Bitcoin ATH ke USD63.000, Mampukah Tembus USD64.000 Setara Rp1 Milliar?

AKURAT.CO Bitcoin (BTC) berhasil menembus angka USD63.000 atau sekitar Rp989 juta pada hari Rabu (28/2) malam, level tertinggi atau All Time Hight (ATH) yang belum pernah terlihat sejak November 2021. Kenaikan Bitcoin ke USD63.000 didorong oleh kenaikan harga sebesar 42% di bulan Februari, menjadikannya kenaikan bulanan terbesar sejak Desember 2020.
Namun, aksi harga Bitcoin yang meroket signifikan memicu likuidasi kripto senilai hampir USD700 juta selama 24 jam terakhir, alhasil BTC kembali anjlok 7% dari level tertinggi USD63.734 ke kisaran USD61.300. Aksi jual bergema di seluruh pasar aset kripto.
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur melihat penurunan harga BTC dari all-time high (ATH)
terbarunya itu disebabkan oleh investor yang mulai aksi taking profit atau ambil untung. Di sisi lain, dari analisis teknikal menunjukkan bahwa BTC telah masuk ke dalam wilayah overbought, yang berarti ada potensi untuk koreksi harga. Tekanan jual semakin meningkat seiring dengan harga mencapai level tertinggi di USD64.000.
Baca Juga: Menilik Langkah Bitcoin di Tahun Baru Imlek 2024, Cuan Atau Zonk?
"Penurunan harga BTC dari level ATH terbarunya disebabkan oleh fenomena yang lumrah dalam pasar kripto, yaitu aksi taking profit dari para investor. Kenaikan yang signifikan seperti yang kita saksikan belakangan ini seringkali diikuti oleh fase koreksi, dan hal ini tidak terkecuali bagi Bitcoin. Namun, ini juga bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk membeli kembali Bitcoin saat harga turun, mengingat potensi jangka panjangnya yang tetap kuat," jelas Fyqieh dikutip Kamis (29/2/2024).
Aksi harga Bitcoin yang meroket juga membawa rekor volume perdagangan untuk ETF BTC spot yang terdaftar di AS. IBIT BlackRock mencatat USD3,3 miliar saham diperdagangkan, lebih dari dua kali lipat hari pemecahan rekor pada hari Rabu (28/2). ETF Bitcoin raih rekor ATH volume harian sebesar USD2,6 miliar.
"Masuknya modal ke pasar karena ETF Bitcoin spot AS yang baru-baru ini disetujui telah memainkan peran penting dalam memicu lonjakan ini. Kenaikan pesat ini telah menghidupkan kembali ingatan akan pasar bullish kripto yang mendorong token ke rekor puncaknya hampir USD69.000 pada November 2021, karena investor terkena FOMO untuk tertinggal pada kenaikan harga lebih lanjut," ujar Fyqieh.
Crypto Fear and Greed Index yang merupakan indikator utama psikologi investor, melonjak
menjadi 82, menandakan "Extreme Greed" dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari
setahun. "Meskipun level tersebut sering kali mendahului koreksi pasar, level tersebut juga
menunjukkan peningkatan selera terhadap risiko dan investasi spekulatif," ujarnya.
Lebih lanjut menurut Fyqieh, para pelaku pasar secara strategis telah memasuki pasar Bitcoin menjelang peristiwa halving yang dijadwalkan pada bulan April. Proses halving, yang dirancang untuk memperlambat tekanan jual BTC, secara historis memicu reli harga yang signifikan.
Pada saat yang sama, kemungkinan penurunan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang telah meningkatkan minat investor terhadap aset-aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dan lebih fluktuatif, sehingga semakin mendukung pergerakan naik Bitcoin.
Analisa Teknikal
Melihat analisis teknikal, saat ini kemungkinan koreksi juga masih bisa terjadi karena secara
garis besar, apresiasi harga sudah mulai terlihat jenuh. Walau begitu dalam jangka pendek, Bitcoin masih dalam kondisi bullish dan berpotensi untuk melanjutkan kenaikan.
Namun, belum ada konfirmasi untuk mencapai harga USD64.000 atau Rp1 miliar. Hal ini terlihat dari penolakan harga Bitcoin dari level USD63.860. Bitcoin mungkin perlu mengalami koreksi, karena RSI (Relative Strength Index) berada dalam kondisi overbought dan menunjukkan potensi untuk koreksi.
Penurunan di bawah level USD60.000 akan membawa level dukungan USD58.000 ke dalamnya. Data aliran pasar ETF BTC spot tetap menjadi titik fokus. Namun melihat siklus arus masuk ETF terus mendorong harga BTC naik, ada kemungkinan BTC ke daerah USD63.000-USD65.000 dalam waktu dekat.
Investor Kripto
Sementara itu Bappebti mencatat pertumbuhan jumlah investor kripto Ri per Januari 2024, yang tembus 18,83 juta orang atau naik 1,73% dibandingkan dengan Desember 2023 yang
sebanyak 18,51 juta orang. Jika dibandingkan setahun lalu, pertumbuhan investor kripto
tercatat mencapai 11,7% dari 16,86 juta orang pada Januari 2023.
Dari sisi nilai transaksi, mencapai Rp21,57 triliun pada Januari 2024, turun 20,8% dibandingkan dengan Desember 2023 yang sebesar Rp27,25 triliun. Namun dibanding posisi setahun sebelumnya yang senilai Rp12,14 triliun, nilai transaksi kripto masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 77,7%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










