Perusahaan Jepang Gencar Adopsi Bitcoin, Dorong Perubahan Strategi Finansial

AKURAT.CO Gelombang perusahaan di Jepang mulai menjadikan Bitcoin sebagai aset utama dalam perbendaharaan mereka, menandai pergeseran besar dalam strategi keuangan korporasi dan memperkuat posisi Jepang sebagai salah satu pemain penting di ekonomi kripto global.
Fenomena ini dipicu kekhawatiran terhadap inflasi, pelemahan mata uang, serta kebutuhan diversifikasi aset di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dikutip dari laman Crypto, Minggu (10/8/2025), Metaplanet Inc., perusahaan berbasis di Tokyo, menjadi pelopor tren ini. Perusahaan tersebut telah mengonversi sebagian besar neracanya menjadi Bitcoin, dengan kepemilikan mencapai 17.595 BTC pada 4 Agustus 2025, sehingga menempatkannya di peringkat ketujuh global di antara perusahaan publik pemegang Bitcoin terbanyak.
Melalui rencana ambisius bertajuk “555 Million Plan”, Metaplanet menargetkan 100.000 BTC pada 2026 dan 210.000 BTC pada 2027.
Baca Juga: Wacana Bitcoin Jadi Aset Cadangan Nasional Dinilai Perlu Kajian Mendalam
Langkah serupa diikuti oleh Convano, operator jaringan salon kecantikan, yang membentuk Kantor Strategi Bitcoin pada Juli 2025 dan menginvestasikan USD2,7 juta ke BTC. Perusahaan ini menargetkan kepemilikan 21.000 BTC pada Maret 2027.
Sementara itu, Mac-House, pengecer pakaian, akan berganti nama menjadi Gyet Co., Ltd. pada September sebagai bagian dari transisi bisnis dari ritel fesyen ke sektor kripto. Gyet merencanakan investasi senilai USD160 juta untuk pembelian dan penambangan Bitcoin.
Tidak ketinggalan, Kitabo produsen tekstil berusia 70 tahun membeli 3,32 BTC dan memulai pembelian harian Bitcoin senilai USD13.500 dengan total anggaran USD5,4 juta. Toho Remac, yang tercatat di Bursa Efek Tokyo, menyetujui alokasi hingga JPY1 miliar (USD6,8 juta) untuk pembelian Bitcoin dan Ethereum dalam kurun satu tahun, dan telah merealisasikan pembelian awal sebesar 1,4475 BTC dan 45,6581 ETH pada awal Agustus.
Namun, kenaikan harga Bitcoin juga memunculkan kekhawatiran. Penasihat Japan Cryptoasset Business Association, Ken Kawai mengingatkan bahwa valuasi yang melonjak hingga tiga atau empat kali lipat bisa menjadi indikasi gelembung pasar yang perlu diawasi
Dari sisi regulasi, Badan Layanan Keuangan Jepang (FSA) sedang mengkaji perubahan status aset kripto dari “alat pembayaran” menjadi “produk keuangan”. Langkah ini diyakini akan membuka jalan bagi peluncuran ETF kripto pertama di Jepang. SBI Holdings bahkan telah mengusulkan dua ETF, salah satunya menggabungkan emas dengan aset digital, dan lainnya berbasis Bitcoin spot dan XRP.
Baca Juga: Hashrate Bitcoin Tembus Rekor Baru
Reformasi hukum ini juga berpotensi mengubah skema pajak. Saat ini, keuntungan dari perdagangan kripto dikenakan pajak penghasilan hingga 55%.
Jika ETF disetujui, instrumen tersebut bisa dikenakan pajak keuntungan modal sebesar 20% seperti saham, yang akan membuka peluang partisipasi dana institusional dan manajer aset.
Selain membeli, sejumlah perusahaan Jepang juga mulai terjun ke penambangan Bitcoin. Convano berencana memulai operasi penambangan ramah lingkungan di pusat data di Texas dan Georgia pada Oktober 2025.
Gyet Co., Ltd. juga mengalokasikan lebih dari ¥10 miliar untuk investasi peralatan penambangan yang akan dioperasikan di pusat data mereka sendiri untuk efisiensi biaya.
Tren ini menghidupkan kembali memori kejayaan kripto Jepang pada era Mt. Gox, yang pada 2014 sempat menguasai lebih dari 70% perdagangan Bitcoin global sebelum runtuh. Jepang kini tetap menjadi salah satu pasar kripto terdepan dengan regulasi ketat yang sekaligus mendukung inovasi.
Data industri menunjukkan lebih dari 12 juta akun perdagangan kripto di Jepang, mengelola aset senilai JPY5 triliun atau sekitar USD34 miliar.
Jika tren adopsi Bitcoin ini berlanjut, apalagi dengan dukungan ETF domestik, Jepang berpotensi merebut kembali status sebagai kekuatan besar kripto dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









