Proposal Kontroversial Curve Minta Hentikan Ekspansi ke Jaringan Layer-2

AKURAT.CO Komunitas keuangan terdesentralisasi (DeFi) tengah dihebohkan oleh sebuah proposal kontroversial yang diajukan oleh salah satu kontributor Curve Finance, protokol DeFi terkemuka di jaringan Ethereum.
Proposal tersebut menyerukan penghentian ekspansi Curve ke jaringan Ethereum layer-2, dengan alasan efisiensi pendapatan dan alokasi sumber daya pengembangan.
Proposal yang diajukan pada 31 Juli oleh seorang anggota CurveDAO ini menyatakan bahwa keberadaan Curve di berbagai jaringan layer-2 tidak memberikan hasil yang memadai secara ekonomi. Ditegaskan dalam dokumen tersebut, protokol hanya menghasilkan sekitar USD1.500 per hari dari keseluruhan 24 jaringan layer-2, yang berarti rata-rata pendapatan hanya USD62 per jaringan. Angka ini dinilai terlalu kecil untuk membenarkan biaya operasional dan pemeliharaan yang tinggi.
Baca Juga: Bitcoin Masih Dominan di Media Sosial, Ethereum dan Solana Menyusul
Sebagai perbandingan, Curve di Ethereum mainnet masih menjadi tulang punggung utama bagi pemasukan protokol tersebut. Data internal menunjukkan bahwa pool Curve di Ethereum menghasilkan rata-rata sekitar USD28.000 per hari, bahkan dalam kondisi pasar yang lesu. Artinya, pendapatan dari Ethereum mencapai lebih dari 18 kali lipat dibandingkan seluruh gabungan pendapatan dari layer-2.
Dikutip dalam proposal tersebut, Minggu (3/8/2025), penulis berargumen bahwa pengembangan Curve di jaringan layer-2 sejauh ini tidak memberikan imbal hasil yang signifikan.
"Membawa Curve ke L2 telah dicoba sekarang, namun statistik berbicara sendiri. Sangat sedikit pengembalian sambil menghabiskan banyak waktu pengembang, sementara juga memiliki biaya pemeliharaan yang jauh lebih tinggi karena sifatnya yang cepat dan berumur pendek," tulisnya.
Penulis juga menyoroti bahwa setiap jaringan layer-2 yang didukung membutuhkan perhatian teknis dan operasional yang sama besarnya dengan Ethereum, namun tidak memberikan kontribusi sebanding terhadap pertumbuhan protokol.
Oleh karena itu, proposal tersebut menyarankan agar semua pengembangan di jaringan layer-2 dihentikan, dan fokus utama dialihkan kembali ke Ethereum, termasuk pada produk stablecoin crvUSD yang tengah dikembangkan.
Pernyataan ini langsung menimbulkan perdebatan sengit di kalangan komunitas DeFi. Sebagian pihak mendukung usulan efisiensi tersebut, mengingat biaya pengembangan di jaringan layer-2 memang tidak sedikit. Namun, sebagian lainnya menilai bahwa ekspansi lintas jaringan tetap penting untuk masa depan Curve dan adopsi lebih luas.
Sejumlah analis turut angkat suara menanggapi isu ini. Salah satunya adalah Ignas, analis DeFi independen, yang menyebut bahwa tantangan Curve bukanlah kasus tunggal. Ia mencontohkan Aave, protokol DeFi lain yang menghadapi kesulitan serupa dalam mengekspansi layanannya ke berbagai blockchain layer-2.
Baca Juga: Kapitalisasi Pasar Kripto Sentuh USD3 Triliun, Bitcoin dan Ethereum Melonjak
Data dari platform L2Beats juga mengonfirmasi pandangan tersebut. Hingga saat ini, sebagian besar total nilai terkunci (TVL) Curve tetap berada di Ethereum. Menurut DeFiLlama, lebih dari 90% dana yang disimpan di Curve masih berada di mainnet, bukan di jaringan layer-2.
Meski demikian, tim inti pengembang Curve secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak mendukung proposal tersebut. Melalui pernyataan resmi, Curve menyebut bahwa proposal itu tidak berasal dari tim pengembang dan tidak mewakili arah atau rencana jangka panjang mereka.
“Untuk memperjelas: postingan ini tidak berasal dari tim yang saat ini bekerja di Curve, dan tidak ada seorang pun di tim yang setuju dengan itu (jadi kami mungkin TIDAK akan mengambil arah itu),” ujar tim Curve melalui akun resmi mereka.
Kontroversi ini membuka diskusi yang lebih luas mengenai strategi pertumbuhan protokol DeFi di tengah kompleksitas ekosistem blockchain yang terus berkembang. Apakah fokus harus tetap pada satu jaringan utama seperti Ethereum, atau justru mendiversifikasi ke berbagai jaringan meskipun berisiko rendahnya imbal hasil, menjadi dilema strategis yang dihadapi banyak protokol DeFi saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










