Serial Konglomerat V: Kiprah Aguan, Nama Besar di Balik Agung Sedayu Group
Hefriday | 26 Oktober 2025, 15:23 WIB

AKURAT.CO Sugianto Kusuma yang akrab disapa Aguan, lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 10 Januari 1951. Di masa mudanya ia sempat bekerja sebagai penjaga gudang dan membantu di sebuah perusahaan impor sebelum akhirnya menapaki dunia konstruksi dan properti.
Pada tahun 1971 ia mendirikan Agung Sedayu Group (ASG), yang kini menjadi salah satu pengembang properti besar di Indonesia.
Filosofi bisnis Aguan banyak dikaitkan dengan keberanian mengambil peluang, mengawali dari usaha kecil, memahami seluk-beluk bisnis konstruksi dan properti dari bawah, memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta membangun jaringan relasi strategis.
Di sisi lain, ia juga dikenal memiliki orientasi sosial, yaitu bahwa kesuksesan bisnis harus dibarengi dengan aktivitas kemanusiaan melalui keterlibatannya bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam program sosial-kemanusiaan.
Dengan latar cerita dari 'penjaga gudang' ke konglomerat properti, kisah Aguan mencerminkan bahwa kerja keras, sinergi relasi, dan keberanian menempatkan modal pada proyek jangka panjang dapat menjadi kunci kesuksesan bisnis yang sustainable.
Bisnis Aguan terutama bertumpu pada sektor properti dan pengembangan kawasan besar. Berikut ini pembagian utama dari “gurita bisnis” yang ia bangun.
Bisnis Aguan terutama bertumpu pada sektor properti dan pengembangan kawasan besar. Berikut ini pembagian utama dari “gurita bisnis” yang ia bangun.
Gurita Bisnis Aguan
Seperti yang diketahui, Agung Sedayu Group sejak awal berfokus pada pembangunan rumah, pertokoan, dan kontruksi kecil. Pada 1990-an dan sesudahnya, ASG sukses dengan proyek-proyek besar seperti mal elektronik “Harco Mangga Dua” pada sekitar 1991 sebagai satu tonggak.
Salah satu proyek unggulan lainnya adalah kawasan kawasan township/komprehensif seperti “Pantai Indah Kapuk Dua (PIK 2)” yang dikembangkan ASG, di mana Aguan menjadi pelaku utama.
Sektor properti ini menjadi penopang utama yaitu city & township development, high-rise building (apartemen, kondominium), hotel & resort, pusat perbelanjaan (mall), serta properti komersial.
Karena sifat proyek-proyek ini jangka panjang, berisiko tetapi juga berpotensi besar pengembalian nilai properti, maka properti adalah sektor “champion” dari bisnis Aguan.
Tidak berhenti di sektor properti saja, Aguan juga melakukan diversifikasi bisnis. Misalnya melalui keterlibatannya di bank dan lembaga keuangan, dirinya pernah memegang jabatan sebagai Wakil Komisaris Utama di PT Bank Artha Graha Internasional Tbk.
Lebih jauh, sekitar era 1980-an dan 1990-an, Aguan turut terkait dengan kelompok bisnis besar yang disebut “Sembilan Naga” (Nine Dragons), sebutan untuk para pengusaha yang punya pengaruh besar dan hubungan kuat dengan pemerintahan era Orde Baru.
Ada juga laporan bahwa ASG dan perusahaan terkaitnya menjajaki proyek-proyek port, kawasan industri, hiburan besar seperti theme park, bahkan Formula 1 di masa depan.
Dengan demikian, walaupun properti tetap utama, diversifikasi ke sektor keuangan/industri dan pengembangan besar menunjukkan bahwa Aguan membangun gurita bisnis yang cukup luas dan multidimensi.
Kemudian, ASG di bawah kepemimpinan Aguan juga terlibat dalam proyek strategis nasional, termasuk pengembangan ibu kota baru (IKN) dan kawasan elite di Jakarta.
Hal ini menunjukkan bahwa bisnis Aguan tidak sekadar membangun properti biasa, melainkan proyek-skala besar yang berhubungan dengan pembangunan nasional dan integrasi kawasan yang dapat memberi potensi pertumbuhan jangka panjang.
Secara keseluruhan, struktur bisnis Aguan dapat digambarkan sebagai berikut, pertama Inti bisnis, yaitu pengembangan properti (township, high-rise, mall). Kedua, Pilar pendukung, yakni keuangan/lembaga finansial, kawasan industri/hiburan.
Ketiga, ekspansi strategis, yaitu proyek nasional besar, kerjasama pemerintah, kawasan elite. Sektor properti menjadi engine utama, dengan dukungan dari diversifikasi dan orientasi proyek jangka panjang.
9 Naga, Jejak Aguan dari Presiden ke Presiden
Aguan disebut-sebut sebagai salah satu dari 9 naga atau pengusaha kakap. Istilah naga sendiri menggambarkan betapa besar gurita bisnis dan kedekatan mereka dengan penguasa, lebih dari sekadar konglomerat.
Nama besar 9 naga pernah disebutkan dalam buku 'Liem Sioe Liong's Salim Group: The Business Pillar of Suharto's Indonesia (2014)', dimana Richard Borsuk dan Nancy Chng misalnya menyebutkan Salim dan Soeharto memiliki simbiolis mutualisme yang kemudian oleh Sri Bintang Pamungkan seperti dalam bukunya 'Ganti Rezim Ganti Sistim' (2014), disebut melahirkan istilah sembilan naga.
Jejak Aguan sendiri nampak dari keterlibatannya dalam proyek-proyek besar yang dimulai di era Presiden SBY, meningkat pesat di era Presiden Jokowi hingga kini Presiden Prabowo.
Di era SBY, Aguan terlibat dalam pengembangan berbagai proyek infrastruktur besar, termasuk yang ada di Jakarta, selama masa jabatan SBY. Kemudian Aguan juga dikenal sebagai suhu atau mentor bagi banyak pengusaha Indonesia, termasuk pengusaha besar seperti Tomy Winata. Hubungan ini memungkinkannya untuk terlibat dalam berbagai proyek strategis
Di era Jokowi, Aguan secara eksplisit disebut Presiden karena partisipasinya dalam proyek infrastruktur seperti Bandara Singkawang dan Pintu Masuk IKN, dimana ia dan pengusaha lain berpartisipasi dalam proyek bersama pemerintah (KPBU) dan program CSR.
Kemudian di era Prabowo saat ini, Aguan, melalui Agung Sedayu Group, telah membangun ratusan unit rumah gratis di Tangerang sebagai bentuk dukungan terhadap program perumahan pemerintah.
Aguan juga ikut merenovasi ratusan rumah tidak layak huni, seperti yang dilakukan di Johar Baru dan Bandung, dalam kolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta menjadi anggota konsorsium swasta lainnya menjadi bagian dari strategi pemerintah.
Generasi Penerus
Sebagai konglomerat keluarga, Aguan juga telah menyiapkan pewaris generasi berikutnya. Ia menikah dengan Rebecca Halim (atau Li Pipin / Li Ping dalam beberapa sumber) dan memiliki beberapa anak.
Anak-anaknya termasuk Alexander Halim Kusuma, Richard Halim Kusuma, Lareina Halim Kusuma, dan Luvena Katherine Halim. Selain itu, keluarga besar Aguan termasuk kakaknya Susanto Kusuma yang terlibat saham di ASG, dan keponakannya Steven Kusumo dijabat sebagai CEO perusahaan terkait.
Penyiapan generasi penerus tampak dalam pengelolaan bisnis keluarga, struktur kepemilikan yang tetap di tangan keluarga, dan keterlibatan anak-keluarga dalam manajemen. Namun, meski demikian, profil dan keterlibatan masing-masing anak dalam bisnis belum tertulis secara terbuka dalam seluruh aspek.
Anak-anaknya termasuk Alexander Halim Kusuma, Richard Halim Kusuma, Lareina Halim Kusuma, dan Luvena Katherine Halim. Selain itu, keluarga besar Aguan termasuk kakaknya Susanto Kusuma yang terlibat saham di ASG, dan keponakannya Steven Kusumo dijabat sebagai CEO perusahaan terkait.
Penyiapan generasi penerus tampak dalam pengelolaan bisnis keluarga, struktur kepemilikan yang tetap di tangan keluarga, dan keterlibatan anak-keluarga dalam manajemen. Namun, meski demikian, profil dan keterlibatan masing-masing anak dalam bisnis belum tertulis secara terbuka dalam seluruh aspek.
Dalam konteks bisnis jangka panjang, Aguan sendiri pernah menyatakan bahwa proyek besar seperti PIK 2 bukan untuk dirinya saja. Baginya, ini bukan hanya proyek jangka pendek, namun proyek ini juga nantinya akan dapat diteruskan pada generasi selanjutnya.
Hal ini mengindikasikan visi jangka panjang yang diwariskan ke generasi berikutnya. Dengan demikian, pewarisan bisnis Aguan tidak hanya soal transfer kepemilikan, tetapi juga transfer visi, struktur organisasi, relasi strategis, dan proyek-proyek jangka panjang yang dapat dikelola oleh generasi penerus.
The Aguan Ways
Dari perjalanan bisnis Aguan dapat dirangkum sejumlah pelajaran dan “business wisdom” yang bisa dijadikan inspirasi.
Dimana, kisah Aguan yang bermula sebagai penjaga gudang dan pembantu menunjukkan bahwa memahami operasi dari level bawah dapat memberikan gambaran yang baik ketika membangun bisnis sendiri.
Tidak hanya itu saja, pada saat Aguan mendirikan ASG pada 1971 ketika perekonomian Indonesia mulai bertumbuh dan kebutuhan properti meningkat. Kepekaan terhadap momentum membuat ia menang.
Ditambah dengan kolaborasi dengan nama-besar, proyek bersama, serta kerjasama dengan pihak pemerintah dan swasta memberikan keunggulan tersendiri. Hubungannya dengan proyek besar dan konsorsium nasional menunjukkan kekuatan relasi bisnis.
Kemudian, Aguan juga tidak hanya mengejar proyek kecil cepat, melainkan membangun kawasan besar dan pengembangan jangka panjang (township, kawasan elite). Pernyataan bahwa proyek bukan untuk dirinya saja melainkan generasi berikutnya mencerminkan visi panjang.
Meskipun properti menjadi inti, Aguan tidak terpaku di satu sektor saja. Ia melakukan diversifikasi ke keuangan, industri, kawasan strategis nasional. Hal ini penting agar bisnis tahan terhadap siklus ekonomi.
Sebab bisnis yang sukses menurut Aguan juga harus memberi manfaat bagi masyarakat. Keterlibatan dalam sosial kemanusiaan meningkatkan reputasi dan menjalin goodwill.
Karena proyek-proyek besar memerlukan modal besar, waktu panjang, dan sikap sabar. Memahami risiko properti, regulasi, lingkungan bisnis Indonesia adalah hal penting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









