Keuangan Syariah Melesat Tapi Kok Masih Sulit Diakses? Ini kata OJK

AKURAT.CO Keuangan syariah di Indonesia terus berkembang, tapi ada satu fakta menarik yang perlu jadi perhatian, yakni tingkat literasinya meningkat pesat, tapi inklusinya masih tertinggal.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan.
"Keuangan syariah tidak bikin hati resah, alhamdulillah," ujar Friderica dalam acara puncak GERAK Syariah, Selasa (25/3/2025).
Baca Juga: OJK Dorong Perbankan Daerah Lebih Berperan dalam Ekonomi Nasional
Meski begitu, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Data terbaru menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah meningkat dari 9% menjadi 39%.
Sayangnya, inklusinya jumlah masyarakat yang benar-benar menggunakan produk keuangan syariah baru mencapai 12%. Ini jauh dibandingkan keuangan konvensional, di mana tingkat inklusi lebih tinggi daripada literasi.
Kenapa inklusi keuangan syariah masih rendah? Salah satu alasan utamanya adalah akses. Banyak masyarakat yang ingin menggunakan produk syariah tapi kesulitan mendapat layanan.
Friderica menuturkan pengalaman langsungnya saat mengunjungi daerah terpencil di Yogyakarta. Warga desa di sana sebenarnya ingin membuka rekening syariah, tapi tak bisa karena tak ada akses bank syariah di daerah mereka.
Bahkan layanan perbankan digital pun belum menjangkau mereka akibat terbatasnya infrastruktur internet.
Selain akses, ada juga tantangan dari sisi edukasi dan sosialisasi produk. Banyak orang yang sudah paham konsep keuangan syariah, tapi masih ragu untuk menggunakannya.
Hal ini mengingatkan pada perkembangan pasar modal syariah beberapa tahun lalu. Saat itu, masyarakat bertanya-tanya apakah investasi di pasar modal itu sesuai syariah atau tidak.
Baca Juga: Upbit Indonesia Resmi Memperoleh Izin dari OJK
Namun, setelah ada fatwa DSN MUI dan sosialisasi bersama para ulama, kepercayaan masyarakat meningkat pesat.
Maka, OJK dan para pelaku industri keuangan syariah harus mencari strategi yang lebih efektif untuk menjangkau masyarakat.
Salah satu langkah yang sudah dilakukan adalah Gerakan Syariah Nasional (Gerah Syariah), yang mengusung program literasi, inklusi, serta kegiatan sosial.
Hasilnya? Dalam satu tahun, jumlah peserta edukasi naik dua kali lipat dari 3 juta menjadi 6,3 juta orang. Total penghimpunan dana masyarakat dalam program ini pun mencapai Rp1,9 triliun, dengan total penyaluran dana sebesar Rp4,6 triliun.
Dengan angka sebesar itu, jelas bahwa keuangan syariah punya potensi luar biasa. Tapi, potensi ini hanya bisa terwujud jika ada kerja sama semua pihak, baik dari regulator, industri, maupun masyarakat sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK







