Harga Bitcoin Bisa Naik Lagi? Investor Jangka Panjang Jadi Kunci

AKURAT.CO Pendiri perusahaan strategi investasi dan tokoh berpengaruh di dunia keuangan global, Michael Saylor, menyatakan bahwa harga Bitcoin belum menyentuh level tertinggi karena masih banyak pemilik aset yang menjual kepemilikannya sebelum waktunya.
Menurutnya, gelombang baru investor yang lebih berorientasi jangka panjang tengah memasuki pasar, menggantikan kelompok lama yang kurang memiliki visi investasi ke depan.
“Kita sedang mengalami rotasi pasar,” ungkap Saylor dikutip dalam sebuah wawancara podcast Coin Stories bersama jurnalis Natalie Brunell, Sabtu (10/5/2025).
Baca Juga: Bitcoin Tembus Rp1,7 Miliar, Pasar Kripto Melonjak Berkat Sentimen Positif Global
Dirinya menegaskan, Bitcoin mengalami perpindahan kepemilikan dari tangan yang tidak sabar ke tangan investor yang lebih strategis.
Menurut Saylor, sejumlah besar Bitcoin kini berada dalam kendali pihak-pihak seperti lembaga pemerintah, pengacara, maupun administrator aset hasil penyitaan atau pailit.
Kelompok ini, kata dia, tidak memiliki pola pikir jangka panjang seperti investor institusional, sehingga cenderung menjual ketika harga menguat demi mendapatkan likuiditas instan.
“Ketika harga naik, mereka yang tidak punya komitmen jangka panjang justru melepas asetnya. Di saat bersamaan, investor institusional mulai masuk melalui instrumen seperti ETF dan skema treasury Bitcoin korporat,” jelas Saylor.
Fenomena ini terjadi di tengah volatilitas harga Bitcoin yang sempat menyentuh rekor tertinggi di angka USD109.000 pada 20 Januari 2025, hanya beberapa jam sebelum pelantikan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Namun, harga sempat anjlok hingga ke titik terendah USD76.273 pada 9 April sebelum kembali menanjak ke atas USD100.000 pada 8 Mei.
Saylor menilai bahwa momentum pemulihan harga ini menandai kepercayaan pasar yang mulai pulih.
Kenaikan tersebut turut mendorong nilai portofolio Bitcoin milik perusahaan yang ia dirikan, Strategy, naik hingga lebih dari 50% dari harga beli rata-rata sebesar USD68.569. Saat ini, Strategy tercatat memiliki 555.450 Bitcoin dengan nilai sekitar USD57,23 miliar.
Baca Juga: Bitcoin Tembus USD79.000, Berpotensi Tembus USD150.000 di September 2025
Data dari platform Saylor Tracker mengonfirmasi posisi kepemilikan besar tersebut. Sementara itu, dari sisi investasi institusional, laporan Farside mencatat bahwa ETF Bitcoin spot mengalami aliran dana masuk sebesar USD564,7 juta hanya dalam lima hari perdagangan terakhir.
Meski perkembangan positif ini terjadi, Saylor menyatakan tidak heran jika pemerintah Amerika Serikat belum membeli Bitcoin secara resmi untuk dijadikan cadangan strategis nasional. Padahal, Presiden Trump sebelumnya telah menandatangani perintah eksekutif pada 7 Maret terkait pembentukan Strategic Bitcoin Reserve dari hasil penyitaan.
Yang mengejutkan bagi Saylor justru adalah perubahan sikap politik yang relatif cepat terhadap Bitcoin dalam enam bulan terakhir.
“Saya tidak menyangka semua anggota kabinet akan seantusias ini terhadap Bitcoin dalam waktu yang begitu singkat,” katanya.
Saylor juga memperingatkan bahwa stabilitas jangka panjang hanya bisa dicapai jika lebih banyak investor memiliki keyakinan dan strategi investasi yang berorientasi ke masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










