Akurat

Dorong Konsolidasi Bank Syariah, OJK Contohkan BSI

Yosi Winosa | 26 Juni 2025, 22:36 WIB
Dorong Konsolidasi Bank Syariah, OJK Contohkan BSI

AKURAT.CO Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menegaskan pentingnya memperkuat industri perbankan syariah di Indonesia melalui konsolidasi.

Pernyataan ini disampaikannya dalam Opening Ceremony BSI International Expo 2025 di Jakarta, Kamis (26/6/2025), sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan bank syariah yang lebih kompetitif.
 
Dalam kesempatan tersebut, Dian menyoroti keberhasilan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai contoh nyata bank syariah yang mampu menarik kepercayaan luar biasa dari masyarakat. 
 
“BSI ini kan adalah bank yang terbesar dan sebetulnya ini real case ya, yang membuktikan bahwa kalau bank syariah itu besar, maka kepercayaan masyarakat bisa tumbuh luar biasa dan pertumbuhannya juga lebih cepat,” ujarnya.
 
Hingga kini, BSI masih tercatat sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, bahkan termasuk yang terbaik di tingkat global.
 
 
OJK memandang bahwa model konsolidasi yang dilakukan terhadap BSI bisa menjadi acuan bagi bank-bank syariah lain yang masih dalam skala kecil.
 
OJK pun berencana mendorong konsolidasi bank syariah kecil untuk membentuk entitas yang lebih besar, serupa BSI.
 
Kebijakan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing bank syariah nasional di pasar domestik, tetapi juga memperluas kehadirannya di tingkat internasional.
 
“Ini saya kira adalah salah satu contoh yang harus ditiru oleh bank syariah lain agar bisa meloncat secara lebih cepat,” kata Dian. 
 
Menurutnya, proses penggabungan institusi perbankan syariah ke dalam entitas yang lebih besar terbukti mampu menciptakan efisiensi operasional dan memperluas jangkauan layanan.
 
Salah satu keunikan dari BSI yang turut menjadi sorotan adalah profil nasabahnya, di mana tingkat literasi keuangan syariah tergolong tinggi, namun tingkat inklusi masih rendah.
 
Hal ini menunjukkan bahwa BSI memiliki segmen pengguna yang sadar terhadap prinsip keuangan syariah, tetapi masih ada pasar yang belum tergarap secara optimal.
 
“Memang kelihatan bahwa ada potensi pasar yang sangat besar yang belum bisa digarap karena kapasitas ekspansi dari bank-bank syariah itu di Indonesia tidak dimiliki oleh semua bank,” jelas Dian. 
 
Dirinya mengungkapkan bahwa banyak bank kecil belum mampu menjangkau wilayah potensial akibat keterbatasan sumber daya dan teknologi.
 
Dian juga menekankan bahwa kompetisi perbankan ke depan akan sangat bergantung pada penguasaan teknologi informasi (IT).
 
Ia menyebut bahwa “state of the art IT” akan menjadi pembeda utama antara bank yang tumbuh pesat dan bank yang stagnan. Tanpa inovasi digital, bank baik konvensional maupun syariah akan kesulitan bersaing di era modern.
 
“Ke depan, persaingan perbankan itu hanya akan ditentukan oleh satu hal yakni kapasitas IT. Teknologi yang mutakhir akan menentukan apakah sebuah bank bisa menjadi besar atau tidak,” tegasnya. 
 
Oleh karena itu, OJK juga mendorong transformasi digital di seluruh institusi keuangan, termasuk bank syariah.
 
Langkah OJK ini dinilai sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat sektor keuangan berbasis syariah, sebagai bagian dari strategi menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
 
Dengan fondasi yang kuat, perbankan syariah diharapkan tidak hanya kompetitif secara domestik, tetapi juga mampu bersaing secara global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa