Akurat

Wall Street Melemah Jelang Negosiasi Dagang AS-China

Hefriday | 10 Mei 2025, 14:50 WIB
Wall Street Melemah Jelang Negosiasi Dagang AS-China

AKURAT.CO Indeks utama di Bursa Saham Wall Street mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Jumat (9/5/2025), menyusul meningkatnya kehati-hatian investor menjelang negosiasi dagang penting antara Amerika Serikat (AS) dan China yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini di Swiss.

Dikutip dari laman Investor, Sabtu (10/5/2025), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 119,07 poin atau 0,29% ke level 41.249,38. Sementara itu, indeks S&P 500 turut mencatat penurunan tipis sebesar 0,07% ke posisi 5.659,91. Adapun Nasdaq Composite nyaris stagnan, hanya turun tipis dan berakhir di angka 17.928,92.

Kondisi ini mencerminkan sikap pasar yang menahan diri di tengah dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan global yang belum pasti. Para investor menunggu kepastian dari negosiasi dagang AS-China, yang dinilai bisa menjadi katalis penting bagi arah pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Baca Juga: Trump Tolak Turunkan Tarif Impor China, De-eskalasi Perang Dagang Terancam Mandek

Negosiasi ini digelar menyusul tercapainya kesepakatan awal antara AS dan Inggris terkait perdagangan bilateral. Kesepakatan tersebut menjadi perjanjian dagang internasional pertama yang diteken AS sejak pemerintahan Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif ‘resiprokal’ pada awal April 2025 lalu.

Presiden Trump menyambut kesepakatan ini dengan antusias dan menyatakan optimisme tinggi terhadap peluang tercapainya lebih banyak perjanjian serupa.

“Banyak kesepakatan dagang sedang diproses, semuanya bagus (HEBAT)!” tulis Trump di akun resmi Truth Social miliknya.

Namun demikian, tantangan masih menghadang. Dalam unggahan terpisah, Trump menyebut bahwa “tarif 80% untuk China terasa tepat” menjelang dimulainya perundingan formal. Meski angka ini lebih rendah dari tarif saat ini yang mencapai 145%, tetap saja lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan hingga di bawah 60%.

Perundingan yang akan dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent bersama delegasi tinggi dari China menjadi sorotan utama pasar global. Belum ada kejelasan apakah tarif baru akan bersifat permanen atau hanya berlaku sementara selama proses negosiasi berlangsung.

Kepala Strategi Pasar di Nationwide, Mark Hackett, menilai perkembangan ini memang menjanjikan, tetapi belum cukup kuat untuk memberikan arah yang pasti bagi pasar.

Baca Juga: China Turunkan Suku Bunga untuk Atasi Dampak Perang Dagang dengan AS

“Pasar saat ini masih terjebak dalam siklus berita yang naik-turun, dan volatilitas cenderung datar hingga muncul hasil negosiasi yang konkret,” ujarnya.

Secara mingguan, kinerja indeks saham utama di AS masih cenderung negatif. S&P 500 tercatat melemah sekitar 0,5%, Nasdaq turun 0,3%, dan Dow Jones terkoreksi hampir 0,2%. Hal ini mencerminkan kekhawatiran yang belum mereda di kalangan pelaku pasar.

Meski demikian, sebagian investor tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang, apalagi jika negosiasi AS-China membuahkan hasil positif. Sentimen global juga terbantu oleh masuknya modal asing ke pasar keuangan, termasuk Indonesia, yang mencatat aliran masuk Rp120 miliar pada periode yang sama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi