IHSG Berpotensi Menguat, Sentimen Damai Dagang AS-China Jadi Pendorong

AKURAT.CO Pasar saham Indonesia berpotensi menguat seiring munculnya sentimen positif dari kesepakatan pemangkasan tarif dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Pelaku pasar optimistis bahwa langkah ini akan memberikan angin segar bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama di tengah kondisi global yang belakangan cukup menekan pergerakan aset berisiko.
Dalam perjanjian yang diumumkan pada Senin (12/5/2025), pemerintah AS dan China sepakat memangkas tarif dagang satu sama lain secara signifikan selama 90 hari ke depan.
Baca Juga: Saham Eropa Naik, Pasar Global Sambut Pemangkasan Tarif AS-China
Tarif AS terhadap produk China diturunkan dari 145% menjadi 30%, sedangkan China memangkas tarif terhadap produk AS dari 125% menjadi 10%.
Presiden AS, Donald Trump menyambut baik kesepakatan ini dan menyebutnya sebagai langkah awal menuju keadilan dagang jangka panjang.
Trump juga menyatakan bahwa keterbukaan China akan menguntungkan kedua negara, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Merespons kabar tersebut, pasar saham global, termasuk bursa Wall Street, menunjukkan penguatan tajam pada perdagangan Senin. Nasdaq bahkan mencatat lonjakan hingga 1,61%, dipimpin oleh saham-saham teknologi besar.
Kenaikan tersebut mengerek kapitalisasi pasar perusahaan teknologi hingga USD837 miliar hanya dalam sehari.
Dampak dari perjanjian dagang ini tidak berhenti di AS. Di Indonesia, analis memperkirakan IHSG akan mengalami penguatan saat perdagangan dibuka hari ini, Rabu (14/5/2025).
Baca Juga: Dihantui Tarif AS, Vietnam Tetap Kukuh Jaga Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Pada penutupan terakhir, Jumat (9/5/2025), IHSG naik tipis 0,07% ke level 6.832, dengan total transaksi mencapai Rp9,01 triliun.
Mayoritas sektor, terutama saham-saham unggulan seperti teknologi, perbankan, komoditas, dan properti, dinilai berpeluang masuk zona hijau.
Saham-saham teknologi menjadi sorotan karena berkurangnya risiko rantai pasok global dan penghapusan tarif tambahan terhadap produk-produk elektronik dan semikonduktor.
Selain itu, sektor perbankan diprediksi ikut menguat seiring minat investor asing terhadap pasar Asia. Valuasi saham perbankan yang relatif murah juga menjadi daya tarik tersendiri.
Sektor komoditas pun berpotensi bangkit, terutama emiten yang terkait ekspor nikel, batu bara, dan baja.
Dikutip dari Reuters, Rabu (14/5/2025), Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa kesepakatan perdagangan ini bisa menjadi katalis positif jangka pendek bagi IHSG.
Menurutnya, berkurangnya risiko sistemik dari perang dagang dapat mendorong investor global kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Sentimen ini membuat investor kembali mengambil posisi risk-on, yang artinya peluang arus modal asing ke pasar obligasi dan saham dalam negeri terbuka lebar. Ini akan menopang IHSG untuk bergerak menuju zona bullish yang lebih stabil,” jelas Liza dalam riset terbarunya.
Dengan stabilitas global yang cenderung membaik dan potensi pelonggaran suku bunga global, pasar domestik berpeluang mendapatkan dukungan ganda. Para analis menyarankan investor mencermati saham-saham dengan fundamental kuat yang berpeluang menguat dalam kondisi sentimen positif seperti ini.
Langkah damai dagang AS-China ini juga dipandang sebagai peluang strategis bagi Indonesia memperkuat ekspor bahan baku ke Tiongkok, serta memperluas pasar produk manufaktur ke AS.
Hal ini menambah sentimen positif bagi IHSG, tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga menengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










