Akurat

Outlook Pasar Kripto 2025: Menanti Inovasi Sejenis Bitcoin Berbasis AI dan Tokenisasi RWA

Yosi Winosa | 3 Januari 2025, 23:02 WIB
Outlook Pasar Kripto 2025: Menanti Inovasi Sejenis Bitcoin Berbasis AI dan Tokenisasi RWA

AKURAT.CO Tahun 2024 lalu menjadi tahun yang luar biasa bagi Industri kripto di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), nilai transaksi aset kripto dari Januari hingga November 2024 mencapai Rp556,53 triliun, meningkat signifikan sebesar 356,16% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023 yang hanya mencapai Rp122 triliun.

Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan minat masyarakat yang semakin besar terhadap aset kripto tetapi juga memperlihatkan potensi pasar yang belum tergarap sepenuhnya. Hingga November 2024, jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia mencapai 22,1 juta, dengan 1,3 juta di antaranya aktif bertransaksi melalui Calon Pedagang Fisik Aset Kripto (CPFAK) dan Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK).

Baca Juga: Kaleidoskop Pasar Kripto 2024: Halving, Trump Effect dan Rekor Baru Bitcoin Tembus USD100.000

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bappebti, Tommy Andana mengatakan, Aset dengan nilai transaksi tertinggi termasuk Tether (USDT), Bitcoin (BTC), Dogecoin (DOGE), Pepe (PEPE), dan XRP (XRP).

Tren ini menunjukkan diversifikasi aset kripto yang diminati investor, mencerminkan strategi investasi yang lebih kompleks dan beragam. “Peningkatan jumlah pelanggan saat ini menunjukkan potensi pasar aset kripto di Indonesia yang masih sangat besar. Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia diprediksi mampu menjadi salah satu pemimpin pasar kripto di dunia,” ujar Tommy dalam keterangannya, Jumat (3/1/2025).

Senada, Chief Marketing Officer (CMO) Tokocrypto, Wan Iqbal, menyebutkan bahwa lonjakan transaksi ini merupakan refleksi dari kepercayaan masyarakat terhadap aset kripto. Industri kripto Indonesia terus berkembang, meskipun dihadapkan pada tantangan regulasi seperti penerapan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 131/2024 dan 81/2024 yang menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada nilai transaksi kripto.

Menurut Iqbal, meskipun ada dampak terhadap biaya transaksi, pasar kripto tetap memiliki prospek cerah. “Penerapan PPN ini mungkin akan mempengaruhi biaya transaksi. Namun, dengan meningkatnya minat pasar dan optimisme terkait potensi kenaikan pasar kripto di tahun 2025, kami yakin transaksi akan tetap mengalami pertumbuhan,” katanya.

Faktor pendukung lainnya adalah literasi dan edukasi masyarakat yang terus ditingkatkan oleh para pelaku industri. Edukasi yang baik akan menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan, memastikan bahwa investasi kripto tidak hanya menjadi tren jangka pendek tetapi juga solusi jangka panjang untuk diversifikasi portofolio keuangan masyarakat Indonesia.

Pada tingkat global, tahun 2024 menjadi periode pemulihan yang menonjol bagi pasar kripto. Bitcoin, sebagai aset dominan di pasar ini, mencatatkan kenaikan harga lebih dari USD100.000, menghasilkan keuntungan hingga 120%.

Namun, memasuki akhir 2024, tekanan pasar yang disebabkan oleh sentimen negatif dari Ketua The Fed, Jerome Powell, serta aksi ambil untung oleh investor, sempat menahan laju pertumbuhan Bitcoin. Meski demikian, proyeksi untuk tahun 2025 tetap optimis.

Dominasi Bitcoin

Menurut trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, Bitcoin terus mengukuhkan dirinya sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Kebijakan moneter tetap dan sifat desentralisasi yang melekat pada Bitcoin membuatnya semakin menarik, terutama bagi investor institusional.

“Institusi besar mulai mengakui Bitcoin sebagai aset aman. ETF Bitcoin semakin populer di Amerika Serikat, mencerminkan peningkatan adopsi institusional terhadap aset ini,” jelas Fyqieh.

BlackRock melaporkan bahwa Bitcoin menghasilkan laba atas investasi sebesar 110% pada tahun 2024, melampaui kinerja ekuitas utama di AS dan Tiongkok. Pada 2025, potensi kenaikan harga Bitcoin hingga USD160.000 menjadi perhatian investor, meskipun risiko koreksi tetap ada.

Kripto Berbasis AI jadi Peluang Investasi Baru

Integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan blockchain menjadi salah satu inovasi yang menarik perhatian. Proyek seperti ai16z dan Hyperliquid menunjukkan bagaimana teknologi ini dapat mengoptimalkan efisiensi dan analisis data on-chain. Namun, ia menekankan bahwa sektor ini masih bersifat spekulatif dan memerlukan analisis risiko yang matang.

“Data menunjukkan bahwa agen AI on-chain menghasilkan pendapatan kumulatif senilai USD8,7 juta hanya dalam lima minggu pada tahun 2024,” ungkap Fyqieh.

Tokenisasi RWA, Masa Depan Kripto

Tokenisasi aset dunia nyata (RWA) juga menjadi tren utama lainnya. Teknologi ini memungkinkan aset tradisional seperti real estat dan ekuitas menjadi lebih likuid dan mudah diakses. Fyqieh menyebut bahwa tokenisasi adalah solusi untuk inefisiensi pasar keuangan tradisional.

“Tren Finance memperkirakan sektor RWA dapat tumbuh lebih dari 50 kali lipat pada tahun 2030, dengan ukuran pasar mencapai USD10 triliun,” katanya.

Dengan berbagai inovasi dan dukungan regulasi yang lebih baik, masa depan industri kripto terlihat menjanjikan. Indonesia, sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat, memiliki potensi besar untuk menjadi pemain global di industri ini. Namun, para investor diingatkan untuk tetap berhati-hati. Fyqieh menyarankan agar mereka memahami fundamental setiap aset dan melakukan diversifikasi portofolio.

“Meski peluang besar terbuka, manajemen risiko harus tetap menjadi prioritas. Dengan pendekatan yang bijak, investor dapat memanfaatkan peluang besar yang ditawarkan oleh pasar kripto di tahun 2025,” tukasnya.

Pertumbuhan industri kripto di Indonesia pada 2025 tetap menjanjikan. Dengan semakin banyaknya alternatif Bitcoin dan inovasi seperti tokenisasi RWA serta proyek berbasis AI menunjukkan bahwa pasar kripto terus berkembang. Dengan manajemen risiko yang tepat dan literasi yang baik, tahun 2025 menjanjikan peluang besar bagi investor dan pelaku industri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa