Harga Bitcoin Terkoreksi, Pasar Kripto Melemah di Tengah Derasnya Sentimen Global

AKURAT.CO Pasar kripto alami tekanan dalam 24 jam terakhir, meskipun berbagai sentimen positif tengah menyelimuti ekosistem aset digital global. Bitcoin (BTC), sebagai aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, mencatatkan koreksi tipis di tengah kabar pembelian besar-besaran oleh Tether serta pergantian kepemimpinan di Blockchain Association.
Berdasarkan data yang dikutip dari CoinMarketCap, Kamis (15/5/2025), kapitalisasi pasar kripto global turun 1,28% menjadi USD3,34 triliun. Bitcoin sendiri melemah 0,52% dalam sehari terakhir dan diperdagangkan di kisaran USD103.506 atau sekitar Rp1,71 miliar per koin (dengan asumsi kurs Rp16.569 per USD).
Tak hanya Bitcoin, kripto utama lainnya juga ikut terseret pelemahan pasar. Ethereum (ETH) turun 3% ke level USD2.590, sementara Binance Coin (BNB) ikut tertekan 2% menjadi USD650 per koin. Koreksi ini terjadi meski sentimen global cenderung positif terhadap perkembangan ekosistem kripto.
Baca Juga: Pajak Kripto Tembus Rp1,2 Triliun, Indodax Pegang Pangsa Hingga 38,6 Persen
Salah satu faktor utama yang menarik perhatian pasar adalah keputusan Summer Mersinger, Komisioner Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Amerika Serikat, yang akan mundur dari jabatannya untuk menjadi CEO Blockchain Association. Ia dijadwalkan memulai peran barunya pada 2 Juni 2025, menggantikan Kristin Smith.
Langkah Mersinger ini membuka peluang politik baru di lembaga pengawas komoditas AS. Dengan kepergiannya, Presiden AS Donald Trump memiliki kesempatan menunjuk komisioner baru.
Sesuai peraturan, maksimal hanya tiga dari lima komisioner CFTC yang boleh berasal dari satu partai politik, menjadikan penunjukan ini berpotensi memengaruhi arah regulasi kripto di masa depan.
Di tengah dinamika kebijakan di AS, lanskap investasi di Asia pun ikut berubah. Laporan UBS menunjukkan bahwa para investor kaya Asia kini mulai mengalihkan portofolio mereka dari aset berbasis dolar AS menuju emas, mata uang kripto, dan saham di pasar China. Ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi pasar menjadi alasan utama dari pergeseran tersebut.
“Emas semakin menjadi pilihan utama,” ungkap Co-Head Wealth Management UBS untuk Asia, Amy Lo.
Dirinya menambahkan bahwa kripto juga mulai dilirik kembali sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang di tengah ketidakstabilan global. Bahkan indeks acuan Hong Kong, yang didominasi oleh perusahaan China, mencatatkan kinerja terbaik sepanjang 2024.
Baca Juga: Pajak Kripto Tembus Rp1,2 Triliun, Indodax Pegang Pangsa Hingga 38,6 Persen
Dari sisi lain, aksi korporasi besar juga turut membentuk dinamika pasar. Tether, penerbit stablecoin USDT, diketahui membeli Bitcoin senilai USD458,7 juta atau sekitar Rp7,3 triliun untuk kepentingan Twenty One Capital. Perusahaan ini tengah mempersiapkan merger dengan Cantor Equity Partners melalui skema SPAC.
Dengan pembelian sebesar 4.812,2 BTC pada harga rata-rata USD95.319, Twenty One Capital kini menjadi perusahaan publik ketiga dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, setelah MicroStrategy dan MARA Holdings. Tindakan Tether ini dipandang sebagai bentuk kepercayaan jangka panjang terhadap nilai fundamental Bitcoin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










