China Susun Langkah Taktis Hadapi Gempuran Tarif Trump dari Risiko Deflasi

AKURAT.CO Pemerintah China meningkatkan respons kebijakan dalam menghadapi tarif tinggi dari Amerika Serikat sekaligus berjuang melawan risiko deflasi yang semakin nyata di dalam negeri.
Hal tersebut terjadi pasca Presiden AS , Donald Trump kembali memperkeruh ketegangan dagang dengan menaikkan tarif impor dari China hingga 125%.
Sebagai balasannya, China pun mengumumkan akan mengenakan tarif sebesar 84% terhadap semua produk asal AS.
Ketegangan ini memunculkan kekhawatiran terhadap kestabilan ekonomi China yang saat ini tengah terancam oleh deflasi.
Baca Juga: ADB Lapor, Asia Tenggara jadi Penopang Pertumbuhan Regional di Tengah Perlambatan Ekonomi China
Bloomberg Economics memprediksi bahwa kebijakan agresif Trump dapat memangkas pertumbuhan ekonomi China hingga 3%.
Menghadapi situasi tersebut, Perdana Menteri China, Li Qiang menyatakan bahwa pemerintah memiliki berbagai instrumen kebijakan untuk mengimbangi tekanan eksternal.
“Pemerintah akan memprioritaskan konsumsi domestik sebagai motor pertumbuhan ekonomi,” ujar Li dalam konferensi pers di Beijing dikutip dari laman Bloomberg.
Langkah-langkah yang sedang disiapkan meliputi peningkatan stimulus fiskal, kebijakan kredit untuk rumah tangga dan sektor UMKM, serta insentif pajak untuk industri manufaktur yang terkena dampak ekspor.
"Kondisi ekonomi dalam negeri memang membutuhkan perhatian khusus. Kontribusi ekspor yang selama ini menyumbang sepertiga pertumbuhan ekonomi China mulai terkikis akibat kebijakan tarif baru AS, oleh karena itu, apabila eksportir besar mengalihkan barang ke pasar domestik, risiko kelebihan pasokan dapat mendorong harga turun lebih dalam," ucap PM Li.
Baca Juga: Berlaku Mulai Hari Ini, Trump Gebuk Impor China Jadi 104 Persen!
Deflasi konsumen yang terjadi selama dua bulan terakhir dan penurunan harga properti yang belum mencapai dasar menjadi tanda tekanan yang kian mendalam.
"Pemerintah saat ini dihadapkan pada tantangan besar untuk menahan tren penurunan harga sekaligus menjaga stabilitas sosial dan kepercayaan pasar," ucapnya.
Senada dengab PM Li, Pengamat dari Beijing University of Economics memperingatkan bahwa jika tidak segera diatasi, deflasi yang berlangsung lama bisa membuat rumah tangga dan pelaku usaha menunda belanja dan investasi, memperburuk perlambatan ekonomi yang sudah terjadi.
Untuk itu, respons kebijakan yang cepat dan terkoordinasi menjadi kunci agar China tidak terperosok lebih jauh ke dalam jebakan deflasi dan dampak jangka panjang perang dagang yang tak kunjung reda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina







