Akurat

Bitcoin Tembus USD79.000, Berpotensi Tembus USD150.000 di September 2025

Hefriday | 4 Mei 2025, 23:00 WIB
Bitcoin Tembus USD79.000, Berpotensi Tembus USD150.000 di September 2025

AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) tengah menunjukkan performa yang kuat di pasar kripto global.

Meskipun saat ini sedang bergerak konsolidatif di kisaran harga USD95.000, sejumlah analis memperkirakan bahwa mata uang kripto terbesar di dunia ini sedang mempersiapkan diri untuk mencetak rekor harga tertinggi (all-time high/ATH) baru.

Salah satu analis ternama, Michael van de Poppe, menyebut bahwa Bitcoin baru saja menuntaskan tugas teknikal yang sangat penting.

Menurutnya, BTC berhasil menembus level krusial di USD87.000, yang sebelumnya menjadi batas psikologis sekaligus teknikal dalam beberapa pekan terakhir. Level ini juga berdekatan dengan rata-rata pergerakan harian 50 (SMA 50) yang telah menahan laju kenaikan harga sejak Februari.

“Bitcoin memiliki satu level penting untuk ditembus, yaitu USD87.000. Kini level itu telah dilewati dan BTC terus naik lebih tinggi. Selain itu, BTC juga telah kembali ke kisaran harga di atas USD92.000, yang merupakan sinyal positif. Setiap penurunan kini menjadi peluang masuk yang baik menuju ATH baru,” kata van de Poppe melalui unggahan di media sosialnya dikutip Minggu (4/5/2025).

Baca Juga: Bitcoin Kuat di Kanal Gaussian, Sinyal Positif Penguatan Harga

Pada 1 Mei lalu, Bitcoin sempat melonjak dari level terendah harian USD94.115 menjadi USD97.483, sebelum akhirnya mencapai puncaknya di USD97.948 pada 2 Mei.

Namun, setelah menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir tersebut, harga BTC mengalami koreksi tipis dan kini diperdagangkan di kisaran USD95.684, turun 0,54% dalam 24 jam terakhir.

Meskipun demikian, tekanan jual mulai muncul kembali di area harga USD95.000 hingga USD98.000. Menurut laporan dari Glassnode, terdapat konsentrasi besar pemegang koin yang masih berada dalam posisi rugi di zona harga tersebut.

Hal ini berpotensi memicu aksi ambil untung oleh investor yang ingin keluar di titik impas, sehingga menciptakan tekanan jual tambahan.

Selain itu, analisis on-chain juga menunjukkan adanya kecenderungan distribusi dari pemegang jangka panjang (long-term holders/LTH), yang dapat memperkuat zona resistensi jangka pendek.

Jika Bitcoin mampu bertahan dan menembus rentang resistensi tersebut, maka akan membuka peluang memasuki area resistensi rendah dan kembali ke fase “price discovery”.

Veteran analis pasar kripto, Peter Brandt, juga memberikan pandangan optimistis.

Dalam sebuah unggahan di platform X, ia menyebutkan bahwa jika BTC mampu merebut kembali garis tren parabolis yang sempat terputus, maka harga Bitcoin berpotensi meroket ke kisaran USD125.000 hingga USD150.000 pada Agustus atau September 2025.

Namun, Brandt juga memberikan catatan penting bahwa kenaikan tajam seperti itu biasanya diikuti oleh koreksi yang signifikan.

“Lonjakan besar tersebut bisa saja disusul oleh penurunan harga hingga 50 persen setelahnya,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa volatilitas masih menjadi ciri khas utama dalam perdagangan aset kripto seperti Bitcoin.

Sementara itu, volume perdagangan Bitcoin secara global terus menunjukkan peningkatan, mencerminkan antusiasme pasar yang tinggi meskipun volatilitas masih membayangi.

Investor institusional dan ritel sama-sama menunjukkan minat untuk mengakumulasi BTC, terutama saat harga masih tertahan di bawah level psikologis USD100.000.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa