Bitcoin dalam Tren Bullish, Tembus USD104.000
Hefriday | 11 Mei 2025, 14:25 WIB

AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan kenaikan signifikan dengan menembus level psikologis USD103.000 untuk pertama kalinya sejak Februari 2025.
Tak berselang lama, aset kripto terbesar di dunia itu melanjutkan penguatannya hingga menyentuh USD104.000 pada Minggu (11/5/2025), menandai momentum bullish di pasar mata uang digital.
Kenaikan harga ini didorong oleh berbagai faktor positif yang bersifat teknikal maupun fundamental. Salah satu pendorong utama adalah keputusan Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan.
Langkah ini menciptakan ketenangan di kalangan investor yang sebelumnya khawatir akan pengetatan moneter lebih lanjut.
Sentimen positif juga datang dari dunia geopolitik. Presiden AS Donald Trump mengumumkan telah tercapainya kesepakatan dagang dengan Inggris, sebuah langkah yang menandai upaya normalisasi hubungan dagang setelah sebelumnya dipenuhi ketegangan tarif.
Kesepakatan tersebut dikabarkan mencakup pengurangan bea masuk untuk komoditas baja dan kendaraan, yang dinilai berpotensi menekan inflasi dari sisi pasokan.
Efek dari perkembangan ini tidak hanya terasa di pasar saham dan komoditas, tetapi juga menyebar ke pasar kripto. Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa lebih dari USD492 juta posisi short mengalami likuidasi dalam 24 jam terakhir, mencerminkan kuatnya dorongan beli dari pelaku pasar yang optimistis.
Dikutip dari Tokocrypto, Minggu (11/5/2025), analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan bahwa reli Bitcoin kali ini tidak semata-mata dipicu oleh indikator teknikal.
Menurutnya, kombinasi antara stabilitas kebijakan moneter, meredanya tensi dagang, serta arus masuk ke ETF Bitcoin menciptakan landasan kuat bagi reli ini untuk berlanjut.
“Jika kondisi ini terus terjaga, BTC memiliki peluang untuk menembus level resistance di kisaran USD105.000 hingga USD108.000 dalam waktu dekat,” kata Fyqieh dalam pernyataan tertulis.
Lebih lanjut, sejumlah analis menilai bahwa penurunan jumlah Bitcoin yang tersedia di bursa serta lonjakan permintaan dari institusi menunjukkan bahwa pasar mulai bergerak ke arah akumulasi jangka panjang.
Kendati demikian, indikator RSI (Relative Strength Index) yang berada di atas angka 70 memperingatkan potensi koreksi jangka pendek akibat kondisi overbought.
Meski ada potensi koreksi, sinyal pasar secara keseluruhan masih menunjukkan dominasi sentimen optimistis. Indeks Fear & Greed berada di level 70 yang menandakan pelaku pasar masih percaya diri terhadap kelanjutan tren naik.
Namun demikian, dominasi BTC terhadap altcoin tetap tinggi, yang tercermin dari Altcoin Season Index yang masih berada di angka 36.
Fyqieh menambahkan bahwa skenario bullish jangka menengah akan mengarah pada target USD120.000 jika kesepakatan dagang yang telah diumumkan terus berkembang menjadi kebijakan konkret.
Selain itu, keberlanjutan arus masuk dana institusional melalui produk ETF juga akan menjadi kunci dalam menjaga momentum.
Adapun dalam waktu dekat, pasar masih akan menanti beberapa data ekonomi utama dari Amerika Serikat, termasuk laporan anggaran pemerintah pada 12 Mei dan rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) pada 13 Mei.
Kedua data ini diyakini dapat mempengaruhi keputusan investor dalam mempertahankan posisi beli terhadap Bitcoin.
Tak hanya itu, usulan legislasi baru yang diperkenalkan oleh Senator Cynthia Lummis juga menjadi perhatian pelaku pasar. Rancangan undang-undang tersebut berisi wacana agar pemerintah AS mengakumulasi hingga satu juta BTC dalam lima tahun ke depan.
Jika terwujud, kebijakan ini berpotensi memperketat pasokan Bitcoin dan mempercepat lonjakan harga.
Dengan kombinasi antara faktor ekonomi makro, kebijakan geopolitik, dan regulasi kripto yang mulai terbuka, Bitcoin kembali mencuri perhatian sebagai aset alternatif yang menjanjikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










