Akurat

Generasi Muda Kian Aktif Berinvestasi Sejak Dini

Hefriday | 13 September 2025, 21:05 WIB
Generasi Muda Kian Aktif Berinvestasi Sejak Dini

AKURAT.CO Investasi kini tidak lagi dipandang sebagai aktivitas eksklusif bagi kalangan berduit atau pengusaha. Generasi muda, khususnya milenial dan gen Z, mulai aktif masuk ke dunia finansial sejak dini. Mereka tidak hanya mengandalkan tabungan di bank, tetapi juga memanfaatkan beragam instrumen investasi yang sebelumnya dianggap rumit dan serius.

Kemudahan teknologi menjadi salah satu faktor utama. Cukup membuka aplikasi, menyetor dana mulai Rp10 ribu, anak muda sudah bisa resmi disebut investor. Fenomena ini memperlihatkan bahwa investasi kian inklusif dan mampu menjangkau kelompok yang lebih luas.

Dikutip dari beberapa sumber, Sabtu (13/9/2025), perkembangan aplikasi digital mempermudah anak muda dalam mengakses berbagai instrumen investasi. Mulai dari reksa dana, saham, emas, hingga pinjaman berbasis teknologi (P2P lending) bisa dilakukan hanya lewat ponsel pintar. Kemudahan ini membuat investasi terasa dekat dan praktis.

Baca Juga: Apa Itu Soft Saving? Tren Mengatur Keuangan ala Gen Z yang Lagi Naik Daun

Selain itu, media sosial memainkan peran besar dalam literasi keuangan. Konten edukasi finansial hadir dalam format ringan di TikTok, Instagram, hingga YouTube. Kreator konten keuangan mampu mengubah topik yang sebelumnya kaku menjadi lebih mudah dicerna oleh generasi muda.

Generasi milenial dan gen Z juga semakin sadar akan pentingnya persiapan masa depan. Fenomena generasi sandwich, inflasi, serta ketidakpastian kerja membuat mereka tidak ingin bergantung pada satu sumber penghasilan saja. Investasi dianggap sebagai jalan untuk menciptakan stabilitas keuangan jangka panjang.

Narasi tentang kebebasan finansial dan pensiun dini atau financial independence, retire early (FIRE) turut memperkuat tren ini. Banyak anak muda yang bercita-cita terbebas dari rutinitas gaji bulanan lebih cepat, sehingga investasi menjadi bagian dari strategi hidup mereka.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga April 2025, jumlah investor pasar modal mencapai 16,2 juta orang, dengan 55% di antaranya berasal dari kalangan muda. Instrumen favorit antara lain reksa dana pasar uang, saham, emas digital, hingga kripto. Data OJK 2024 juga mencatat bahwa gen Z menyumbang 55,07% investor ritel pasar modal.

Investasi emas digital juga populer. Survei Solopos pada 2025 menunjukkan 31% responden muda (usia 15–24 tahun) memilih emas sebagai instrumen investasi. Bentuk perhiasan dan logam mulia menjadi pilihan utama dengan persentase 67% dan 66%.

Baca Juga: Kerusuhan Nepal: Balendra Shah, Mantan Rapper yang Difavoritkan Gen Z jadi Pemimpin Baru

Meski tren ini patut diapresiasi, sejumlah tantangan masih membayangi. Banyak anak muda yang terjun ke investasi karena terjebak fear of missing out (FOMO), bukan karena analisis matang. Hal ini membuat mereka rentan merugi.

Investasi bodong juga menjadi ancaman nyata. Skema cepat kaya yang kerap muncul di media sosial berhasil menjerat tidak sedikit generasi muda. Selain itu, semangat berinvestasi kadang tidak diimbangi dengan manajemen keuangan harian yang baik. Tabungan darurat sering kali diabaikan sehingga mereka mudah panik saat butuh dana mendesak.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun hanya mencapai 51,68%. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional sebesar 66,46%. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya lebih masif dalam edukasi finansial.

Kini, investasi tidak lagi sekadar aktivitas finansial, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Dengan dukungan teknologi, akses informasi yang luas, dan kesadaran akan masa depan, generasi milenial dan gen Z membuktikan bahwa investasi bisa dimulai sejak dini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi