Akurat

Bybit Dibobol! Rugi Hingga USD1,5 Miliar, Investor Ketar-Ketir

Hefriday | 24 Februari 2025, 08:40 WIB
Bybit Dibobol! Rugi Hingga USD1,5 Miliar, Investor Ketar-Ketir

AKURAT.CO Pertukaran kripto Bybit, yang berbasis di Dubai, baru-baru ini menjadi sorotan setelah mengalami perampokan digital yang mengakibatkan pencurian senilai USD1,5 miliar. Dimana insiden tersebut dianggap sebagai peristiwa perampokan digital terbesar dalam sejarah yang mengakibatkan kekhawatiran mendalam di kalangan investor global.

Dalam insiden tersebut, seorang peretas berhasil mendapatkan kendali atas salah satu dompet Ethereum, salah satu aset digital paling populer setelah Bitcoin, dan mentransfer aset tersebut ke alamat yang hingga kini belum diketahui. Kejadian ini memicu respons cepat dari pihak Bybit untuk mengamankan sisa aset nasabah mereka.

Dikutip dari laman Coinspeaker, Senin (24/2/2025), Bybit segera berupaya meyakinkan kliennya bahwa semua kepemilikan cryptocurrency tetap aman. Perusahaan mengumumkan bahwa langkah pemulihan sedang digalakkan dengan melibatkan para ahli terkemuka dalam bidang keamanan siber dan analisis kriptografi guna melacak dan mengembalikan dana yang dicuri.

Baca Juga: Pilih Trading atau Investasi? Upbit Indonesia Berikan Panduan untuk Strategi Kripto yang Tepat

Co-founder dan direktur eksekutif Bybit, Ben Zhou, menyatakan bahwa meskipun tidak seluruh dana yang hilang dapat berhasil dipulihkan, perusahaan tetap memiliki mekanisme pendukung 1 banding 1 untuk melindungi aset nasabah. Hal ini berarti bahwa setiap kerugian yang terjadi akan diganti secara penuh oleh pihak Bybit.

Lebih lanjut, Zhou menegaskan bahwa nilai total aset nasabah yang dikelola oleh Bybit mencapai sekitar USD20 miliar. Selain itu, perusahaan juga siap menutupi dana yang belum terpulihkan melalui pinjaman mitra, guna memastikan kepercayaan dan stabilitas di mata para investor.

Akibat berita perampokan tersebut, Bybit menerima lebih dari 350.000 permohonan penarikan dana dari para penggunanya. Lonjakan permintaan ini berpotensi menyebabkan keterlambatan dalam proses pencairan, menambah tekanan pada sistem operasional pertukaran.

Secara teknis, peristiwa ini terjadi saat perusahaan melakukan transfer rutin Ethereum dari dompet “dingin” secara offline ke dompet “hangat” yang digunakan untuk perdagangan harian. Seorang penyerang berhasil mengeksploitasi celah keamanan dalam proses tersebut, meskipun Bybit menegaskan bahwa dompet lain yang dimiliki tidak terdampak.

Dampak dari peretasan ini juga terasa di pasar, di mana harga Ethereum sempat turun hampir 4% pada hari pengumuman peristiwa tersebut. Namun, dalam beberapa jam berikutnya, nilai aset digital tersebut menunjukkan pemulihan mendekati level sebelumnya.

Baca Juga: Harga Aset Kripto Bergerak Variatif, Bitcoin Menguat Tipis

Sebagai respons terhadap insiden ini, Bybit membuka peluang bagi “pikiran paling cerdas” dalam dunia keamanan siber dan analisis kriptografi untuk membantu upaya pemulihan dana.

Perusahaan bahkan menawarkan hadiah sebesar 10% dari jumlah yang berhasil dikembalikan, yang jika mencapai target penuh, nilai hadiahnya bisa mencapai USD140 juta.

Perampokan ini tidak hanya mengguncang kepercayaan pasar, tetapi juga menimbulkan spekulasi tentang identitas pelaku.

Meskipun hingga kini belum ada kepastian mengenai siapa yang bertanggung jawab, beberapa laporan mengisyaratkan kemungkinan keterlibatan kelompok peretas yang diduga memiliki afiliasi dengan negara, seperti kelompok Lazarus yang sebelumnya pernah dikaitkan dengan pencurian besar, termasuk insiden Ronin Group pada tahun 2022.

Dalam pernyataan resmi, Ben Zhou menyatakan tekad Bybit untuk mengatasi kemunduran ini dengan melakukan transformasi mendasar pada infrastruktur keamanannya.

Zhou juga menambahkan bahwa perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan likuiditas serta membangun kemitraan strategis dengan komunitas kriptografi guna menciptakan ekosistem yang lebih aman dan terpercaya di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa