Akurat

Stimulus Bank Sentral China Jadi Angin Segar Pasar Kripto

Hefriday | 19 Agustus 2025, 12:14 WIB
Stimulus Bank Sentral China Jadi Angin Segar Pasar Kripto

AKURAT.CO Pasar aset kripto kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar Bank Sentral Cina atau People’s Bank of China (PBOC) sedang mempertimbangkan langkah-langkah stimulus untuk mengatasi perlambatan ekonomi domestik.

Kabar ini dianggap sebagai titik kritis bagi investor kripto global, mengingat peran besar Cina dalam perekonomian dunia.

Apabila Beijing benar-benar menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan, altcoin bisa terdorong mengalami reli signifikan.

Bahkan, tidak sedikit yang percaya bahwa kebijakan ekspansif tersebut dapat membawa harga altcoin melampaui rekor tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya.

Selama ini, perhatian pasar lebih sering tertuju pada kebijakan moneter Amerika Serikat melalui The Federal Reserve.

Baca Juga: Pasar Kripto Terkoreksi Tipis, Ulah Whale?

Namun, laporan 21Shares pada Maret 2025 menegaskan bahwa keputusan PBOC juga punya pengaruh besar. 

Data menunjukkan korelasi antara pergerakan harga Bitcoin dengan likuiditas global mencapai 94%, jauh lebih tinggi dibanding korelasi dengan indeks saham S&P 500 atau emas.
 
Hal ini menjadi sinyal bahwa peran bank sentral, khususnya Cina, tidak bisa diabaikan dalam membentuk sentimen pasar kripto.

Dikutip dari laman Crypto, Sennin (18/8/2025), analisis Porkopolis Economics, saat ini basis moneter M0 Amerika Serikat berada di angka USD5,8 triliun, diikuti zona euro sebesar USD5,4 triliun, Cina sebesar USD5,2 triliun, dan Jepang sebesar USD4,4 triliun.
 
Mengingat porsi Cina yang mencapai hampir 20% dari total PDB global, arah kebijakan PBOC akan memiliki konsekuensi luas bagi aliran modal internasional, termasuk ke sektor aset digital.

Data ekonomi terbaru dari Cina menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Pada Juli 2025, penjualan ritel turun tipis 0,1% dibanding bulan sebelumnya, sementara investasi aset tetap merosot 5,3% secara tahunan.
 
Ini menjadi kontraksi terdalam sejak Maret 2020. Sementara itu, produksi industri hanya tumbuh 0,4%, mencerminkan bahwa aktivitas manufaktur masih berada di jalur lambat.

Tekanan juga terlihat di pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran perkotaan meningkat menjadi 5,2% pada Juli, naik dari 5,0% di bulan sebelumnya.
 
Bloomberg mencatat bahwa PBOC bisa memperkenalkan stimulus secepatnya pada September, dengan ekonom dari Nomura maupun Commerzbank yang ikut memperkuat ekspektasi tersebut.

Dalam praktiknya, stimulus bank sentral biasanya diberikan melalui pemangkasan suku bunga atau penyediaan fasilitas pembiayaan khusus. Kebijakan semacam ini memperbesar pasokan uang dan membuat likuiditas lebih mudah diakses. 
 
Secara historis, langkah tersebut berdampak positif terhadap aset berisiko, mulai dari saham hingga kripto. Jika skenario ini terjadi, altcoin berpotensi menjadi penerima manfaat utama karena sifatnya yang lebih sensitif terhadap perubahan likuiditas global.

Dari sisi lain, kondisi pasar Amerika Serikat juga memberi konteks tambahan. Meski kekhawatiran akan resesi semakin meningkat, pasar ekuitas masih menunjukkan ketangguhan. 
 
Indeks S&P 500 bahkan menembus level 6.400 untuk pertama kalinya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor lima tahun juga pulih dari 3,74% pada awal Agustus menjadi 3,83% pada pekan berikutnya.
 
Peningkatan imbal hasil ini menandakan pergeseran sentimen investor menuju aset berisiko, yang pada gilirannya bisa memberi ruang bagi kripto untuk ikut menguat.

Bagi pasar kripto, kombinasi faktor global ini, yakni stimulus potensial dari Cina, ekuitas AS yang kuat, dan imbal hasil obligasi yang stabil, menciptakan ekosistem yang kondusif bagi kebangkitan altcoin. 
 
Sejumlah analis meyakini, masuknya likuiditas dari PBOC bisa memicu rotasi dana investor ke aset digital. Dampaknya, harga berbagai token kemungkinan terdorong lebih tinggi dalam jangka pendek hingga menengah.

Meski begitu, jalan altcoin tidak sepenuhnya mulus. Cina memang pernah menjadi pusat ekosistem kripto global sebelum pemerintah menekan industri tersebut pada 2017. 
 
Minat ritel di negeri itu kini lebih rendah, dengan tingkat kepemilikan kripto sekitar 5,2%. Namun, dukungan dari sisi teknis dan institusional terhadap proyek blockchain lokal masih tetap kuat.
 
Proyek-proyek seperti NEO dan VeChain tetap dipandang sebagai bagian penting dari perkembangan ekosistem kripto di Asia.

Sejumlah ketidakpastian tetap membayangi. Risiko resesi global, ketegangan geopolitik, serta dinamika regulasi di berbagai yurisdiksi bisa menjadi faktor penghambat reli altcoin. Selain itu, efektivitas stimulus PBOC juga sangat bergantung pada skala dan keberlanjutan kebijakan. 
 
Jika langkah stimulus terbatas atau hanya bersifat jangka pendek, dampaknya terhadap pasar kripto mungkin hanya bersifat sementara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa