Akurat

NPL UMKM Naik, Ekonom: Dampak Suku Bunga Tinggi

Demi Ermansyah | 25 Juni 2024, 17:18 WIB
NPL UMKM Naik, Ekonom: Dampak Suku Bunga Tinggi

AKURAT.CO Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Etika Karyani, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga cenderung menekan debitur UMKM dan membuat mereka kian sulit melunasi pinjaman.

Ia mencatat proporsi kredit untuk UMKM hingga April 2024 masih sama seperti tahun 2023, yang mana kredit mikro yang asetnya kurang dari 50juta  itu mendominasi kredit kecil yang nilainya antara Rp50 sampai 500 juta. Hal tersebut juga berlaku kepada usaha menengah yang asetnya di atas Rp500 sampai 10 miliar

"Kalau lihat sisi NPL UMKM berada di level 4,26 persen dan ini semuanya naik sedikit 3,98 per maret. Akan tetapi kenaikan ini seiring dengan berakhirnya relaksasi, restrukturisasi kredit yang kemudian mengkategorikan kredit bermasalah tapi tetap lancar. Selain itu kemungkinan akses market suku bunga tinggi menyulitkan kreditur melunasi pembayaran," ucapnya di sela webinar Akurat.co bertajuk Pertumbuhan Kredit di Tengah Ancaman Risiko Global di Jakarta, Selasa (25/6/2024), yang didukung oleh BNI dan Jamkrindo.

Ditambahkan, suku bunga tinggi juga menekan sisi belanja kelas menengah ke bawah seiring dengan kenaikan biaya cicilan pasca adanya pandemi Covid. Di mana, lanjut Etika, respon penyesuaian suku bunga kredit terhadap kenaikan suku bunga acuan oleh industri perbankan pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli masyarakat ke depan.

Baca Juga: Ketua Umum Apindo Rekomendasi 2 Hal Terkait Implementasi UU PPSK

"Jadi belanja kelas menengah dan kelas bawah ini masih ditopang oleh tabungan, nah fenomena makan tabungan sejak kuartal IV-2023 mengindikasikan adanya pelemahan pada daya beli, dengan demikian cicilan utang meningkat daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah semakin tergerus, karena adanya peningkatan pendapatan tidak sejalan dengan naiknya harga-harga," ucapnya pada saat 

Selain kelas menengah, tambahnya, yang berkontribusi pada pergerakan ekonomi yakni UMKM, CORE melihat UMKM berperan sangat besar untuk pertumbuhan ekonomi dengan jumlah mencapai 90% dari keseluruhan unit usaha.

"Menurut data yang kita ampuh, pada tahun 2023 terakhir total pelaku usaha UMKM ini sudah mencapai 66 juta, yang memberikan kontribusi sangat signifikan sebesar 60 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto Indonesia.
 
Kemudian jika dilihat dari sisi kredit umkm itu tumbuh sebesar 8,10%, pertumbuhan ini sejalan dengan inisiatif pemerintah untuk mempertahankan suku bunga fasilitas kredit di angka 6,75%. "Meskipun begitu, sayangnya sampai saat ini penyaluran kredit baru 19 hingga 20 persen dari total kredit bank umum sementara jika dibandingkan dengan negara China atau Jepang yang sudah mencapai 65 persen. Tentunya hal ini sangatlah tertinggal dengan kedua negara tersebut," paparnya.

Dalam perkembangannya saat ini, lanjut Etika, UMKM selalu menghadapi hambatan dalam akses kredit, bahkan di Asia Tenggara rata-rata  sekitar 60% UMKM alami kesulitan mendapatkan pembiayaan. Upaya untuk menghilangkan hambatan tersebut selalu digencarkan oleh perbankan terutama dalam biaya akses kredit. Dimana diantaranya yakni upaya digitalisasi untuk mempermudah dan mempercepat proses permohonan dan kredit umkm dalam proses dan waktu efektifitasnya.

"Kemudian alasan lainnya menyoroti pentingnya penyaluran kredit yang lebih luas dan memperhatikan risiko agar tidak berdampak kepada stabilitas sistem keuangan, namun dari segi umkm menyatakan penyaluran kredit itu masih dalam tahap pemulihan pasca covid, jadi perlu ada perbaikan dari sisi sektor Riil," paparnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.