Akurat

Bitcoin Sentuh USD87 Ribu, Sentimen Pasar Kripto Masih Diliputi Ketidakpastian

Hefriday | 6 Maret 2025, 08:00 WIB
Bitcoin Sentuh USD87 Ribu, Sentimen Pasar Kripto Masih Diliputi Ketidakpastian

AKURAT.CO Harga Bitcoin kembali mengalami kenaikan signifikan setelah sempat terkoreksi ke level USD82 ribu pada Selasa (4/3/2025) lalu. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di angka USD87 ribu, menunjukkan volatilitas tinggi dalam sepekan terakhir.

Fluktuasi harga yang terjadi dalam rentang USD78 ribu hingga USD94 ribu mencerminkan dinamika pasar kripto yang masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk kebijakan perdagangan global dan regulasi aset digital di Amerika Serikat.

Menurut Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, menjelaskan bahwa pergerakan harga Bitcoin yang sangat dinamis ini didorong oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah ketidakpastian pasar terkait dampak kebijakan perdagangan yang dapat memicu kenaikan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Meskipun data inflasi PCE bulan Januari menunjukkan penurunan, kekhawatiran pasar terhadap dampak perang dagang masih cukup tinggi,” ujar Fahmi dalam keterangan tertulis, Kamis (6/3/2025).

Baca Juga: 1.396 Aset Kripto Siap Diperdagangkan per Februari 2025

Selain faktor ekonomi makro, perubahan kebijakan kripto di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump juga turut menjadi perhatian investor.

Sejauh ini, kebijakan pemerintah AS masih memberikan sinyal yang belum sepenuhnya jelas mengenai arah regulasi kripto, terutama dalam mendukung inovasi industri tanpa membatasi proyek-proyek tertentu.

Saat ini, psikologi pasar kripto masih berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Indeks Fear & Greed menunjukkan level Extreme Fear, yang menandakan bahwa mayoritas pelaku pasar masih bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa volatilitas Bitcoin tetap tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam waktu dekat, Presiden AS Donald Trump akan menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kripto pertama di Gedung Putih pada Jumat (7/3/2025). Acara ini akan dihadiri oleh para pemimpin industri kripto, seperti CEO Coinbase Brian Armstrong, pendiri Chainlink Labs Sergey Nazarov, serta CEO Robinhood Vlad Tenev.

KTT ini diharapkan dapat memberikan kejelasan terkait regulasi dan arah kebijakan pemerintah terhadap industri aset digital.

Baca Juga: Indodax Gandeng BNI dan Bank INA: Hadirkan Kartu Debit Spesial untuk Komunitas Kripto!

Menurut Fahmi, pertemuan ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap pasar kripto jika menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif dan mendukung perkembangan industri.

Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko konflik kepentingan yang dapat menguntungkan segelintir pemain besar di industri kripto, sehingga investor harus tetap waspada.

Sementara itu, indikator SOPR (Spent Output Profit Ratio) menunjukkan bahwa aksi jual yang terjadi belakangan ini lebih banyak didominasi oleh investor jangka pendek yang menjual aset mereka dalam kondisi rugi.

Sebaliknya, investor jangka panjang masih mempertahankan posisinya tanpa banyak melakukan aksi jual, menandakan fundamental pasar yang cukup kuat.

Di sisi lain, meningkatnya aliran dana masuk ke dalam ETF Bitcoin spot juga menjadi indikator pemulihan kepercayaan investor, terutama dari kalangan institusional.

Sejak pertengahan Februari hingga awal Maret, net inflow ETF Bitcoin spot hanya mencatatkan dua kali arus masuk positif, yaitu pada 14 dan 28 Februari. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketidakpastian, minat terhadap Bitcoin masih tetap tinggi.

Fahmi menambahkan bahwa investor dapat menyesuaikan strategi investasi mereka sesuai dengan tujuan finansial masing-masing.

"Investor dengan pendekatan fundamental dapat memilih aset kripto berkapitalisasi besar, sementara trader yang ingin memanfaatkan volatilitas pasar bisa menggunakan instrumen derivatif seperti Futures dengan leverage hingga 25 kali," tutup Fahmi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa