Ketidakpastian Global Kian Tinggi, Indonesia Hadapi Tekanan Fiskal Berat

AKURAT.CO Ketidakpastian global yang meningkat tajam dalam enam bulan terakhir dinilai lebih tinggi dibandingkan masa pandemi COVID-19.
Menurut Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Habib Rab, fenomena ini membawa dampak signifikan terhadap kestabilan keuangan dan fiskal Indonesia.
“Berbeda dengan risiko yang bisa diprediksi dan dikelola, ketidakpastian membuat pengambilan keputusan investasi dan kebijakan ekonomi menjadi jauh lebih sulit,” ujar Habib dalam pertemuan yang dilakukan di Jakarta, Senin (23/6/2025).
Baca Juga: China Kecam Proteksionisme AS, Serukan Dukungan Perdagangan Bebas di Forum IMF-World Bank
Dampak nyata dari ketidakpastian ini terlihat pada pasar keuangan. Dalam paruh pertama 2025, investor asing mencatatkan arus keluar modal sekitar 0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Bahkan, investasi langsung asing (FDI) merosot 40% pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu.
“Pasar saham menurun, namun menariknya, arus masuk ke obligasi pemerintah justru meningkat pada Maret 2025. Ini menjadi penyeimbang yang mengurangi tekanan dari arus keluar modal,” jelas Habib.
Meski arus keluar bersih tergolong kecil, rupiah tetap mengalami depresiasi tajam sejak pertengahan 2024, seiring dengan sikap bank sentral global yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini diperburuk oleh kondisi pasar keuangan domestik yang masih dangkal.
“Bayangkan ember yang hanya terisi seperempat, ketika diguncang, riaknya lebih besar dibandingkan ember yang penuh. Begitulah pasar keuangan kita saat ini,” tambahnya.
Baca Juga: Sri Mulyani Dorong Pembaruan Kerja Sama dengan World Bank
Dampak lainnya adalah tekanan pada anggaran negara. Rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan pemerintah mencapai 20%, jauh di atas rata-rata negara berkembang (8,5%) maupun negara maju (4%).
Habib menjelaskan bahwa tingginya rasio ini bukan semata karena utang yang besar karena total utang Indonesia masih sekitar 40% dari PDB, melainkan karena pendapatan negara yang masih rendah serta meningkatnya imbal hasil obligasi di tengah ketidakpastian global.
Kondisi ini menegaskan pentingnya menjaga disiplin fiskal dan moneter.
“Beruntung, Indonesia tetap mampu menjaga fondasi makroekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi 2025 diproyeksikan tetap tinggi di kisaran 4,7%, dengan inflasi yang menurun dan defisit anggaran yang masih terkendali,” tutup Habib.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










