IHSG Tertekan Cukup Dalam, Investor Mulai Hati-hati
Demi Ermansyah | 28 Februari 2025, 23:31 WIB

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini mengalami tekanan yang cukup dalam. Banyak investor mulai bersikap hati-hati karena berbagai faktor, baik dari luar negeri maupun dalam negeri.
Menurut Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, salah satu faktor utama yang menekan IHSG adalah ketidakpastian global.
Dimana perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dengan mitra dagangnya membuat investor asing menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Saat ini, sekitar 70 persen dana asing lebih memilih aset yang lebih aman di AS," ucap Iman dalam acara di Ruang Seminar BEI, Jakarta, Jumat (26/2/2025).
Baca Juga: IHSG Dibuka Nanjak 0,89 Persen, Saham BBCA hingga BRMS Menghijau
Selain itu, kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga tinggi juga membuat pasar saham cenderung lesu.
Selain itu, kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga tinggi juga membuat pasar saham cenderung lesu.
The Fed diperkirakan hanya akan menurunkan suku bunga sekali sepanjang 2025, sehingga investor lebih memilih menyimpan dana di instrumen yang lebih stabil dibanding saham.
Tidak hanya dari AS, tekanan juga datang dari Asia. Bank of Korea baru saja memangkas suku bunga acuannya dari 3 persen menjadi 2,75%. Hal ini menambah ketidakpastian di kawasan, terutama bagi pasar saham di Indonesia.
Sementara itu, dari dalam negeri, pemangkasan peringkat Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi sentimen negatif yang cukup besar. Banyak investor mempertimbangkan ulang portofolionya di pasar saham Tanah Air.
"Saat ini, sekitar 40 persen investor di bursa masih didominasi asing. Sementara itu, dari 60 persen investor domestik, hampir 40 persennya adalah investor ritel. Kalau tekanan terus berlanjut, tentu mereka bisa makin waspada," ujar Iman.
Tidak hanya dari AS, tekanan juga datang dari Asia. Bank of Korea baru saja memangkas suku bunga acuannya dari 3 persen menjadi 2,75%. Hal ini menambah ketidakpastian di kawasan, terutama bagi pasar saham di Indonesia.
Sementara itu, dari dalam negeri, pemangkasan peringkat Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi sentimen negatif yang cukup besar. Banyak investor mempertimbangkan ulang portofolionya di pasar saham Tanah Air.
"Saat ini, sekitar 40 persen investor di bursa masih didominasi asing. Sementara itu, dari 60 persen investor domestik, hampir 40 persennya adalah investor ritel. Kalau tekanan terus berlanjut, tentu mereka bisa makin waspada," ujar Iman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya








