningkat, Perlindungan Semakin Dibutuhkan

Perubahan iklim yang makin ekstrem berdampak langsung pada penghidupan jutaan petani. Ketidakpastian musim tanam, gagal panen, hingga ancaman kerugian ekonomi membuat kebutuhan akan perlindungan risiko semakin mendesak.

Hal inilah yang menjadi perhatian Zurich Syariah. Presiden Direktur Zurich Syariah, Hilman Simanjuntak, menilai tren perubahan iklim justru semakin memperkuat urgensi asuransi parametrik di Indonesia.

“Justru kami melihat tren ini adalah salah satu cara untuk semakin meningkatkan awareness orang akan kebutuhan produk asuransi sebagai bagian dari risk management,” ujarnya di Graha Zurich, Jakarta, Rabu, 26 November 2025.

Menurut Hilman, produk parametrik Zurich Syariah yang berbasis indeks cuaca memang dirancang untuk membantu petani menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang semakin tidak pasti. Saat ini, produk tersebut memberikan perlindungan kepada petani kopi dan kakao, serta tengah dikembangkan untuk komoditas bawang merah.

Ia menambahkan:

“Produk ini memang dibuat untuk memanage risiko dari cuaca yang ekstrim. Jadi bisa dikatakan produk ini sangat relevan.”


Mengelola Risiko Klaim di Tengah Cuaca Ekstrem

Ketika ditanya mengenai potensi lonjakan klaim akibat cuaca ekstrem, Hilman menegaskan bahwa aspek tersebut sudah diperhitungkan sejak awal melalui proses underwriting, kajian teknis, dan penentuan harga.

Menariknya, Zurich Syariah tidak memandang klaim sebagai ancaman.

“Kami tidak worry dengan jumlah klaimnya berapa… Karena kami fokusnya lebih ke bagaimana supaya orang benar-benar aware bahwa produk ini dibutuhkan. Kalau ada klaim bagus, justru kalau kita pengen produk-produk kita ini, apalagi yang baru, ya ada klaimnya,” jelasnya.

Menurutnya, asuransi adalah produk yang berlandaskan janji. Momen pentingnya adalah ketika janji tersebut ditepati dan nasabah merasakan manfaatnya.


Lebih dari 17.000 Petani Sudah Terlindungi

Program indeks cuaca Zurich Syariah terus berkembang. Hingga tahun berjalan 2025 (YTD 2025), lebih dari 17.000 petani telah mendapatkan perlindungan.

Berikut sebarannya:

  • Bener Meriah, Aceh: 9.232 petani

  • Sigi dan Poso, Sulawesi Tengah: 1.505 petani

  • Tanggamus, Lampung: 1.279 petani

  • Kolaka, Sulawesi Tenggara: 5.000 petani

  • Blitar & Garut: 2.000 petani

  • Brebes & Blitar (Jawa Tengah): 5.000 petani

Angka tersebut baru sebagian kecil dari potensi yang bisa dikembangkan. Hilman menegaskan, total petani di Indonesia mencapai jutaan orang, sehingga ruang ekspansi masih sangat besar.


Upaya Ketahanan Iklim: Dari Para Petani hingga Kota-Kota di Jawa Tengah

Zurich Indonesia tak hanya fokus pada perlindungan sektor pertanian. Melalui Zurich Climate Resilience Alliance, perusahaan bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia dan pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan iklim di tujuh wilayah di Jawa Tengah.

Salah satu proyek besarnya adalah membantu menangani banjir permanen di wilayah Semarang yang berdampak pada sekitar 3 juta penduduk. Program ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko iklim yang terus meningkat.


Inovasi Berkelanjutan dan Digitalisasi Layanan

Zurich Syariah juga memperkuat bisnis lewat digitalisasi. Proses eSubmission dan ePolicy kini memiliki tingkat adopsi 76% hingga 100%, sehingga layanan menjadi semakin cepat dan efisien.

Selain itu, Zurich juga menghubungkan perlindungan asuransi dengan upaya lingkungan. Perusahaan mengonversi klaim menjadi kegiatan penanaman pohon, termasuk penanaman 4.000 bibit kopi dan 500 bibit cengkih di Desa Cipta Gelar.

Dari sisi operasional, perusahaan berhasil mengurangi penggunaan kertas hingga 67% dan menekan emisi internal sebesar 8%.


Pandangan Para Ahli: 2026 Akan Jadi Momentum Pertumbuhan Industri Asuransi

Kondisi iklim yang makin menantang terjadi bersamaan dengan proyeksi membaiknya ekonomi nasional pada 2026.

Ekonom dan Guru Besar FEB Universitas Indonesia, Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty, memproyeksikan bahwa industri asuransi akan memasuki fase pertumbuhan baru seiring meningkatnya konsumsi rumah tangga, daya beli masyarakat, serta kemungkinan turunnya suku bunga global.

Menurut Telisa:

“Ketika ketidakpastian ekonomi mereda, permintaan terhadap produk proteksi cenderung meningkat… Dengan penetrasi asuransi yang masih di bawah 3%, ruang ekspansi industri masih sangat besar.”

Senada dengan itu, Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia, Yulius Bhayangkara, menekankan pentingnya kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan asosiasi untuk membangun kepercayaan publik.

Ia menegaskan bahwa inovasi produk, literasi keuangan, dan transformasi digital akan menjadi motor utama untuk meningkatkan penetrasi dan memperkuat kontribusi sektor asuransi terhadap pembangunan berkelanjutan.


Strategi Zurich Indonesia Menyambut Tahun 2026

Sejalan dengan dinamika pasar dan proyeksi pertumbuhan ekonomi, Zurich Indonesia menyiapkan strategi penguatan yang meliputi:

  • peningkatan penetrasi produk existing,

  • perluasan distribusi dan kemitraan,

  • pengembangan produk yang lebih relevan dengan kebutuhan nasabah,

  • inovasi dan transformasi layanan berbasis digital.

Country Manager Zurich Indonesia, Edhi Tjahja Negara, menyatakan:

“Kami optimis melangkah ke depan dengan ekonomi Indonesia terus menguat, inovasi produk yang terus dikembangkan, serta generasi muda yang semakin menjadi fokus edukasi dan penetrasi produk.”

Kombinasi faktor ekonomi, inovasi, dan kesadaran mitigasi risiko diyakini akan menjadi landasan kuat bagi industri asuransi—terutama produk parametrik—untuk tumbuh lebih optimal pada 2026.


Kesimpulan: Cuaca Ekstrem 2026 Menjadi Peluang Emas bagi Asuransi Parametrik

Ketidakpastian iklim yang diproyeksikan BMKG untuk tahun 2026 memang membawa risiko besar bagi masyarakat, khususnya sektor pertanian. Namun di sisi lain, kondisi ini membuka ruang penting bagi industri asuransi parametrik untuk berkembang dan memberikan solusi nyata bagi para petani dan sektor-sektor lain yang rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.

Dengan inovasi produk, kolaborasi multipihak, dan meningkatnya kesadaran akan mitigasi risiko, asuransi parametrik berpotensi menjadi salah satu instrumen kunci untuk membangun ketahanan ekonomi di era iklim baru.

Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan seputar industri asuransi, iklim, dan inovasi finansial di Indonesia, pantau terus update selengkapnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Ketua DPD RI Dorong Pembentukan UU Perubahan Iklim: Saatnya Indonesia Punya Regulasi Hijau

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Landa Vietnam, Korban Tewas Tembus 90 Orang

FAQ

1. Apa itu asuransi parametrik?

Asuransi parametrik adalah jenis asuransi yang memberikan pembayaran klaim berdasarkan parameter tertentu—misalnya curah hujan, suhu, atau indeks cuaca lainnya—bukan berdasarkan total kerugian yang dihitung manual di lapangan. Jika parameter terpenuhi, klaim langsung dibayarkan.

2. Kenapa asuransi parametrik semakin relevan pada 2026?

BMKG memproyeksikan bahwa 2026 akan menjadi periode dengan cuaca jauh lebih ekstrem akibat pemanasan global dan deforestasi. Kondisi ini meningkatkan risiko gagal panen, banjir, hingga kemarau basah, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan berbasis cuaca semakin tinggi.

3. Apa kaitan perubahan iklim dengan meningkatnya kebutuhan asuransi?

Cuaca yang makin tidak menentu membuat risiko ekonomi masyarakat meningkat, terutama sektor pertanian. Karena itu, permintaan terhadap produk proteksi—termasuk asuransi parametrik—cenderung naik karena masyarakat ingin menekan potensi kerugian.

4. Apa saja produk parametrik yang ditawarkan Zurich Syariah?

Zurich Syariah memiliki produk Asuransi Parametrik Indeks Cuaca, yang saat ini digunakan untuk melindungi petani kopi, kakao, dan sedang dikembangkan untuk bawang merah. Produk ini membantu petani menghadapi potensi kerugian akibat cuaca ekstrem.

5. Berapa banyak petani yang sudah terlindungi oleh Zurich Syariah?

Hingga tahun berjalan 2025, lebih dari 17.000 petani telah mendapatkan perlindungan parametrik di berbagai daerah seperti Bener Meriah, Sigi, Poso, Tanggamus, Kolaka, Blitar, Garut, hingga Brebes.

6. Bagaimana Zurich Syariah mengantisipasi lonjakan klaim akibat cuaca ekstrem?

Zurich menegaskan bahwa potensi lonjakan klaim sudah diperhitungkan dalam proses underwriting dan pricing. Perusahaan justru melihat klaim sebagai indikator bahwa produk bekerja dan memberi pengalaman nyata kepada peserta.

7. Apa dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian?

Kondisi seperti kemarau basah, curah hujan tidak menentu, dan suhu permukaan yang meningkat bisa mengganggu jadwal tanam, menurunkan kualitas panen, hingga menyebabkan gagal panen berulang.

8. Bagaimana respons pemerintah terhadap proyeksi cuaca ekstrem 2026?

BMKG meminta pemerintah daerah memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki drainase, dan meningkatkan edukasi mitigasi bencana. Sektor swasta juga diminta memasukkan risiko iklim dalam perencanaan bisnis.

9. Apa saja program ketahanan iklim yang dilakukan Zurich?

Melalui Zurich Climate Resilience Alliance, perusahaan bekerja sama dengan Mercy Corps Indonesia dan pemerintah lokal untuk membantu masyarakat di tujuh kota di Jawa Tengah menghadapi risiko banjir permanen, termasuk yang berdampak pada lebih dari 3 juta penduduk.

10. Mengapa 2026 dianggap sebagai momentum pertumbuhan baru industri asuransi?

Menurut ekonom dan asosiasi industri, 2026 diperkirakan membawa pemulihan ekonomi, meningkatnya konsumsi rumah tangga, penurunan suku bunga global, serta naiknya kesadaran masyarakat terhadap mitigasi risiko. Hal ini membuka peluang besar bagi produk proteksi, termasuk asuransi parametrik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.