Akurat

Bitcoin Terus Anjlok Meski The Fed Pangkas Suku Bunga, Ini Penyebabnya!

Naufal Lanten | 25 September 2025, 16:34 WIB
Bitcoin Terus Anjlok Meski The Fed Pangkas Suku Bunga, Ini Penyebabnya!
 

AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali menunjukkan pergerakan yang tidak biasa setelah keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertengahan September 2025. Alih-alih melesat naik, Bitcoin justru sempat anjlok ke level 111.500 dolar AS pada perdagangan hari ini setelah sebelumnya sempat menyentuh 117.700 dolar AS.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar karena secara teori, pemangkasan suku bunga biasanya menjadi pemicu kenaikan aset berisiko seperti saham dan kripto.

Menurut Fahmi Almuttaqin, Analyst Reku, pelemahan Bitcoin dan Ethereum saat ini bukanlah kejutan mendadak. Pasar kripto, kata dia, sudah lebih dulu mengantisipasi kebijakan pemangkasan suku bunga jauh sebelum pengumuman resmi.

“Likuiditas jangka pendek sempat mengalir deras ke aset risk-on, termasuk Bitcoin dan altcoin, sehingga ketika keputusan akhirnya keluar, sebagian investor justru melakukan aksi profit taking,” jelas Fahmi melalui hasil riset yang diterima Akurat.co, Kamis, 25 September 2025.

Ia menambahkan, alasan pelemahan ekonomi, termasuk melemahnya sektor tenaga kerja AS yang menjadi latar belakang pemangkasan suku bunga, justru menimbulkan kekhawatiran investor terhadap risiko lonjakan inflasi.


Likuiditas Global Jadi Kunci Pergerakan Pasar Kripto

Meski suku bunga telah dipangkas, data neraca keuangan The Fed menunjukkan bahwa bank sentral belum benar-benar melonggarkan likuiditas. Berdasarkan rilis mingguan H.4.1 Federal Reserve, total aset The Fed per 17 September 2025 tercatat sebesar 6,608 triliun dolar AS. Angka ini masih jauh di bawah puncak masa pandemi yang sempat menyentuh sekitar 9 triliun dolar AS.
Kondisi tersebut menandakan proses quantitative tightening (QT) atau pengetatan kebijakan moneter masih berjalan, meski dengan tempo yang melambat.

Situasi ini mengingatkan pasar bahwa penurunan suku bunga tidak otomatis berarti likuiditas dolar di pasar global bertambah banyak. Artinya, dorongan kenaikan harga Bitcoin membutuhkan faktor lain, seperti ketersediaan dana segar di pasar internasional.


Indikator On-Chain Tunjukkan Sinyal Netral

Di sisi lain, data on-chain memberikan kabar yang relatif menenangkan. Fahmi menyebut bahwa indeks SOPR (Spent Output Profit Ratio) yang mengukur perbandingan aksi profit taking dan cut loss menunjukkan kondisi netral.

“Indikator SOPR mengindikasikan bahwa aksi profit taking memang terjadi namun saat ini berada pada level yang relatif normal, sehingga tekanan jual jangka pendek mungkin akan cukup minim,” ungkapnya.


Peluang Kenaikan Bitcoin Masih Terbuka

Walaupun pasar sempat bergejolak, prospek Bitcoin di sisa tahun ini tetap positif. Berdasarkan jajak pendapat dot plot dalam pertemuan FOMC pekan lalu, The Fed masih membuka peluang pemangkasan suku bunga tambahan hingga dua kali lagi jika inflasi tetap terkendali.

Menurut Fahmi, skenario ini bisa memberikan sentimen positif bagi pasar kripto, apalagi jika didukung tren akumulasi investor institusional yang masih solid dan potensi berkembangnya adopsi ETF altcoin.
“Bitcoin dan Ethereum berpeluang kembali mencetak new all time high,” kata Fahmi.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa skenario downside tetap ada, terutama jika pemerintah AS mengalami shutdown atau terjadi pemangkasan lapangan kerja secara besar-besaran. Risiko lain adalah potensi lonjakan inflasi atau menguatnya dolar AS yang dapat memicu koreksi harga Bitcoin ke bawah 100.000 dolar AS.


Strategi Investasi di Tengah Volatilitas Tinggi

Bagi investor Indonesia, rencana pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed sebenarnya membuka peluang untuk diversifikasi ke aset berisiko, termasuk kripto. Namun, volatilitas yang tinggi membuat strategi investasi perlu lebih cermat.

Fahmi merekomendasikan metode Dollar Cost Averaging (DCA) sebagai strategi yang lebih aman dibandingkan membeli dalam jumlah besar sekaligus.

“Strategi DCA bisa lebih strategis dibanding investasi atau trading sekaligus dalam jumlah besar. Lebih dari itu, perlu diingat bahwa pasar kripto kini tidak bisa dipisahkan dari dinamika makro global. Investor perlu memantau bukan hanya harga Bitcoin, tetapi juga indikator likuiditas dolar dan arus dana institusional,” tegasnya.

Di Indonesia, platform seperti Reku menawarkan fitur Packs yang memungkinkan investor berinvestasi pada berbagai crypto blue chip dan ETF saham AS dalam sekali swipe. Fitur ini dilengkapi sistem Rebalancing yang otomatis menyesuaikan alokasi investasi sesuai kondisi pasar, sehingga memudahkan penerapan strategi DCA secara praktis.


Kesimpulan

Penurunan harga Bitcoin pasca pemangkasan suku bunga The Fed menjadi pengingat penting bahwa suku bunga bukan satu-satunya faktor penggerak pasar kripto. Likuiditas dolar, sentimen makroekonomi, hingga aksi investor institusi tetap menjadi elemen kunci.

Jika pemangkasan suku bunga lanjutan benar-benar terjadi dan inflasi tetap stabil, peluang Bitcoin untuk mencetak rekor harga baru masih terbuka lebar. Namun, investor harus tetap waspada terhadap potensi gejolak, menjaga disiplin, dan menerapkan strategi investasi yang terukur.

Baca Juga: Harga Stabil, Potensi Breakout Bitcoin Terbuka Lebar

Baca Juga: OSL Akuisisi Koinsayang: Langkah Besar dalam Kripto Indonesia


FAQ 

1. Mengapa harga Bitcoin turun meski The Fed memangkas suku bunga?
Penurunan harga Bitcoin terjadi karena pasar kripto sudah mengantisipasi pemangkasan suku bunga jauh sebelum pengumuman resmi. Banyak investor melakukan aksi profit taking setelah harga sempat naik. Selain itu, kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi dan potensi lonjakan inflasi membuat sebagian pelaku pasar menahan diri.


2. Bukankah pemangkasan suku bunga biasanya mendorong harga aset kripto naik?
Secara teori, suku bunga rendah memang mendukung kenaikan aset berisiko seperti kripto dan saham. Namun, likuiditas riil dolar di pasar global lebih menentukan arah harga. Data menunjukkan bahwa meski suku bunga turun, The Fed belum memperluas neraca keuangannya secara agresif, sehingga ketersediaan dana segar tetap terbatas.


3. Apa itu quantitative tightening (QT) dan bagaimana pengaruhnya terhadap Bitcoin?
Quantitative tightening adalah kebijakan pengetatan moneter di mana bank sentral mengurangi jumlah aset di neraca keuangan untuk menyerap likuiditas dari pasar. Selama proses QT masih berlangsung, aliran dana ke aset kripto seperti Bitcoin cenderung terbatas meski suku bunga sudah dipangkas.


4. Bagaimana kondisi pasar kripto berdasarkan data on-chain?
Indikator SOPR (Spent Output Profit Ratio) menunjukkan kondisi yang relatif netral. Artinya, aksi jual dan ambil untung sudah mulai seimbang, sehingga tekanan jual jangka pendek terhadap Bitcoin kemungkinan tidak terlalu besar.


5. Apakah Bitcoin masih berpeluang naik setelah ini?
Ya. Jika inflasi tetap terkendali dan The Fed melanjutkan pemangkasan suku bunga, peluang Bitcoin mencetak rekor harga baru (all time high) masih terbuka. Dukungan investor institusi dan potensi adopsi ETF altcoin juga menjadi faktor positif.


6. Apa risiko yang perlu diwaspadai investor?
Beberapa risiko yang bisa menekan harga Bitcoin antara lain:

  • Shutdown pemerintah AS yang dapat memicu arus kas keluar dari aset berisiko.

  • Lonjakan inflasi yang dapat mendorong penguatan dolar AS.

  • Pemangkasan lapangan kerja besar-besaran yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi.


7. Bagaimana strategi terbaik untuk berinvestasi di tengah volatilitas tinggi?
Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) disarankan karena memungkinkan investor membeli Bitcoin secara bertahap dan konsisten, sehingga risiko fluktuasi harga dapat ditekan. Investor juga disarankan memantau indikator likuiditas dolar dan tren arus dana institusi sebagai acuan pengambilan keputusan.


8. Apakah investor Indonesia bisa memanfaatkan kondisi ini?
Ya. Penurunan suku bunga The Fed membuka peluang diversifikasi ke aset kripto dan saham AS. Platform seperti Reku menyediakan fitur Packs dengan sistem Rebalancing otomatis yang memudahkan investasi DCA di berbagai crypto blue chip dan ETF saham AS dalam satu paket.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.