ADB Lapor, Asia Tenggara jadi Penopang Pertumbuhan Regional di Tengah Perlambatan Ekonomi China

AKURAT.CO Kala China sedang alami perlambatan pertumbuhan ekonomi, kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara diproyeksikan menjadi penopang utama laju ekonomi Asia-Pasifik menurut laporan ADB baru-baru ini.
Dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2025 yang dirilis Bank Pembangunan Asia (ADB), tercatat bahwa pertumbuhan ekonomi China diprediksi melambat menjadi 4,7% tahun ini dan 4,3% tahun depan.
Sebaliknya, India dan negara-negara Asia Tenggara menunjukkan prospek yang lebih cerah.
ADB memproyeksikan India akan tumbuh sebesar 6,7% tahun ini dan meningkat menjadi 6,8% tahun depan.
Baca Juga: KSPI Wanti-Wanti Gelombang Kedua PHK Ancam Industri Ekspor Akibat Kenaikan Tarif Impor AS
Dimana pertumbuhan tersebut didorong oleh permintaan domestik yang kuat serta kebijakan fiskal yang proaktif.
Sementara itu, negara-negara di Asia Tenggara diperkirakan akan mencatat pertumbuhan stabil di angka 4,7% pada 2025 dan 2026.
Pemulihan sektor pariwisata dan peningkatan konsumsi domestik disebut menjadi motor utama pertumbuhan kawasan ini.
Menurut Kepala Ekonom ADB, Albert Park, menyebutkan bahwa kawasan Asia dan Pasifik tetap tangguh berkat pondasi ekonomi yang kuat. Namun, tantangan eksternal seperti kebijakan perdagangan AS dan ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor penentu.
“Berbagai perekonomian di kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang ditopang oleh fundamental yang kuat, sehingga menjadi landasan bagi ketangguhan di tengah lingkungan global yang menantang ini,” kata Albert.
Baca Juga: IHSG Tahan Guncangan Global, Ekonomi RI Masih Kuat Meski Dihantam Tarif Trump
Untuk kawasan lain, pertumbuhan ekonomi di Kaukasus dan Asia Tengah diperkirakan melambat dari 5,7% pada 2024 menjadi 5,4% tahun ini, dan turun lagi menjadi 5% pada 2026 karena lemahnya permintaan eksternal.
Adapun kawasan Pasifik tetap bergantung pada sektor pariwisata, dengan pertumbuhan diprediksi sebesar 3,9% tahun ini dan 3,6% tahun depan, turun dari 4,2% pada 2024.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan
- 10Indonesia dan Mesir Tegaskan Solusi Dua Negara Kunci Perdamaian Palestina







