Pentingnya Literasi Keuangan di Usia Dini
Hefriday | 13 Juli 2025, 15:44 WIB

AKURAT.CO Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, pendidikan keuangan menjadi salah satu keterampilan hidup yang penting untuk dimiliki, termasuk oleh anak-anak.
Sayangnya, pelajaran tentang keuangan pribadi masih jarang diajarkan secara formal di sekolah.
Padahal, keterampilan mengelola uang, memahami investasi, hingga menghindari jerat utang seharusnya bisa dimiliki sejak usia dini.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting sebagai pendidik pertama dalam kehidupan anak, termasuk dalam hal finansial.
Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (13/7/2025), mengajarkan keuangan bukan sekadar memberikan uang saku atau mengenalkan celengan, melainkan membentuk pola pikir dan perilaku anak terhadap uang, yang akan berdampak jangka panjang dalam kehidupan mereka.
Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (13/7/2025), mengajarkan keuangan bukan sekadar memberikan uang saku atau mengenalkan celengan, melainkan membentuk pola pikir dan perilaku anak terhadap uang, yang akan berdampak jangka panjang dalam kehidupan mereka.
Anak-anak yang memahami konsep keuangan sejak kecil cenderung tumbuh menjadi individu yang lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.
Menabung merupakan fondasi dalam pendidikan keuangan anak. Orang tua bisa memulainya dengan memberikan uang saku secara rutin dan mengajak anak menyisihkan sebagian untuk ditabung.
Menabung merupakan fondasi dalam pendidikan keuangan anak. Orang tua bisa memulainya dengan memberikan uang saku secara rutin dan mengajak anak menyisihkan sebagian untuk ditabung.
Anak-anak juga bisa diperkenalkan pada sistem tabungan yang lebih nyata, seperti membuka rekening bank khusus anak, untuk mengenalkan konsep bunga dan pertumbuhan uang secara bertahap.
Lebih lanjut, konsep 50-30-20 juga bisa dikenalkan sejak dini. Misalnya, 50% uang saku untuk kebutuhan harian, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk ditabung. Dengan cara ini, anak akan belajar mengelola keuangan secara seimbang dan terencana.
Anak juga perlu diajarkan untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Dengan membuat daftar belanja bersama dan mendiskusikan prioritas, mereka akan terbiasa berpikir kritis sebelum membelanjakan uang.
Lebih lanjut, konsep 50-30-20 juga bisa dikenalkan sejak dini. Misalnya, 50% uang saku untuk kebutuhan harian, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk ditabung. Dengan cara ini, anak akan belajar mengelola keuangan secara seimbang dan terencana.
Anak juga perlu diajarkan untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Dengan membuat daftar belanja bersama dan mendiskusikan prioritas, mereka akan terbiasa berpikir kritis sebelum membelanjakan uang.
Hal ini membantu membangun kebiasaan konsumsi yang bijak dan mencegah sikap impulsif dalam membeli barang.
Meski terkesan kompleks, investasi bisa dikenalkan dengan cara yang mudah dipahami. Misalnya, menjelaskan bahwa membeli saham sama seperti memiliki sebagian kecil dari sebuah bisnis.
Meski terkesan kompleks, investasi bisa dikenalkan dengan cara yang mudah dipahami. Misalnya, menjelaskan bahwa membeli saham sama seperti memiliki sebagian kecil dari sebuah bisnis.
Jika bisnis itu berkembang, maka nilai kepemilikannya juga meningkat. Dengan analogi yang sederhana, anak-anak bisa memahami potensi investasi untuk masa depan mereka.
Orang tua juga dapat menjelaskan bahwa utang bukan hal yang sepenuhnya negatif, asalkan digunakan secara produktif, seperti untuk pendidikan atau pembelian aset.
Namun, penting untuk menghindari utang konsumtif dan memahami cara kerja bunga. Pengetahuan ini akan membentuk sikap hati-hati dalam berutang di masa depan.
Memberikan anak kesempatan untuk mengelola uang sendiri merupakan cara efektif dalam pendidikan keuangan.
Memberikan anak kesempatan untuk mengelola uang sendiri merupakan cara efektif dalam pendidikan keuangan.
Dari uang saku atau hadiah, anak bisa diajak menyusun rencana penggunaan dana mereka, termasuk menyisihkan sebagian untuk ditabung, dibelanjakan, dan disumbangkan.
Konsep berbagi juga penting dikenalkan agar anak tidak hanya belajar mengatur keuangan, tetapi juga empati sosial.
Pendidikan keuangan bukan sekadar teori angka atau rumus, tetapi tentang membentuk kebiasaan dan cara berpikir yang sehat terhadap uang.
Dengan memperkenalkan konsep-konsep dasar keuangan sejak dini, anak-anak tidak hanya dibekali pengetahuan praktis, tetapi juga nilai-nilai tanggung jawab dan kemandirian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










